TUBUHKU OTORITASKU: Melawan Simulakra Media Massa | Your Favorite Devil's Advocate
review

TUBUHKU OTORITASKU: Melawan Simulakra Media Massa

Sabtu, Desember 31, 2016

TUBUHKU OTORITASKU: Melawan Simulakra Media Massa

“Kita hidup di dalam dunia yang dibuat oleh media, lama-lama kita tidak real lagi.” – Irsyad Ridho.

Siang itu, hujan sempat menahanku lebih lama di perhentian yang tidak kuinginkan. Berada di tengah orang-orang yang sama sekali tidak kukenal. Terjebak dalam obrolan entah berantah di tengah bulir-bulir yang menghunjam kenyataan. Fokusku lenyap, bahkan untuk sekadar mendengar suara hujan.

Lagi-lagi hujan.

Ada pijak yang dipaksa untuk beranjak. Menerobos tirai-tirai bening yang jatuh dari angkasa. Menimbulkan bunyi lain serupa kecipak-kecipuk yang dipertemukan oleh Reebok Sport putih dan aspal yang basah. Mau ke mana? Menuliskan Perempuan.

Setelah nonton bareng dan diskusi film PINK, kumerasa butuh untuk datang ke acara-acara yang serupa. Untuk lebih mengenal perempuan, untuk lebih mengetahui apa yang dibutuhkan oleh perempuan, untuk lebih tanggap akan masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan, untuk lebih membuka mata dari dekapan stigma.

***

Tika and the Dissidents melalui medium yang persuasif, seperti musik, dengan berani menggalakkan hak-hak perempuan yang seringkali terpinggirkan. Kumulai mendengarkan musik Tika and the Dissidents sekitar semester lima perkuliahan dari seorang teman.

TUBUHKU OTORITASKU: Melawan Simulakra Media Massa

Ini suaraku, tubuhku, otoritasku
Yang kuteriakkan, kenakan, pilihanku
Ini untukmu sahabatku, laki-laki
Tanpa izinku kautak masuk ke wilayahku
(Hormatku lahir dari hormatmu)

Ialah Tubuhku Otoritasku, judul pertama yang melekat erat di telinga. Dari segi musik yang ditawarkan dalam lagu tersebut, kurasa Tika and the Dissidents cukup garang menampakkan emosi dari kacamata perempuan.

Otoritas tubuh perempuan.

Tubuh perempuan seutuhnya adalah hak dari perempuan itu sendiri. Mungkin, inilah yang seringkali secara sadar maupun tidak sadar menjadi suatu hal yang terpinggir. Pihak-pihak di luar perempuan—atau bahkan perempuan dari golongan tertentu—seringkali memaksa untuk membentuk perempuan secara massal.

Bukan hanya perihal pandangan dan isi kepala perempuan. Namun tubuh pun demikian.

Kokoh kakiku menopang kekuatanku
Gelap kulitku dicumbu matahari
Ini milikku untuk kubuka atau tutupi
Bukan parameter moralitas dan harga diri
(Hormatku lahir dri hormatmu)
(Cintaku lahir dari cintamu)

Lirik-lirik di atas menampakkan keberagaman perempuan dan hak yang nyata atas tubuhnya. Perbedaan warna kulit, bentuk tubuh, maupun gaya berpakaian bukanlah menjadi suatu hal yang sah untuk dijadikan perdebatan lebih lanjut.

TUBUHKU OTORITASKU: Melawan Simulakra Media Massa

Kalau ditanya, siapa ikon cantik negeri kita?

Kurasa, lebih dari 50% akan menjawab satu nama: Dian Sastro. Percaya atau tidak, hal tersebut sebenarnya hanyalah sebuah bentukan dari media. Siapa yang berperan besar dalam hal ini? Tentu saja… brand kecantikan itu sendiri.

