Let's Rock N' Roll: Belajar dari Alam #1 | Your Favorite Devil's Advocate
travelling

Let's Rock N' Roll: Belajar dari Alam #1

Minggu, Agustus 14, 2016



Let's Rock N' Roll: Belajar dari Alam #1

“Iya, kamu kurang gaul. Kemakan dunia maya. Lupa sekitar. Bikin hatimu selalu khawatir karena nggak bisa memantau siapa yang ingin kamu pantau langsung. Hidup penuh kekhawatiran akan menghambatmu jadi keren dan hebat. Dasar lemah.” – Shakti Nugroho, 2016.

BOOM!

Ketika kepala sedang penuh dengan hal-hal yang carut-marut, seringkali sebuah tamparanlah yang bisa menyadarkan kita dari keadaan kalut. Tahta akan hati telah direbut oleh kuasa dari pikiran yang membuat jiwa raga manut. Lalu apa lagi yang membuat takut? Jalan sudah dibuka, apa kita akan ikut?

Bagiku, dunia maya serupa candu. Bukan hanya sekadar semu, tapi sesungguhnya kujuga mendapatkan begitu banyak temu dari situ. Di sana pula, aku dapat mengembangkan pribadiku yang dahulu terlalu banyak malu-malu. Namun tetap saja, dunia maya masih tampak begitu palsu bagi orang-orang di sekitarku. Mau tidak mau, aku harus mulai berbaur.

Demi menyeimbangkan kehidupan yang seringkali dianggap berat sebelah, aku mulai membuat celah di antara sekumpulan orang untukku masuk ke dalam mereka. Beruntungnya, mereka adalah orang-orang yang begitu terbuka, begitu menghargai adanya beda, begitu mudah merangkul satu dan lainnya.

Lingkungan baru? Yap, benar-benar baru.

Baca Juga: Kunci Menikmati Peralanan di Liburan Panjang

Beberapa waktu setelah lulus SMA, ada seorang teman yang mengirim sebuah tautan di grup Facebook angkatan yang berisi—kurang lebih—bagaimana anak-anak jurusan teknik begitu mudah membuat orang-orang di sekitarnya jatuh cinta. Awalnya, biasa aja. Relatif, yakan? Tapi beberapa bulan terakhir aku merasa, “Link yang dulu itu ada benarnya juga, ya.”

Aku mulai mengenal sekelompok orang yang benar-benar baru. Mereka dengan segala tingkahnya yang lucu. Mereka yang begitu unik di tiap individu. Mereka yang seringkali mengajak orang-orang di sekitarnya menepis segala ragu. Karena katanya, “Gak ada yang gak bisa kalau sama RnR!” Dan yang pasti, mereka bukan sekadar semu.

Rock N’ Roll

Wait, ini bukan sebuah genre musik yang popular itu, ya. Mereka adalah sekumpulan orang yang tergabung dalam satu komunitas. Yap, ternyata di kampusku—yang ya gitu deh—ada juga manusia-manusia seperti itu. Beruntung? Jelas, aku adalah salah seorang yang beruntung. Sebab bukan hanya sekadar kenalan atau teman baru yang kutemukan di situ, tapi hangatnya sebuah keluarga yang benar-benar sedia merangkul.

Jumat lalu, mereka membuat sebuah trip kecil ke kawasan Cibodas, Bogor. Aku turut serta di situ. Oh iya, mereka ini tampak seperti orang-orang yang selengean, tapi kalau sudah buat acara koordinasinya benar-benar mengagumkan. Kami berangkat dari kampus pukul 10.30 malam, dan itu kali pertama aku melakukan perjalanan keluar kota pada malam hari dengan menggunakan sepeda motor beramai-ramai. Seru juga, ya!

Let's Rock N' Roll: Belajar dari Alam #1

Jumlah kami yang berangkat malam itu adalah enam belas orang—13 laki-laki dan 3 perempuan—dengan menggunakan delapan motor. Seriously, jadi perempuan di antara mayoritas laki-laki yang ada di sana itu benar-benar menyenangkan. Biasanya, seorang Tiwi selalu disetarakan dengan kaum Adam. “Yaudah, sih, gak usah sok kayak cewek lo, Tiw. Biasanya juga apa-apa sendiri.” Iya, teman-temanku memang layaknya bhangkhay, tapi aku sayang. Mwah!

Sepanjang perjalanan, motor yang kami gunakan berjalan berurutan. Motor yang ditumpangi perempuan berada di tengah, rombongan diawali dan ditutup oleh para lelaki. Ternyata benar, sepi bagi Jakarta itu layaknya mitos semata.

Oh iya, ada shocking moment juga saat kami sempat berhenti untuk menanti salah satu dari rombongan yang pulang ke rumah terlebih dahulu. Lupa tepatnya di daerah mana, yang pasti di pinggir jalan sana banyak “wanita-wanita” malam dengan pakaian yang kekurangan bahan. Tapi bukan itu yang kumaksud shocking moment, kalau itu sih di Cipinang juga banyak. Jadi, malam itu kulihat dua orang “wanita” ber-tanktop dan rok mini yang berjalan ke belakang pagar yang berlubang. Oke, kupikir di belakang pagar itu tempat mereka istirahat. Namun ternyata beberapa detik kemudian… keduanya memerosotkan rok mereka hingga bokongnya tampak jelas dari sebrang jalan. Watdefak. Mataku ternoda!

Untungnya, kejadian itu kulihat berdua dengan MpokPit. Jadi. Setidaknya aku tidak menikmati shocking moment itu sendirian. Terima kasih, MpokPit.

Lanjut perjalanan malam yang dinginnya sudah mulai mencekam. Ada yang berusaha mengatasi kantuk dengan teriak-teriak di tengah jalan, neriakin penumpang motor lain yang tidak dikenalnya. Ada. Kami sempat istirahat di sebuah pom bensin sebelum sampai ke tempat tujuan untuk sekadar ngopi, ngerokok (untuk mereka), dan… makan tahu bulat. Ya, supaya kekinian.

Terima kasih untuk Kak Tompul dan Rizal yang sudah mengambil tahu bulat di tanganku, ya. Rese, lho, kalian.

Selepas rehat, aku mendapati pemandangan yang luar biasa. Langit malam terasa tumpah ruah beserta sekumpulan bintangnya di hadapan mata. Berkali-kali kuberucap, “I wish I could take a picture!” tapi sayangnya sangat tidak memungkinkan. Ya, itu bukan langit dalam artian sebenarnya, sih. Tapi gelapnya malam yang dihiasi cahaya lampu dari rumah-rumah dan gedung yang dilihat dari ketinggian. Ah, indahnya bukan buatan.

Let's Rock N' Roll: Belajar dari Alam #1

Kami sampai di kawasan wisata Cibodas sekitar pukul 02.30 dini hari. Singgahlah kami di warung Bu Ani sembari menunggu pagi dan beranjak menuju air terjun Cibeureum. Sebagai orang yang belum pernah ke tempat tersebut, kumerasa sungguh takjub dengan konsep unik dari warung yang ada di situ. Warung-warungnya punya tempat untuk istirahat—bahkan untuk tidur sekali pun—bagi para tamu tanpa biaya tambahan yang dipungut. Syaratnya hanya satu, segala makan dan minum harus di warung itu. Wajar, sih, ya.

Setelah sedikit menghangatkan diri dengan teh dan kopi, kami menyempatkan diri membayar pejam yang sempat kami utangi untuk perjalanan malam hari. Ya, supaya lebih fresh juga untuk menghadapi perjalanan yang—selanjutnya—harus ditopang oleh kedua kaki.

Let's Rock N' Roll: Belajar dari Alam #1

Pukul 06.00 pagi kami bangun dan bersiap ke tujuan utama. Sebelumnya, sarapan dululah, ya. Sayangnya, rintik hujan sempat menghambat semua yang telah siap. Untungnya, hujan begitu pengertian dengan tidak membiarkan bulirnya menghunjam Bumi terlalu lama. Tapi, hujan itu keren, ya? Jatuh berkali-kali dan tak juga jera. Kalian gimana? Yeu~

Menerjang jalanan yang basah, segerombolan anak ini tetap ceria. Sebetulnya, perjalanan kali ini lumayan berat buatku. Ya, untuk orang yang seringkali punya masalah dengan pernapasan dan jarang olahraga, jelas saja bukan jadi sesuatu yang ringan. Yap, benar saja. Agak menyusahkan, jadi orang terbelakang yang menghambat rombongan. Duh, maaf ya…

Untungnya ada orang yang sebegitu sabarnya menuntunku yang sudah layaknya nenek-nenek tak bertulang belakang. Terima kasih banyak, Yusup Fawzi Yahya. Mamamu nyidam apa, sih? Bisa sabar banget gitu, heran.

Let's Rock N' Roll: Belajar dari Alam #1

Terima kasih juga, ya, di perhentian pertama—perhentian yang kesekian sih kalau buat aku mah bhahaha—ada ranger berjaket hitam-merah yang tetiba muncul dari belakang rombongan dengan botol air minum di dalam genggaman. Yap, Rizal jadi hero!

Di sana, Bang Romy yang berlaku sebagai “pawang” di perjalanan kali ini memberikan sebuah advice, “Jangan berhenti-berhenti, ya. Kalo gak kuat gak apa-apa jalannya pelan-pelan, tapi jangan berhenti. Nanti power-nya drop lagi.” Oh, gitu ya ternyata? Makasih juga buat Bang Romy, perjalanan setelah itu gak begitu berat lagi. ya, walaupun sempet berhenti juga karena gabisa napas dan mual-mual.

Selain shocking moment, ada hectic moment juga nih. Di tempat singgah kedua, kami berhenti lumayan lama karena hujan datang lumayan lebat dan lama. Apakah itu? Dan apakah Tiwi bisa dengan selamat sampai ke air terjun Cibeureum? Yak, karena post ini sudah terlalu panjang maka disambung ke part selanjutnya aja, ya.

Let's Rock N' Roll: Belajar dari Alam #1

So, Gengs, kusempat melempar beberapa buah tweet perihal ini di akun @prtiwiyuliana, hal-hal yang perlu diperhatikan untuk—khususnya—para perempuan dan orang yang belum terbiasa dalam melakukan wisata seperti ini adalah:
  • Siapkan fisik dan mental, kalau bisa olahraga dulu sebelum pergi ke tempat seperti itu ya.
  • Mesti tau dulu track yang akan kalian tempuh itu kayak apa, jangan benar-benar blank.
  • Jangan menganggap dengan sampai puncak lalu kalian jadi orang yang keren, karena hal ini bukan perihal gaya-gayaan. Apalagi kalau sampai memaksakan kesehatan yang kurang memungkinkan.


Catat, ya!





Salam sayang,




Pertiwi Yuliana

You Might Also Like

16 komentar

  1. "ke gunung ke pantai ayo ramai ramai bawa aku ke sanaaaaaaaaa, indahnya liburan bersama teman-temaaaaaaaaannnn"

    liburan - endank soekamti

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. Hayuk, Mbak, keren banget. Aku juga pengin lagi wkwkwk

      Hapus
  3. Udah pernah kesana, jadi kepengen kesana lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga, pengin sampai gede, katanya masih 10km dr perhatian di hectic moment wkwkwk

      Hapus
  4. Seperti kata anak-anak muda jaman sekarang, "Jangan lupa bahagia"

    BalasHapus
  5. Yah moment shocknya nggak kefoto #eh gagal fokus kan...hihihi

    BalasHapus
  6. Hm... dunia maya itu buat hiburan kalo dunia nyata lagi gak menarik, sih. Gue biasanya gitu. Ehehe.

    Itu maksudnya cewek kelihatan bokong pada ngapain? Kencing? Boker?

    Duh, jadi kangen banget sama Cibodas abis baca ini. Lu naik ke puncaknya berapa jam? Waktu itu kalo gak salah gue sekitar 1,5-2 jam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue mah kan kepaku maya bet wkwkwk
      KENCING ANJIR PARAH BET PARAH MATA GUEEEEE :'(
      Lama gue, lebih dari tiga jam kayaknya mah. Engap gue njir. :'(

      Hapus
  7. Nikmati masa mudamu. Jelajahi semua yang kau ingin. Nanti akan menjadi kenangan indah di masa tua. :)

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer