Hai Kamu! Aku Menggila Karenamu! | Your Favorite Devil's Advocate
poem

Hai Kamu! Aku Menggila Karenamu!

Rabu, Februari 27, 2013

Tidak. Aku tidak dengan bodohnya sengaja menyandungkan kakiku untuk jatuh di tempat itu. Bahkan aku pun tak pernah sedikit pun berpikir untuk jatuh lagi. Namun kembali pada rasaku yang begitu enggan untuk kukendalikan. Si-pemberontak-kecil itu mulai membara pada tempat yang tak seharusnya. Aku tau ini adalah sebuah kesalahan. Aku ingin melangkah mundur dengan pasti, namun entah si-pemberontak-kecil itu tak mau mengikuti inginku.


Berada di tempat itu, tempat yang sungguh amat sangat asing bagiku. Rasaku akan sesuatu yang telah lama hilang itu muncul lagi. Aku belum siap untuk mematahkannya lagi. Aku begitu bodoh untuk memilih. Aku hanya diam dan menanti.

Harapku pada waktu yang tak henti bergulir, semoga kamu dapat menjawab rasaku akan tempat asing itu. Aku mau jatuh, tapi aku enggan untuk patah. Bodoh bukan? Tamparan itu belum cukup untukku, aku mulai menggila lagi dengan rasaku. Kini, aku merasa seperti orang dengan tingkat kewarasan paling rendah. Sungguh, ini kegilaan kedua dalam hidupku.

Tempat asing itu membelaiku dengan kesejukannya. Nuansa senja di sana merangkulku untuk tetap tinggal dan terlelap sepanjang malam. Aku dan rasaku terhanyut terbawa simfoni kerinduan akan cinta. Cinta yang tak terungkap, cinta akan sebuah perbedaan. Aku takut, takut terhanyut lebih jauh lagi.

***

Hai kamu yang di sana! Mungkin kamu tak akan pernah meluangkan waktumu untuk singgah pada dunia kecilku ini. Namun aku ingin menuliskan sesuatu untukmu. Ya, untuk kamu yang baru saja mengisi kekosongan dalam diriku. Apa kamu tau? Rasanya berada di tengah ketakutan dan kebahagiaan itu sungguh sulit. Huh! Jika aku sanggup menangis, aku akan menangis. Jujur, aku sendiri tak mengerti. Terlalu bahagia untuk menangis tapi terlalu sakit pula untuk tersenyum.

Bukan hal yang penting tentang rasaku ke kamu. Aku hanya sanggup menitipkan doa pada malam, agar kamu tetaplah kamu. Kamu yang kukagumi dengan apa adanya kamu. Kamu yang.....

*sudah tak sanggup, sakit*

Hai kamu! Terima kasih untuk menyempatkan diri hadir di hidupku. Aku sudah move on karenamu :)

You Might Also Like

0 komentar

Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai. - Pramoedya Ananta Toer