Dari perbincangan yang kulakukan dengan seorang blogger yang kukagumi, Ilham Bachtiar, tercetuslah sebuah wacana yang mencerahkan bahwa brand melempar peluang trend untuk mengerucutkan selera masyarakat yang sulit diatur. Mengapa demikian? Ya, untuk menekan biaya produksi demi keuntungan yang melimpah. UUD. Ujung-ujungnya duit.

Hal yang demikian dibantu oleh media maka jadilah keadaan di mana hidup kita dikuasai olehnya. Berpatok pada apa yang disuguhkan oleh media, sehingga sulit untuk menemukan beda antara maya dan nyata.

Simulakra.

Ruang yang menjadi tempat meleburnya realitas dan ilusi yang diracik dengan apik sebagai sebuah akibat dari fantasi yang diduplikasi berulang-ulang dan berlipat-lipat ganda. Konsekuensinya, menurut Jean Baudrillard, kita hidup di dalam apa yang disebutnya hiperrealitas. Segala sesuatu merupakan tiruan. Tepatnya, tiruan dari tiruan. Yang palsu tampak lebih nyata dari kenyataannya.

TUBUHKU OTORITASKU: Melawan Simulakra Media Massa

“Lo kurus banget, gak pernah makan nasi, ya?”

“Coba gemukin dikit, deh.”

“Kamu jangan kebanyakan makan nanti makin gendut.”

“Item banget lo sekarang, main layangan terus ya?”

“Rambut lo kering gitu, deh, pake vitamin kek.”

“Udah coba minum susu peninggi badan, belum?”

Dan sebagainya. Dan sebagainya. Sering mendengar kalimat demikian? Kalau aku, sih, iya. Sebagai korban bully zaman SMA, jelas kalimat-kalimat demikian bukan menjadi sesuatu yang asing untukku. Kurus. Begeng. Krempeng. Kata-kata yang melekat pada masanya. Begitu berubah, dibilang sebaliknya.

Akibatnya, kuseringkali merasa tidak puas dengan tubuhku sendiri. Malas makan karena merasa terlalu gemuk dan menghilangkan kepercayaan diri. Sekalinya mau makan ya pilih-pilih, maunya makan makanan diet rendah lemak. Itu pun kalau ada yang cocok.

Body shaming.

Secara sederhana, body shaming bisa diartikan sebagai komentar atau kritikan negatif yang dilontarkan terhadap tubuh seseorang. Bukan hanya dialami oleh perempuan, sih, tapi di sini fokus ke perempuan dulu, ya. Beberapa orang yang sempat kutanya perihal body shaming mengatakan bahwa hal tersebut terjadi karena iri. Hm… iyakah?

Kembali pada simulakra yang dibuat oleh media. Ilustrasinya begini, media membentuk ikon cantik melalui nama Dian Sastro. Kemudian, sosok Dian Sastro menjadi idola. Entah dari warna kulitnya, bentuk tubuhnya, gaya rambutnya, dan sebagainya. Padahal, apakah “ya” sosok Dian Sastro mewakili perempuan Indonesia?

Jawabannya tentu saja: tidak.

Negara kita dengan segala ke-bhinneka-annya, menurutku, cukup lucu jika mematok suatu standar pada satu sosok dari golongan tertentu. Namun sayangnya, terlalu banyak orang yang tidak menyadari itu. Patuh pada gambaran media tentang kesempurnaan yang mereka coba tanamkan.

Alhasil? Body shaming merajalela.

Ketidaksesuaian kenyataan yang ada pada tubuh terhadap sederetan iklan yang menampakkan sosok rupawan seringkali membuat kita merasa tidak berharga, atau parahnya, membuat orang lain merasa tidak berharga. Jadi, apakah iri penyebabnya? Mari kembali kita pikir bersama.

“Jadi menurutku harus ada alternatif, bahwa tubuh kita bukan biang masalah. Tapi biang masalahnya adalah cara pandang masyarakat terhadap tubuh perempuan.” – Kartika Jahja.

Play it when you mean it, mother fucker!



Otoritas merupakan bagian dari tiap manusia. Namun pada kenyataannya, perempuan seringkali ditempatkan hanya sebagai objek semata. Hanya dilihat paras cantiknya. Hanya dilirik molek tubuhnya. Hanya sekadar sebagai pemanis semata. Berangkat dari situlah Tika and the Dissidents menghadirkan otoritas yang menyalahi tataran kemanusiaan sebagai sebuah bentuk interupsi dari sisi perempuan.

Di dalam video klip yang digarap sejak 2013 silam tersebut, beragam latar belakang perempuan ikut andil di dalamnya—mulai dari musisi, dosen, anggota NGO, hingga seniman—memberi warna yang apik dan sudut pandang yang menarik dalam mengatasi isu yang diangkat di dalam lagu Tubuhku Otoritasku.

Tiap perempuan di dalam video klip tersebut datang dengan kisahnya masing-masing. Bercerita melalui ekspresi wajah, gerak tubuh, maupun tulisan yang berisi seruan akan hak mereka atas tubuhnya. Selebrasi kemerdekaan mereka atas tubuhnya benar-benar tampak tanpa basa-basi atau metafora yang berbelit.

TUBUHKU OTORITASKU: Melawan Simulakra Media Massa

Perempuan-perempuanku semua
Dobrak dan rombak stigma usang mereka!

Otoritas tubuh telah menjamah bagian paling personal dalam diri perempuan. Di balik itu, jelas ada pengharapan akan lebih banyaknya orang yang mengetahui makna dan batasan otoritas itu sendiri. Dengan pemahaman yang cukup, body shaming dapat lebih mudah dihindari.

Ketajaman lirik yang penuh emosi, aransemen musik yang menggambarkan semangat untuk berontak, dan visualisasi dalam klip yang begitu nyata benar-benar membuat aku pribadi turut bangkit karenanya. Mungkin aku—atau kita—pernah dipandang sebelah mata karena tak sesempurna apa yang digambarkan media, tapi kita harus tetap sadar bahwa masing-masing dari kita dilahirkan istimewa.

Tika and the Dissidents mengajak semua orang untuk mengenal otoritas tubuhnya. Menemukan kebanggaan tersendiri akan tubuhnya, hingga tak mudah jatuh oleh celaan receh semata. Tubuhku Otoritasku menginjeksi spirit kepada kita untuk lebih berani melawan stigma.

Kamu, mau terus patuh oleh simulakra media atau mau mulai buka mata?







Salam sayang,




Pertiwi Yuliana



NB:
  • Selamat ulang tahun, Bapak! Bapak mukanya serem, jarang ngobrol sama Tiwi, tapi Tiwi tau Bapak sayang banget sama Tiwi. Terima kasih untuk kerja kerasnya selama ini, doakan tahun depan Tiwi wisuda. Sayang Bapak! :')
  • Selamat ulang tahun juga, Pak Irsyad! Terima kasih banyak sudah jadi satu-satunya dosen di kampus yang bisa saya percaya. Satu-satunya dosen yang gak bullshit sama sekali. Terima kasih untuk semua ilmu dan pencerahannya, Pak. Pertemuan dengan Bapak yang paling saya tunggu saat di kampus. Sehat selalu, Pak Irsyad! Transfer lebih banyak lagi isi kepalamu pada mahasiswa-mahasiswamu yang haus macam saya.
  • Untuk teman-teman semua yang sudah turut andil membangkitkan Tiwi pada masa-masa krisis, terima kasih banyak! Tanpa kalian, Tiwi masih gegoleran gak jelas.
  • Last but not least, Ilham Bachtiar. Terima kasih sudah menjadi senyata-nyatanya partner sekaligus rival. Terima kasih untuk semua obrolan dari yang berat sampai yang ringan, dari yang penting sampai sekadar bikin hahahihi. Kamu terbaik. Kubangga dan bahagia punya kamu. Terima kasih banyak.

You Might Also Like

78 komentar

  1. FFHHUUUAAAAAAAHHH.. SEGAAARRRR

    Bagooss, Tiwi. Bagoooss..
    Papa bangga sama kamu. Bhuahaha. Melalui tulisan ini, kupikir baik perempuan dan laki-laki sejak dini perlu dibiasakan untuk tidak mencampuri urusan tubuh orang lain. Aku mau bilang kalau tulisanmu buatku ingat dengan salah satu cerpen Tere Liye boleh, tidak? Hahahaha. Cari aja, judulnya "Bila Semua Wanita Cantik".

    Sik.. Sik.. Sik..
    Kui babagan NB tak cermati, sik. Tak cermati sambil cengar-cengir. Posisiku sing ambivalen, antara partner karo rival iki aku kudu piye? Hahahaha. Cah og gemblung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sek, sek...
      Jadi, koe ki papaku po yangku to? Muahahaha~

      Are you sure? Nyuruh aku baca Tere Liye? Bhahahak okey nanti kucari.

      Nek nang teater ki jenenge double cast, Ham. Lha koe ki ngono muahaha

      Hapus
    2. Lho, lha pripun? Kadang konotasi iku kejam weh. Hahaha. Mblung, Gemblung.. Pisan-pisan moco Tere Liye, Mblung. Tere Liye iku penulis, Mblung. Udu duren. Rasah gilo-gilo bingit ngono, ah.

      Hapus
    3. Mendayu-dayu ngono, lho, Ham. Ndak suka heu :(
      Wes tak cari ngko, cerpen tok kan? Muahaha

      Hapus
    4. Iya, saya juga lngsung inget cerpennya tere liye itu. Klo nggk salah dibukunya yg berjudul "Berjuta rasanya".

      Bdw, saya nggk paham kalian ngomongin apa...

      Hapus
    5. Yang penting paham bahwa kami saling cinta, Rey. Cukup kok. :)

      Hapus
  2. Mengapa demikian? Ya, untuk menekan biaya produksi demi keuntungan yang melimpah. UUD. Ujung-ujungnya duit.

    Kalau jawban temenku gak gitu. Dia pasti akan berkata, "Ini Indonesia, Sister!"

    Gue juga udah pede aja, sih, sekarang kurus. Paling gak gue udah merasa ganteng. Ganteng gak harus badan ideal, kan? Haha. Nanti kalau udah nikah juga berisi karena susunya cocok. Ehhh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ganteng bet sampe foto dicolongin orang-orang gak dikenal wkwkwk

      WUASSUUUU UJUNGNYA! :)))

      Hapus
    2. Ini Yoga kayaknya adminnya.

      Hapus
  3. Kacamata manusia memang selalu melihat sejadinya, lalu mengomentari hal-hal yg mereka gak suka. Atau hal-hal yg dirasa mereka benar.

    Tapi balik lagi ke diri kita sih, mau itu cowok atau cewek. Mau dengerin ceramahan orang lain atau mau dengerin apa isi sendiri?

    Maaf kalo salah ngomong.. bhaaaaak :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mesti dua-duanya, sih, kalo gue pribadi. Dengerin kritik perlu, asal dipilah dan punya pandangan yang luas. Gitu.

      Hapus
  4. Jadi secara tidak sadar media membentuk kita, ya? Mungkin bisa dilihat juga dari ungkapan "Kamu adalah apa yang kamu baca".

    BalasHapus
  5. Selesai baca ini saya lngsung dapat pengetahuan baru. Tntang apa itu simulakra dan definisi cantik yang trnyata selama ini hanya dbentuk oleh media.

    Spertinya, sejak tulisan kmu tntang film pink itu, naluri kamu untuk menulis tentang isu keperempuanan semakin tajam wi'. Saya juga smakin tertarik buat menggalinya lagi dan memahami pertanyaan2 tntang perempuan yg entah kenapa akhir2 ini selalu ada dalam pikiran saya.

    Over all. Tulisan ini meningkat dan lebih keren dari tulisan kemarin. Lanjutkan wi'!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga pengetahuan barunya bermanfaat, Rey. :)

      Kusudah lama nulis soal isu perempuan sebetulnya, tapi belum segarang akhir-akhir ini hahahak

      Punya pertanyaan apa, Rey? Siapa tau asyik buat diulas di sini ehehe.

      Terima kasih banyak, Reyhan!

      Hapus
  6. JLEB Banget ini mbak tiwi... suka banget sama tulisannya. Beberapa hal yang bikin stress kadang-kadang juga emang dari media massa kalau kita gampang terprovokasi yah.. sama beberapa saran orang juga kita harus lebh peka to.. ya nek bener dia jujur buat kebaikan lha nek malah nglulu.. :)) duh.. keep it up! menginspirasi bgt! tq


    cheers.
    www.sofiadewi.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muihihi ayuk suarakan lagi supaya makin tersebar luas. Sama-sama, ya. Terima kasih juga udah baca. :)

      Hapus
  7. Keren Tiw tulisannya. Aku juga udah baca artikelmu yg PINK. Ehh tapi komennya sekalian di sini aja ya.
    Btw, perihal perempuan, sadar gak sih kalo kita tuh kebanyakan "diatur", mulai dari harus kurus lah, biar gini lah, biar cantik lah dsb. Aku suka tulisan kamu, pandangan kamu benar" terbuka dan gak berusaha untuk judging. Ya pokoknya gitu lah. Ditunggu ya tulisan tentang perempuannya lagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya kita emang gak mestinya saling nge-judge, kan? Hehehe semoga bisa tetap netral. Aamiin.

      Siap, Kak! Tunggu aja, ya.

      Hapus
  8. Baca postingamu, bikin saya inget, pernah ngeliat perempuan kulit hitam, sepertinya orang India (Tamil). Di mata saya dia keren, meskipun kulit hitam banget. Dan sempat berkhayal gimana kalau saya sehitam dia. Hehehe..
    Mungkin itu semacam rasa menyukai yang bukan milik sendiri. Seperti rumput tetangga lebih hijau. Saya ngga minder sama dia, cuma merasa dia keren, saya tidak. Meskipun dandanan dia waktu itu juga biasa banget, cuek kayak saya.
    Saya jadi belajar, rasa percaya diri memang penting banget, untuk bisa berkata tegas dan bijak seperti lirik2 lagu tadi.
    TFS, Tiwi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perbedaan kayak gitu emang sering bikin kita banyak belajar ya, Mbak hehehe iya sama-sama, Mbak.

      Hapus
  9. wah, aku juga abis nonton PINK belum lama. sebagai perempuan, bagaimanapun kita di mata orang, tentu kita pasti selalu punya kesadaran. apa-apa yang diperlukan untuk dilakukan, apa-apa yang lebih baik dihiraukan. :D

    mau coba denger lagunya ah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepat!

      Selamat mendengarkan lagunya :)

      Hapus
  10. Tulsiannya dalem banget, Tiw.
    Aku juga korban bully, yang kemudian balik membully sebelum akhirnya tersadar dan berusaha sebisa mungkin menilai orang lain hanya dari satu sudut pandang saja. Ga cuma perempuan sih yang terkadang menjadi korban seperti ini. Laki-laku pun terkadang di stereotipkan. Mungkin sama juga, dibentuk oleh media agar berpresespsi tertentu.
    Makasih udah diingetin kembali, Tiw.
    Baca komen-komen yang ada aku jadi pengen baca bukunya Tere Liye. Cari ah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baca komen ini jadi ingat belum cari cerpen Tere Liye wahaha

      Hapus
  11. Hmm, bener juga. Ini jadi kayak Indonesia milik si rupawan aja, dong, kalau ikon cantik negeri kita Si Dian Sastro. Padahal, kita ini macam-macam rupa. Ada yg kulit putih, kulit hitam, tinggi besar, pendek, muka bulat, lonjong, kotak, segitiga #eh. Cantik memang relatif, ya Kak Tiw.

    Btw, kalau soal bully-an itu, aku lebih suka sama orang yang nge-bully tapi akhirnya ngasih solusi. Contohnya temenku, "Des, gendut banget sih? Ayok, nanti tak temenin jogging biar kurusan." Nah, yang seperti itu, walaupun kadang bikin minder juga, seenggaknya dia kasih solusi. Enggak cuma nge-bully doang.

    (Lah, mikir banget ini akunya mau komen aja :D)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih bener juga. Aku juga biasanya fine aja kalo dikritik tapi dikasih tau mesti apa :/

      Hapus
  12. Tajam sekali kata katanya. Menohok. Stigma cakep, ganteng ayu dan rupawan sudah terpatri di Indonesia. Terkadang untuk mengubahnya bukan hal yang mudah. Belum lagi tuntuntan ini itu yang berhubungan dengan interaksi sosial dan profesional.
    Kasihan orang orang yang secara genetis tidak punya keindahan seperti yang diharapkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali! Banyak perkerjaan yang memasukkan kata "good looking" dalam persyaratannya, sedangkan standar "good looking" mereka hanya itu aja. Sedih kan. :(

      Hapus
  13. Setuju mba, media memang punya andil besar dalam menciptakan suatu euforia yang terkadang berlebihan. Mungkin yang paling mudah ditemukan adalah di media sosial seperti instagram, dengan mudah orang akan terhasut khususnya kaum hawa untuk berpenampilan wah dengan dandanan berlebihan dan perlengkapan yang aduhai mahalnya. Sekilas mungkin hal biasa, namun mungkin efek sampingnya secara tidak langsung merubah paradigma seseorang untuk mendapat 'love' adalah dengan berpenampilan, bergaya dan berlibur seperti apa yang mereka lihat di akun instagram seseorang.

    BalasHapus
  14. simulakra itu apa temennya simulasi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lha ya makanya dibaca, jangan komen tok :(

      Hapus
  15. "Kita hidup di dalam dunia yang dibuat oleh media, lama-lama kita tidak real lagi.” – Irsyad Ridho.

    Saya rasa dari sini semua sudah sangat jelas, tapi karena postingan ini tidak bisa hanya beberapa kata begitu saja, maka ditambahkan dengan beberapa pendapat yang menurut saya lebih tambah menguatkan kata barusan.

    Untuk sekarang, saya juga melihat kita hidup itu kayak dikontrol oleh orang.. contohnya seperti tulisan di atas, kalau banyak yang bilang gemuk maka kita malas makan, padahal ya, nggak gitu juga..

    Ah saya nggak tau lagi deh. Huh. Tulisan yang menarik kak.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jadi kayak bonekanya media hhh.
      Terima kasih apresiasinya, ya. :)

      Hapus
  16. Aku juga kurus krempeng dan selalu di bullh 😂😂😂

    BalasHapus
  17. Dian Sastro? Kenapa enggak Pevita atau Raisa? Hehehe... Menanggapi artikel ini, sih, saya beranggapan kebebasan juga perlu aturan. Jangan takut untuk sehat. Oke, Wi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pevita sm Raisa mah baru-baru ini aja kalik. Belum pantas jadi ikon. Dian Sastro dari zaman baheula sampe sekarang masih dielu-elukan sebagai ikon cantik Indonesia.
      Emang kusinggung soal kebebasan tanpa batas, ya? Ehe. -__-

      Hapus
    2. maap, saya bukan orang jadul ewkewkewk..... kebebasan sama kemerdekaan gimana tuh... batas sama aturan beda ga tuh...

      Hapus
    3. Bukan orang jadul tapi pemikiran jadul? Ehe he he.
      Ya bedalah anjir batas sama aturan.
      Dirimu produk patriarki yang kental, Kak. I know it. Hahaha.

      Hapus
  18. sudah saya baca lagi
    hahah
    maaf ya

    *mungkin saya doang yang bingung
    #ehh

    BalasHapus
  19. Terbaik emg ini tulisannar ya, gue juga baru sadar media memang sangat berpengaruh, sampai sampai bisa mempengaruhi setiap lelaki Indonesia. kalau ada yg bilang Dian Sastro yg paling cantik dan Indonesia bgt pasti kebanyakan laki2 setuju.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu, dampaknya besar. Udah sadar, kan? Boleh coba perspektif lain berarti.

      Hapus
  20. Lebih cantikan pacar sendiri dari pada dian sastro :D
    Hmmmm tubuh mau kurus, gemuk, tingg, pendek yang penting kita'a pede, dari pada tubuh ideal gak pede

    BalasHapus
    Balasan
    1. PAMER TERSELUBUNG BAHWA LO PUNYA PACAR HAH? HHH.

      Hapus
  21. memang benar.. standar kecantikan ditentukan oleh produsen kosmetik.. tapi apalah makna cantik tanpa kesehatan?? ayo berolahraga #eh :p

    BalasHapus
  22. Kalau cowok abis nikah endut dianggap biasa, tapi cewek abis nikah mbegar dianggap masalah, repot emang hehe
    TFS artikelnya :D

    BalasHapus
  23. Ya, janganlah terlalu patuh dengan gambaran media tentang kesempurnaan. Buat aku, semua perempuan sempurna dengan keistimewaan mereka sendiri, dengan yang mereka miliki masing-masing. Bukan harus dengan menjadi ini atau menjadi itu mereka akan dianggap cantik atau sempurna. Perempuan itu semua cantik ;)

    Tulisan bagus dan menginspirasi Tiw.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, tinggal gimana perempuan itu sendiri menonjolkan kelebihannya dan memosisikan diri di tengah masyarakat. Terima kasih, Kak Manda. :)

      Hapus
  24. Buat aku Dian sastro emang cantik walaupun tanpa campur tangan media. Hehehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, memang cantik. Aku gak bilang dia gak cantik. Tapi, kecantikannya yang menjadi ikon cantik Indonesia itu yang dipermasalahkan di sini. Sebab kecantikannya tidak mewakili seluruh wanita Indonesia.

      Hapus
  25. Betul juga, karena media kita kadang susah membedakan yang nyata dan maya. Dan karena media juga, muncul anggapan kalo perempuan cantik itu, seperti Dian Sastro. BTW, dia memang cantik, sih, tapi masih banyak perempuan Indonesia yang gak kalah cantiknya.
    Persepsi setiap orang tentang makna cantik, berbeda-beda. Jadi, kayaknya gak perlu terlalu ambil pusing dengan penilaian orang lain Pede aja dan mensyukuri yang udah di kasih sama Allah. :)

    BalasHapus
  26. Iya, jaman sekarang media itu bisa mengubah perspektif masyarakat ttg apa saja termasuk soal stigma akan sebuah kecantikan. Tentang cantik atau tidaknya seorang wanita, jaman sekarang tidak lag ditentukan oleh Budi pekerti sikapnya, namun oleh sering atau tidaknya media mengekspos si wanita. Dan untuk membahas ttg kecantikan, lucunya di sebagian kalangan wanita masa kini, cantik tidaknya seorang wanita dilihat dari seberapa banyaknya dia mendapat komentar/like di tiap postingan instagramnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahahak iya nih, banyak-banyakan like sama komen. Iri-irian kalau kalah banyak. Sungguh fana hidupnya.

      Hapus
  27. Bener banget, media memang sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat... selera masyarakat malah jadi sempit dibuatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya seperti yang disebutkan di atas, memang itu salah satu tujuannya. Hhh :(

      Hapus
  28. Bener banget! Citra kecantikan dan standar feminitas yang disebarkan oleh media memang punya potensi yang kuat untuk mempengaruhi perspektif masyarakat tentang kecantikan perempuan itu sendiri, akhirnya masyarakat menganggap bahwa wanita cantik itu adalah mereka yang memiliki kriteria seperti model-model di iklan kecantikan; yang badannya langsing, kulit putih, rambutnya panjang lurus hitam berkilau, hidung mancung, dll. Pada akhirnya membuat beberapa perempuan merasa minder dengan tubuh mereka, termasuk aku, dulu. Apalah daya yang sering dibilang jelek karena bentuk tubuh yang kurus dan berkulit hitam juga pesek, aku mah percaya diri aja ya, Tubuhku otoritasku! Aku setuju banget sama kalimat "Mungkin aku—atau kita—pernah dipandang sebelah mata karena tak sesempurna apa yang digambarkan media, tapi kita harus tetap sadar bahwa masing-masing dari kita dilahirkan ISTIMEWA."

    Aaakk ini tulisannya keren banget deh, udah lama engga baca yang ginian, ditunggu tulisan selanjutnya. \:D/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang udah gak minder lagi, kan? Bagus! Muehehe

      Udah ada tulisan selanjutnya, tuh. :3

      Hapus
  29. Aku juga paling sebel kalo orang udah ngebahas tentang tubuh dab fisik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itu kan anugerah Tuhan yang semestinya bagaimanapun juga kita syukuri bersama.

      Hapus
  30. Selalu suka sama kata-katanya Tiwi :D

    BalasHapus
  31. setuju banget sih ini,paling gak suka kalau orang udah komentar tentang fisik, apalagi sama perempuan

    BalasHapus
  32. patokan cantik yang dibuat oleh brand, aku sering denger sih. dan memang itu mempengaruhi mindset cantik di kebanyakan orang ya.

    BalasHapus
  33. Makasih udah ngingetin. Kmarin2 ngotot pengen gemuk gara2 dikatain kurus. Pdhal kita yg paling tau ttg kebutuhan tubuh kita ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kita yang paling tau tentang kita. Makanya, kalo kayak gitu ambil yang positif-positif aja.

      Hapus
  34. Haduuh...speechless sama tulisan Tiwi.
    Saya pun kadang inder sama tubuh sendiri.

    Harusya lebih menghargai dan merubah cara pandang.


    Semoga kita bisa jadi manusia-manusia yang mampu memanusiakan wanita.
    ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Terima kasih, Mbak Lendy. :)

      Hapus
  35. Anjis ini komennya udah banyak aja. Hohoho. Baru main ke sini nih akunya. Huhuhu.

    ((CUKUP LUCU)) Aku ngakak lho, Tiw. Pas baca itu. Langsung keingat Njus.

    Hmmm. Setuju baca ini. Kalaupun cewek cantik itu yang harus kayak Dian Sastro, atau siapapun yang jadi ikon, kecantikan wanita itu jadi nggak beragam kan ya? Eh iya nggak sih. Padahal cantik menurut tiap orang itu beda-beda. Ada yang nganggap cewek mata bundar itu cantik. Mata sipit cantik. Pipi tirus cantik. Pipi tembem cantik. Nah kalau untuk masalah kulit, banyak cewek berkulit putih yang justru pada pengen kulit coklat. Begitu pun sebaliknya. Huuuffhh. Kalau ngikutin 'pendiktean' dari media akan makna cantik, nggak ada habisnya ya, Tiw. Baiknya mengikuti kenyamanan dalam diri kita. Mengikuti rasa bersyukur kita udah dilahirkan begini begitu. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bhahaha banyak yang punya keresahan sama sepertinya, Cha wkwkwk

      Iya, perempuan cantik gak bisa diseragamin kayak apa yang dicoba bentuk oleh media. Kita mesti bersyukur dan merawat apa yang diberikan Tuhan. Udah, sesederhana itu aja.

      Hapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer