Kok Kamu Gak Follow Back Saya, Sih? | Your Favorite Devil's Advocate
personal

Kok Kamu Gak Follow Back Saya, Sih?

Jumat, September 08, 2017

Kok Kamu Gak Follow Back Saya, Sih?
Sumber gambar: inberg.com, diedit oleh Ilham

“Mbak @Pertiwi Yuliana kok saya belum di-followback, ya?”

“Di aku juga enggak, @Pertiwi Yuliana.”

“Saya sudah lama follow @Pertiwi Yuliana, sampai sekarang belum di-followback.”

“Sepertinya hits sekali Mbak @Pertiwi Yuliana ini.”

Terima kasih banyak, Kakak-kakak sekalian. Akhirnya setelah sekian lama menjadi narablog, saya baru tahu kalau saya sudah hits (sekali). Lelah menulis bertahun-tahun, hits hanya dengan cara tidak mem-followback akun-akun narablog lain yang isinya tidak sesuai dengan pribadi saya. Sungguh suatu cara menjadi hits yang tidak keren sama sekali. Terus ngapain nulis panjang-panjang sekian lama? Hahaha.

Media sosial memang membuat segalanya menjadi tampak instan. Eh, atau cara berpikir kita yang kependekan?

***

Seperti yang sudah seringkali saya tuliskan, saya bermula dari bibit cita-cita seorang anak perempuan kelas enam sekolah dasar yang secara tiba-tiba menemukan kegemarannya akan dunia sastra. Sejak itulah dia mengarahkan hidupnya untuk tetap di jalan yang dia inginkan. Tahun demi tahun berselang, anak perempuan itu menemukan sebuah media yang membawa tulisannya lebih banyak dibaca. Hingga anak perempuan itu menjadi….

Saya.

Saya yang sekarang. Seorang narablog yang masih belum banyak dikenal karena pribadinya yang introvert bukan buatan. Saya yang sekarang. Yang beberapa kali dicurigai menjadi penyusup di acara yang mengundang narablog karena (katanya) saya belum pernah terlihat di acara lain sebelumnya. Padahal, saya sudah mulai wara-wiri di acara yang mengundang narablog sejak tahun 2014. Tidak apa-apa, saya memang tidak mengidam-idamkan untuk menjadi terkenal.

Oh iya, omong-omong soal sudah wara-wiri di acara yang mengundang narablog sejak tahun 2014, saya merasakan betul bagaimana bedanya dulu dan sekarang. Saya pernah datang ke acara YOTNC 2014 sebagai seorang narablog. Tidak ada kewajiban membuat tweet hingga trending topic, tidak ada kewajiban unggah gambar ke instagram, tidak ada kewajiban menulis di blog, tidak mendapat uang pengganti transportasi, bahkan tidak mendapatkan goodie bag. Hanya bisa masuk ke venue acara secara gratis saja. Namun, saya senang. Karena saya menyukainya. Jarak tempuh yang jauh pun bukan menjadi halangan.

Sementara sekarang, dengan semakin riuhnya dunia blog beserta segala dramanya, saya merasa kesenangan itu mulai hilang. Bukan karena banyaknya kewajiban yang harus dikerjakan oleh seorang narablog ketika datang di suatu acara, ya. Saya rasa hal tersebut masih sesuai dengan apa yang didapat oleh narablog setelahnya. Namun ini perihal kebijakan mengelola media yang digunakan. Entah, saya merasa masih banyak—sangat banyak, bahkan—mereka yang belum memahami kerja media yang digunakannya.

Selain blog, ternyata pundi-pundi rupiah juga bisa datang dari media sosial yang dikelola oleh narablog. Menyenangkan? Jelas. Saya juga termasuk salah satu yang menikmatinya, walaupun di sisi lain saya pun merasakan keresahan yang dirasakan oleh Om Andhika. Namun, seringkali pihak brand atau agency membuat persyaratan dengan minimal jumlah pengikut tertentu untuk bisa mengikuti suatu acara. Inilah gong lunturnya gerak dan kesenangan saya. Ketidaknyamanan dimulai dari kalimat-kalimat yang mengawali tulisan yang sedang kalian baca.

Teguran untuk saya.

Tahun 2012-2013 lalu, saya sempat mengikuti sebuah komunitas sekolah alternatif dengan posisi sebagai jurnalis. Saya beruntung, saya dipertemukan dengan banyak orang-orang hebat yang membuat saya sangat banyak belajar. Saya sebagai anak bau kencur yang baru lulus SMA dan menjadi salah satu yang paling muda di sana saat itu dibanjiri begitu banyak pengetahuan. Mulai dari pendidikan, politik, dan berbagai macam hal tentang dunia. Termasuk dunia maya.

Posisi saya sebagai jurnalis mengharuskan saya untuk lebih aktif di media sosial untuk menyebarkan apa yang saya tulis. Agar keberadaan sekolah alternatif dan anak-anak di daerah sengketa itu bisa lebih dilirik. Namun sayangnya, saya masih belum paham betul bagaimana menggunakan media yang saya miliki dengan bijak. Saya seringkali mengisinya dengan curhatan ala anak remaja yang sering galau, main no mention sindir-sindiran sama teman, menulis apa saja yang saya alami tanpa filter karena merasa itu adalah hak milik saya sepenuhnya.

Ternyata saya salah. Saya mendapat teguran keras dari kakak promotor yang bertindak sebagai koordinator jurnalis, fotografer, dan videografer di komunitas itu. Tidak tanggung-tanggung, beliau menyebut saya alay karena perlakuan saya di media sosial dalam sebuah surel yang sangat panjang yang ditujukan kepada saya dan segenap pengurus komunitas. Saya terpukul, saya sedih, saya minder. Namun, saya tau saya salah.

Sejak saat itu, saya berusaha untuk sangat memilah apa yang saya bagikan di media sosial. Saya tidak ingin lagi membagikan kehidupan saya pribadi secara terang-terangan. Dan saya, berusaha hanya mengikuti akun-akun yang sepaham. Agar saya tidak tertarik kembali ke masa lalu ketika saya dibilang alay. Agar saya tidak kepo atau sampai ikut campur dengan urusan orang lain yang bukan hak saya. Agar saya bisa lebih menjaga hati dan pikiran saya. 

Prinsip dan keputusan.

Dua hari yang lalu, sebuah grup narablog ramai berdiskusi soal apa yang dilontarkan Om Andhika di dalam tulisannya. Saya mengamini, sebab saya pun merasa demikian. Lalu kemarin, beberapa orang di sebuah grup acara yang berisi puluhan narablog menandai nama saya sebagai orang yang tidak mem-followback mereka. Ini bukan hanya sekali terjadi. Mungkin, saya tampak angkuh, sombong, atau berkepribadian tidak baik karena seperti enggan menjalin silaturahmi dengan sesama narablog. Namun, hey, ini tidak seburuk yang kalian pikirkan.

Saya tidak ingin membuat pembelaan atas apa yang saya lakukan. Hanya sebuah klarifikasi sederhana yang mungkin bisa membuat kalian sadar. Ini hak masing-masing mau dianggap pembelaan atau apa. Hanya saja, saya ingin meminta izin menjabarkan prinsip dan keputusan yang saya ambil dalam bermedia sosial.

Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, permintaan jumlah pengikut tertentu dari pihak brand atau agency terhadap narablog untuk mengikuti sebuah acara ini adalah gong yang mengawali lunturnya gerak dan kesenangan saya di dunia maya. Saya berkeyakinan bahwa media sosial digunakan untuk mengikuti apa yang menjadi minat saya. Sebab katanya: follow your interests. Jadi, kalau saya tidak mem-follow kamu, bukan berarti saya tidak mau berteman dengan kamu. Saya hanya tidak tertarik dengan konten yang kamu sajikan di media sosial kamu.

Beberapa orang sempat bilang kepada saya bahwa ke depannya nanti, saya akan "ditandai". Sebab, rata-rata narablog tersebut adalah agen endorse. Mungkin, saya akan jarang atau malah tidak mendapat job lagi. Mungkin. Karena katanya, dunia narablog bukan tebang pilih walaupun memilih adalah hak masing-masing. Tak apa, saya memilih sepakat untuk tidak sepakat dengan yang berpikir demikian.

Lagipula, soal rezeki sudah ada yang mengatur. Kalaupun bukan dari sini, saya percaya Tuhan telah menyiapkan jalan lain. Berprasangka baik sajalah dulu sama Sang Pencipta. Saya lebih percaya pada-Nya daripada mulut (atau jempol) manusia.

Jangan hanya minta followback, tapi perbaiki konten.

Program saling follow diberlakukan di berbagai komunitas narablog untuk meningkatkan jumlah pengikut di media sosial masing-masing. Katanya, tidak ada ruginya membantu kawan sesama narablog untuk naik. Saya setuju dengan saling bantu tersebut, tapi bukankah akan lebih baik jika bantulah juga pengikut atau calon pengikutmu agar mereka bisa mendapatkan konten yang baik dan menyenangkan?

Di Twitter, kalau isinya hanya tautan blogpost terbaru dan tagar-tagar saat acara atau menjadi buzzer, bagaimana mau bersilaturahmi? Spam yang ada, sih. Di Instagram, kalau foto yang diunggah hanya asal jepret, asal ada tagar, atau asal memenuhi persyaratan dalam acara ya apa yang mau dinikmati? Padahal adanya Instagram bagi saya pribadi adalah untuk memanjakan mata dan menguak darah seni yang terpendam. Kalau yang seliweran foto asal jepret saja…. Ehehehe.

Tolong jangan tersinggung lebih dulu, ya. Narablog kan sejatinya para pembuat konten. Jadi, saya rasa keresahan saya ini juga perlu untuk disampaikan. Semoga bisa diterima dengan baik tanpa menyindir di media sosial masing-masing sebagai reaksi dari tulisan ini. Tolonglah, saya lelah baca sindir-sindiran di mana-mana dalam lingkaran narablog ini hahaha. Mari sama-sama kita kembalikan kenyamanan dan kesenangan dalam lingkup blog. Meminimalisasi saling sindir atau saling sikut kan lebih baik.

Yakinlah bahwa konten yang bagus akan mendatangkan banyak pengikut. Tidak perlu ribet minta followback juga pasti akan dengan senang hati di-follow. Saya tidak ingin misuh-misuh sendiri karena sebal melihat isi timeline yang tidak apik karena akun-akun yang tidak bijak menggunakan media sosialnya. Sederhana, kan? Daripada saya mengikuti kamu hanya beberapa saat saja, lalu tidak mengikutinya lagi seperti punggawa salah satu komunitas narablog yang ingin menaikkan jumlah pengikut itu, tuh.

Jangan terlalu bawa perasaanlah. Profesional sedikit. Content is a king.

Oh iya, saya memiliki perhatian khusus kepada akun Instagram saya dalam waktu beberapa bulan terakhir. Boleh dibilang, akun-akun yang saya ikuti di platform itu bisa dibagi menjadi dua kubu besar: narablog dan teman-teman yang mencintai kesenian. Lalu, apa poinnya? Apa perbedaannya?

Begini, kebanyakan akun-akun narablog memiliki jumlah pengikut yang lebih banyak daripada teman-teman pencinta kesenian ini. Namun, foto yang diunggah oleh teman-teman pencinta kesenian ini selalu jauh sekali lebih banyak mendapat respon, baik like maupun komentar. Lucu? Awalnya saya pikir, ini aneh. Namun kemudian, saya menyadari bahwa mereka berada di fokus yang berbeda.

Para narablog dengan jumlah pengikut, sedangkan teman-teman pencinta kesenian dengan kualitas karya. Saya memilih untuk menjadi sama dengan yang kedua. Buat apa pengikut banyak tapi engagement rendah?

Apakah saya tidak memiliki kepribadian yang baik?

Jika setelah membaca jabaran saya di atas saya masih dianggap memiliki kepribadian yang buruk karena tidak mem-followback akun kalian, saya terima. Namun, tunggu, setidaknya saya tidak main sindir-sindiran di media sosial atau seenaknya ngomongin di grup chat tanpa tau alasan sebenarnya. Jangan fokus pada kenapa orang lain begini begitu, coba kembali pada diri sendiri dahulu.

Jadi, siapa yang kepribadiannya tidak baik?










Tabik!



Pertiwi

You Might Also Like

76 komentar

  1. Anjirrrr kerasss inii :-))) | PERLU LEBIH BANYAK LAGI YANG NULIS GINIAN

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulis lagi, Om wkwkwk terima kasih awalannya :)

      Hapus
  2. Sebuwah kedjujuran! Postigan seperti ini yang mungkin sudah jarang aku temuin. Belakangan yang aku temui banyak adalah yang manis-manis di tulisan blognya untuk mempertahankan niche atau agar dilirik para pemberi job semata. Sungguh pencitraan yang saistemik. Semangat ngeblog terus, ya. Suka sekali sama caramu berdiri dengan prinsip.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ehehehe thanks for always support me.

      Hapus
  3. gue masih nulis curhatan sih.. gapapa alay juga, toh gue masih menikmati. haha. masalah sindir2an.. gue salah satu orang yg bodo amat jikalau ada yg nyindir, toh gak rugi2 amat lah. biar mereka sibuk sendiri aja. :)

    perihal follow2an.. itu memang bener, kadang kita pengen difollow, tapi konten yg disajikan malah bikin risih, makanya gue gak banyak tuh "konten spam" yg bikin risih. 😅

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konten lu masih bagus makanya gue follow wkwkwk

      Nah tau kan yang gue rasain hhh. Sayangnya pada gak nyadar, nyindir aja terus bukannya banyak ibadah.

      Hapus
  4. Saya rasa Anda perlu berteman dengan lebih banyak blogger. Terutama blogger yang sudah malang-melintang di dunia blog selama lebih dari 10 tahun. Blogger jenis ini tidak peduli siapa yang tidak follow back mereka. Mereka tidak memperlakukan blog mereka seperti etalase minimarket. Mereka juga tidak main sugar coating di tulisan mereka. Tetapi pageview mereka 10.000-an lebih per bulannya. Dan mereka lebih peduli itu daripada follower mereka yang cuma 3 digit angka. Dan brand besar masih lebih peduli blogger-blogger yang beginian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Intinya, mereka yang ribet sama soal follow-follow itu blogger baru ya, Mbak? Ehehehe.

      Iya sih aku udah lama aktif di warung blogger yang anggotanya banyak sepuh juga selo selo banget.

      Hapus
  5. Apalah daya aku ini netizen yg menggunakan social media apa adanya tak peduli konten. Mungkin karna aku belum seperti ka tiw yg memang punya tujuan dan guna lain dalam bermedia sosial. Aku juga tipe murah follow dan like apapun hal yg lewat di depan mata. Tapi tipe murah unfoll dan block juga untuk sesuatu yg dirasa sudah terlalu mengganggu. Menurutku follow atau tidak seseorang di media sosial itu hak pribadi sih, tidak harus dipeributkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang menyadari hal ini apakah hanya generasi millenial? Hahaha. Menyadari gimana pake socmed, I mean.

      Adibah sketcher idolaku.

      Hapus
  6. Nah, akupun kadang begitu, lebih menunda atau tidak folbek kalo isi dr postingannya ga menarik mataku. Justru aku follow org lain yg bukan blogger ga hits jg, tp postingan sosmednya emang perlu aku liat biar ada inspirasi hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku ada difollow orang yang gak aku kenal sama sekali, bukan blogger juga kayaknya, tapi foto-fotonya bagus. Dia gak minta follow back langsung aku follow balik. Semudah itu padahal. Content is a king.

      Hapus
  7. Selama akun socmed sendiri, bebas aja sih kak, mau follow ataupun engga.


    Ya resikonya paling tawaran kerjaan dari brand dan agency berkurang. Kalau gak sesuai dengan pendirian, ya mau dikata apa.


    Tetap konsisten ya kak, lanjutkan!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kemarinan juga ada yang bilang ke aku begini. Nanti aku update tulisan ini ah nambahin pandangan soal ini.

      Hapus
  8. Somehow, yang sudah terpapar komersialisasi jadinya ya begitu~ aku masih berharap bloggers benar-benar menyediakan konten yang bagus. Tapi kalau dari kacamata agensi, ada yang namanya ROI, sebelum 'membeli jasa' seorang influencer, pastilah ada ukuran yang jadi standar untuk melihat apakah dia pantas dipakein iklan, apakah nanti ada hasil penjualan/engagement kalau pasang di dia? Sayang, karena banyak dikomersialisasi, yang followernya tinggi belum tentu punya ROI yang bagus.

    Aku setuju berat sama Tiwi, soal follower, perbaiki kontennya, bikin sesuatu yang benar-benar dinikmati pembaca/follower. Sehingga tingkat influensi seorang blogger itu bukan angka semata, brand/ahensi pun senang bekerja sama.

    duh maap, kok panjang XD

    BalasHapus
  9. Aku sih kuusahakan folbek teman-teman yang follow aku. Kecuali kontennya benar2 meresahkan seperti hoax atau sara..terserah masing-masing orang sih, ngga baper..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting mah gak baper emang. Gak difollow back tinggal unfollow doang padahal. Repot amat ngomongin sana-sini wkwkwk lagian aku gak minta difollow. Cuma ngelist buat data.

      Hapus
  10. Jadi, kamu followback aku nggak wi? Hahaha.

    Anyway, suka sama cara penyampaianmu yang sederhana. Aku juga suka males follow akun yang isinya spam doang. Karena selain mengganggu, ya nggak ada faedahnya buat aku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebetulnya perihalnya pun sederhana. Maka buat dijadikan kerumitan yang menyita tenaga? Aku gak seselo itu, masih harus banyak ngerjain hal lain wkwk.

      Followlah, kembaran~

      Hapus
  11. Artikel yang menohok...Kadang itu dijadiin bercandaan. Tapi suka ada yang jadi serius. Padahal kalau di folback lalu nggak cocok lalu di unfol akhirnya sama saja. Nggak kok. Nggak minta difollow back mba hahaha salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, ya :)

      Iya suka jadi candaan kalo sama yang sepantaran hahaha yang serius-serius soal gituan biasanya yang...

      Ya gitu deh. Itu kalo di lingkaran yang aku tau.

      Hapus
  12. aku termasuk yang jarang ngefollow orang. tapi kalau pas follow dia nggak folbek yang nggak protes juga. balik ke masing-masing orang aja kali ya, kalau dia menikmati dunia ke'alay'annya ya itu urusan dia. dan kalau kita milih nggak ikut-ikutan alay ya tinggal masa bodoh aja ama anggapan-anggapan yang mencuat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya padahal tinggal unfollow. Pake pada ribet di grup, heran wkwk.

      Untung aku kalem anaknya. Kalem sama bodo amatan beda tipis sih emang.

      Hapus
  13. Aku orang yg kalok ngefollow gak difollback ya gak papa. Tapi kalok ada orang follow dan kalo dia blogger meski gak kenal, aku follback. Wkwkwk. 😂😂😂

    Tapi kemaren unfollow besar-besaran sik karena banyak akun temen yg dihack trus malah jadi akun gak jelas ._.

    Kalok emang itu prinsipmu, ya uda gak papa, Tiw. Toh tiap orang punya rules sendiri.

    Terkadang orang emang ada yg prinsipnya take and give, tapi gak sikit kok yg give and give 😁

    Oh ya, mengenai banyaknya ahenxi yg patokin influencer sekian follower en sekian pageview, syarat mutlak ya? Akhir-akhir ini aku banyak dapet job yg begitu, tapi sebagai blogger curhat rasanya kumasih belom mau menodai keperawanan blogku dengan begituan. Bahahah 😂😂😂 *songongdetected

    Yah sekali lagi, tiap orang punya prinsip berbeda 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biarkan blogmu tetap perawan aja, Kak Beb. Dunia job blogger suka riweh bwahaha.

      Yash. Tiap orang punya prinsip dan gak pantas aja ngebully prinsip orang dengan cara demikian. Mungkin mereka gak sadar kalau apa yang mereka lakukan termasuk ke ranah bullying. Bully verbal.

      Hapus
  14. Sebagai blogger yang mengandalkan ide yang datangnya kayak nungguin salju di indonesia qu bisa apa 😂😂😂😂😂. . Wi kamu gak folbek aku yaaa???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak. Aku gak followback twitter kamu bhahahak tapi instagram masih aku follow.

      Tapi kita masih sayang-sayangan walaupun twittermu gak aku follow.

      Hapus
  15. Sampai sekarang ku masih nyaman buat bikin konten yg berisi curhatan. Untuk job sekarang lebih di perhatiin lagi. Kalau nggak sesuai interest, kutolak tapi kalau sesuai interest, bisa terima bisa enggak. Hehehe.

    Untuk sosmed, kalau kenal pasti ku follback. Tapi kalau nggak kenal, ya, enggak di follback😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Konten-konten lo masih bagus, Za. Baik blog maupun socmed. Masih layak, sangat layak buat dapat follow.

      Hapus
  16. Kalau di Blogosphere aku jarang follback karena aku pemilih, beberapa tulisan yang aku suka aku follow.

    Kalau di media sosial, aku memfollback teman-teman yangvaku kenal, cuma terkadang suka sakit hati karena teman- teman yang baru kenalan di komunitas atau grup wa, selalu menng unfollow setelah beberapa hari di follow, padshal kita udah janji saling follow. Uuhhh, kadang kesel juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan, drpd aku begitu mending dari awal gak aku follow. Lagian akutu gak minta follow ya ampun wkwkwk

      Hapus
  17. Bener sih, sebisa mungkin untuk IG, membuat konten yg sebaik mungkin walaupun itu merupakan bagian dari sebuah event atau endorse-an.

    Dan kemudian jadi kepo, siapakah sang Punggawa yang dimaksud? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak akan sebut merek di sini, Mas Timo hahaha

      Hapus
  18. Alasan yg cukup diterima. Idealisme datang dari super-ego cukup beralasan. Saya sbg pribadi menghargainya.

    BalasHapus
  19. Cadassssss!!
    Hal-hal kek gini sebenarnya dulu juga meresahkan, tapi dulu embel-embelnya orang yang pengen jadi selebtwit, sekarang lebih ke memenuhi syarat dari agensi agar bisa dapat job. kesian juga sih...

    Gak bohong, kadang saya juga pengen ikutan arus-arus ini... tapi ya emang karena lagi males jadi gak terlalu peduliin. Kangen juga baca tulisan-tulisan keresahan dari bloger, bukan tulisan pesanan. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kangen kan, Er? Hayok mana tulisan keresahan kamu? Wkwkwk

      Hapus
  20. hahahah, ngejleb banget untuk anak anak sekarang ni postingan mbak

    BalasHapus
  21. Aku masih lemah kalo ada yang follow terus di bionya tertulis 'blogger', langsung ku folbek =(

    BalasHapus
  22. Huahaha banci followers ya

    Aku juga lagi munafik sih, lagi nyari followers, buat job blog, you know laaaaah
    Kalo dia gak folbek, ya udah. Suantai. Suatu hari pasti kuunfollow. Kan ada appsnya tuh. Hahahaa
    Sama juga, kalo kontennya jelek, bukan teman, bukan blogger, ya kuunfollow juga
    Hmmm cukup sadislah mainan ig

    Aku pribadi sih, juga lagi kangen blog jaman dulu yang tujuan utamanya murni silaturahim

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga pengin followers banyak, makanya berusaha bikin konten yang bagus dan bisa dinikmati banyak orang. Gitu aja. Bukan asal minta follow balik tapi kontennya jelek. Wkwk.

      Tulis juga dong yang ginian kalo gitu :)

      Hapus
  23. Ini judulnya pas banget sama yang aku rasain.
    Kalo aku, siapa yang aku follow memang pilah-pilih siih...tapi selama ia blogger dengan kepribadian baik, boleeh laah...

    **saya mah orangnya tipikal ga enakan.
    Hiiks~~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga tadinya gak enakan, ini lagi belajar kejam aja biar para content creator lebih peduli sama kontennya. :)

      Hapus
  24. SERATUS PERSEN SETUJU!! Jujur sih, aku sempat kasihan juga sih kalo ada orang yang minta followback, tapi tidak aku ladeni. Sebenarnya memang csra terbaik untuk memperoleh follower itu ya dengan perbaiki konten media kita. Tidak ada orang yang mau follow kita cuna lihat postingan baper (yak, sindiran pedas untukku sendiri). This is a good motivation for me right now.

    BalasHapus
  25. Sosmed ku isinya masih banyak curhatan lgi mbak heheheee..piyeeee piyeeee 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya gak apa-apa, tapi aku gak follow wqwq

      Hapus
  26. Konten masih kurang memadai terus ada yang follow dan minta follow back rasanya gimana gitu kan.

    Tidak enak banget deh ya mungkin banyak yang mengira kita sombomg setuju banget nih padahal kita tidak seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya gak difollow balik bukannya mikir kenapa malah bilang orang lain sombong. Pendek betul pikirannya nah.

      Hapus
  27. Jadi ingat, dulu setiap ke acara blogger seneng banget, karena apa? karena dapat teman baru.

    Terkadang senang juga bisa ketemu orang yg selama ini ngobrolnya di dunia maya aja.

    Btw, aku jga pernah ngalamin masalah follow back. Aku baru sekali ikutan saling follow, eh tiba2 dibilang curang gara2 gak follow dia. Wkwkwk nanti aku cerita di blogpost juga deh!

    BalasHapus
  28. Klu sy hobi banget follow orang hahaha
    Yg follow sy juga cepat supaya follback
    Paling yg sy Block jika isinya banyak nyampah
    Banyak hal negatif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah jarang nge-block orang hahaha

      Hapus
  29. Jarang Ngetwit jarang buka twitter. Kadang folbeknya lama. Asal sesama blogger, bukan akun jualan dan bukan akun fake, aku folbek saja. Tak pernah muncul di linimasa juga. Tapi tak pernah galau jika tidak difolbek atau diunfol ketika sudah folbek. secara berkala kuteliti satu per satu. yg unfol kuunfol balik. yg follow kufolbek. as simple as that.
    tapi bagaimana pun, I fell you. Tak ada yg boleh menggeneralisasi apa yang seharusnya diperbuat narablog. itu hak kita untuk berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Susi, emak blogger bijak idolaku!

      Hapus
  30. Jangan hanya minta folback, tapi perbaiki konten. --> ini bener banget.

    Aku juga suka kesel ketika dipaksa folbek padahal enggak nyaman dengan kontennya. Dipaksa ngelike (dgn alasan utk campaign) tapi konten fotonya enggak menarik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bete kan, Mbak? Bete, kan? Bete pasti.

      Hapus
  31. Terus terang saya jg nyari follower utk job blog, tapi kalau yg bersangkutan gak mau folbek yawda. Kalau akunnya menarik tetep saya follow, kalau sekiranya gak, yowes unfol aja. Emang masing2 tu punay kepentingan sndiri sih punya medsos hehe

    Btw soal perbaiki konten tu bener bangte, org kan follow kita jg ada alasannya, kalau konten bagus ya pasti banyak yg sukarela follow TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kalo menarik mah gak usah follow unfoll follow unfoll follow terus juga pasti follow balik.

      Hapus
  32. Polos banget pembahasannya. Seadanya tanpa harus nambah2 yg tidak penting.
    Mantap..... Aku sangat suka yg beginian.

    BalasHapus
  33. Di twitter aku follow "hanya" 900an difollow 4000an. Artinya 3/4 followers yg iklas aja tanpa harus mnta folbek kaka. Wlopun klo dicolek mnta follow ya aku folow sih. Simpel2 aja. Untungnya yg 4000an ini santai2 aja. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku gak suka colek-colekan anaknya, apalagi kalo sama yang bukan muhrim.

      Hapus
  34. Setiap orang punya haknya masing-masing kok mau memilih seperti apa. Punya kebebasan untuk mem-follow dan tidak mem-follow siapa. Daripada ribut koar-koar aku lebih senang diam-diam men-unfollow balik.
    Btw, aku harus senang dong difollow Tiwi, artinya konten aku lumayanlah ya.... ehehehe

    BalasHapus
  35. perihal follback, terkadang tatkala ada seorang yg memiliki konten "sdikit berbeda" dari saya dan dia meminta follback, biasanya sebelum saya follback, saya liat dulu bagaimana isi linimasanya, apakah alay, apakah spam, apakah bot, atau apakah menyebar kebencian, jika itu cocok maka dgn senang hati saya akan follback

    Terkadang slogan "do what you love, love what you do" masih berlaku. begitu pula soal aktivitas twitter saya yg doyan retweet kanan kiri, itu karena saya suka. suka membaca konten yang sekiranya "aku banget" , konten Bagus, informatif dsb. ini dilakukan karena saya tidak bisa tiap jam login twitter..
    jadi sekedar menjaga jarak agar saya tidak ketinggalan informasi terbaru yang lagi semarak di kalangan orang banyak..
    Dan jujur saja, saya menyukai kegiatan tersebut ^^

    ya maaf maaf saja jika linimasa terpenuhi oleh retweetan saya X)

    Dan perihal mengenai blog, saya memilih untuk mengalir saja. karena saya sekarang pun tak lagi rutin menulis di blog. lagi jarang menulis, dan tatkala menulis pun lebih suka kepada tulisan yang sesuai aliran, kalau ada sponsor ya terima saja, anggap saja sebagai variasi, ya meskipun waktu pembayaran atas jasa bisa bikin pucat pasi. gegara menunggu terlalu lama

    BalasHapus
  36. Saya termasuk gampang follow kalo itu teman sesama blogger. Tapi tetep selow kalau ada yg gak folbek atau unfollow. Gak mau pusingin hal beginian. Selama ini jarang unfollow meskipun kualitas kontennya gak banget.
    Karena nyadar sepenuhnya, kualitas kontenku juga belum bagus.
    Makanya akhir-akhir mikir betul gimana caranya bikin konten ig yg bagus meskipun sarana seadanya. Beberapa akun dg feed bagus dikepoin demi sebuah inspirasi.
    Tapi kembali lagi belum nemu yang sreg dan sesuai kondisi. Akhirnya, hanya bisa memaksimalkan upaya.
    Kalau udh diuplod ternyata gak bagus ya, dihapus.
    Hehehe, aku kerja keras banget buat ini karena urusan yang berbau seni dan keindahan agak payah.
    penginnya sih punya follower banyak tanpa diminta, pengin juga punya engangement bagus tanpa direkayasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa kok, Mbak, kalo terus belajar. Bertahap. Pelan-pelan. Aku juga masih belajar biar bikin media sosial dan blog tetap sesuai mauku, tapi rapi dan enak dilihat.

      Hapus
  37. Kebanyakan orang di media sosial lebih ngebet eksis sih mbak daripada ngeshare hal-hal yang bermanfaat. Jadi, ya gitu...

    BalasHapus
  38. Asli ini keren.
    Followers baik tau kenapa ia harus memfollow, dan sadar kenapa ia tidak di follback. ����✌

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer