Teror untuk Tuhan Sembilan Sentimeter | Welcome to My Own World - Pertiwi Yuliana
cerpen

Teror untuk Tuhan Sembilan Sentimeter

Senin, Desember 29, 2014

Teror untuk Tuhan Sembilan Sentimeter
Sumber gambar
“Dan aku akan menghidupkan bayangmu lewat partikel kecil yang selalu kaucintai dalam hidupmu. Mengabadikan tiap jejak keindahan yang kaupuja selama udara masih seiring dengan langkahmu.”

***

Asap mengepul dari mulutnya yang membentuk huruf O dengan sempurna. Di tangan kirinya, telunjuk dan jari tengah itu mengapit benda kecil berukuran sembilan sentimeter dengan ujung yang terbakar. Berkali-kali, lelaki itu mengulangi kegiatannya: menghirup udara yang dikeluarkan dari benda kecil dalam genggamannya. Kemudian matanya menerawang, mengikuti ke mana arah asap yang baru saja dikeluarkannya itu melayang.

Di atas sana, bulir-bulir lembut itu kembali menyapa. Langit malam tampak semakin kelam. Semakin menghasut jiwa-jiwa yang sepi untuk menepi, mengalah pada diam.

“Bagaimana kabarmu, Pria Perokok?” tanyaku.

“Masih tetap baik selama tuhanku masih tetap dalam genggaman.”

“Masih saja dirimu menuhankan benda sembilan sentimeter itu?”

“Tentu,” jawabnya mantap sembari kembali menghisap tuhannya itu dengan bibirnya yang kehitaman.

“Lintingan tembakau dengan lebih dari 40.000 zat aditif yang berbahaya bagi tubuh itu masih saja kamu bela? Betapa bodohnya! Dianugerahkan paru-paru yang bersih oleh Tuhan dan kamu akan mengembalikannya dalam keadaan cacat? Tidak tahu terima kasih!”

Aku di hadapannya, di hadapan lelaki yang baru saja mencoba melemparkan tuhannya ke dalam tong sampah. Meleset. Kemudian dia mendengus kesal dan masuk ke dalam kediamannya yang begitu terabaikan: sampah di mana-mana, debu melapisi tiap detil yang ada, dan segala bau bercampur-aduk dengan sangat menyengat.

“Mengapa kamu begitu mengabaikan istanamu, Pria Perokok?”

“Bukan urusanmu!”

“Aku tahu, Wanita Bunga tidak menyukai ini dan akan meninggalkanmu perlahan.”

Sejenak, lelaki itu terdiam. Menyapu pandangannya ke tiap sudut ruangan yang dapat dijangkaunya. Benar-benar jauh dari kata terawat.

Tetiba dia teringat, esok hari Wanita Bunga akan datang. Dia mulai mengumpulkan benda-benda busuk yang tercecer di sekelilingnya, memasukkannya ke dalam sebuah trashbag hitam besar dan sesegera mungkin mengangkutnya ke luar rumah.

Jam di dinding yang kusam itu menunjukkan pukul 21.19, lelaki itu telah melangkahkan kaki ke luar pintu dengan trashbag di punggung kirinya. Menerobos bulir bening yang masih setia berjatuhan dari bentangan angkasa, dia menuju ke sebuah sungai yang tak jauh dari kediamannya. Tanpa rasa bersalah, dia melemparkan apa yang dibawanya ke sungai yang keadaannya tak jauh berbeda dengan kediamannya.

Aku sangat prihatin. Sungai ini seperti telah disulap menjadi sebuah tong sampah raksasa. Airnya yang kecoklatan dan sampah yang berserakan di sepanjang bantarannya. Memalukan.

Aku mulai geram, bulir-bulir di angkasa pun jatuh dengan kapasitas yang lebih besar.

“Berhentilah menyakiti lingkunganmu, Pria Perokok!”

“Ada yang salah? Mereka pun melakukan hal serupa!”

“Itu bukan alasan untukmu melakukan hal demikian!”

“Lalu kamu bisa apa?”

“Kamu akan merasakannya di saat aku telah murka!”

***

Teror untuk Tuhan Sembilan Sentimeter
Sumber gambar
Pagi, kelabu telah menggantung dengan sempurna di atas sana. Matahari sedang enggan menampakkan wujudnya. Mungkin karena lelah yang melanda. Sendu berkuasa atas suasana yang pilu. Seperti gadis itu, yang sedang menunggu lelakinya datang di bangku taman kala itu.

“Maaf, kamu sudah lama menunggu?” lelakinya datang, dengan napas yang masih terengah-engah dan peluh di sekitaran dahi yang menetes sampai pipi.

Hampir saja, hampir sang gadis melayangkan pelukannya kepada si lelaki. Namun sayang, niatya urung ketika diciumnya bau asap yang tak sedap.

“Rokok lagi, ya?” tanya gadis yang dibalut mini dress cantik bermotif bunga berwarna merah muda tersebut.

“Ah, hm... maaf. Aku candu.”

“Beratkan saja candumu, abaikan niat untuk berhenti mencumbui benda itu seperti yang kamu katakan saat itu.”

Deg! Lelaki itu tertampar. Bukan. Bukan fisiknya yang tertampar, tetapi hatinya. Beratkan saja candumu, abaikan niat untuk berhenti mencumbui benda itu seperti yang kamu katakan saat itu. Gadis itu memang teramat pandai meracik kata dengan sedemikian rupa. Namun sayang, lelaki itu masih saja mengabaikan peringatannya. Masuk telinga kanan dan kembali keluar lewat telinga kanan. Tak sampai pada otaknya.

Lagi, rintik-rintik itu datang lagi. Menemani dua hati yang sedang berdiam diri. Menikmati bisu di tengah sendu yang membuat keduanya kelu. Keduanya menjauh, mencari tempat berteduh. Di bawah bilik bambu di dekat situ, mereka bernaung.

“Sudah kubilang, bukan? Wanita Bunga tidak akan menyukai kelakuanmu!”

“Mengapa kamu selalu datang dan menghantuiku dengan bisikan-bisikan busuk seperti itu?” lelaki itu tampak mengepalkan sebelah tangannya yang tergantung di samping paha.

“Bisikan busuk, katamu?”

“Ya! Ah, sial! Ke mana Mentari pergi?” tanyanya.

“Dia sedang berlibur dan tidak ingin diganggu,” jawabku.

“Kalau begitu, pergilah kamu! Susul saja Mentari ke tempatnya berlibur! Jangan ganggu aku! Jangan ganggu kami!”

“Hahaha!” aku tertawa mendengar ucapannya. Bersama gemuruh dan petir yang menguasai angkasa, aku membuatnya menutup telinga. “Sekarang, di mana tuhanmu itu?”

“Dia akan tetap dalam genggamanku hingga akhir hayatku nanti!” serunya sembari mengangkat sebelah tangan dengan tuhannya di antara jari telunjuk dan jari tengah.

“Begitu?” gadis itu akhirnya angkat suara.

“B-bukan, maksudku...”

“Wanita Bunga, ikutlah denganku!” ajakku. “Kamu akan menemukan tempat di mana kamu dapat bercinta dengan alam dan bunga-bunga yang cantik layaknya parasmu,” lanjutku.

“Benarkah?” seketika mata gadis itu berpendar dengan sempurna menyambut ajakanku.

“Jangan!” larang lelaki itu.

Namun terlambat. Gadis cantik itu telah menjabat tanganku, mengikuti jejakku menuju persinggahan terakhirnya dengan tangis haru. Dia bersamaku, hanyut bersama partikel-partikel kecil yang telah lama menunggu. Banjir bandang datang bersamaan dengan amarahku kepada lelaki itu. Kubiarkan dia di situ, bersama kenangannya bersama gadis yang sekarang telah berada di sisiku. Menikmati alam yang telah dirusaknya dari waktu ke waktu. Suatu saat nanti aku akan kembali untuk menjemput lagi. Mungkin selanjutnya: giliran Kamu menikmati tempat ini.

***

“Tuhan, maafkan aku karena menuhankan benda kecil yang tak berguna ini. Aku menyesali kepergian gadisku. Aku mencintainya dan aku berjanji akan menghidupkannya kembali.”

Usai berdoa, lelaki itu berjalan menuju teras depan rumahnya. Teras yang sama dengan suasana yang amat berbeda. Kali ini, tiap sudutnya ditumbuhi bunga-bunga. Persis seperti apa yang disukai gadisnya. Lewat mereka, dia mencoba mengembalikan bayang yang hilang dari seseorang yang dicintanya.

Penyesalan. Ketika alam telah murka, maka hanya pasrah yang dapat kita terima.

***

“Dan aku akan menghidupkan bayangmu lewat partikel kecil yang selalu kaucintai dalam hidupmu. Mengabadikan tiap jejak keindahan yang kaupuja selama udara masih seiring dengan langkahmu.”














TAMAT




(a short story by @prtiwiyuliana)

You Might Also Like

19 komentar

  1. "Dan aku akan menghidupkan bayanganmu lewat partikel kecil yang selalu kau cintai dalam hidupmu. Mengabadikan tiap jejak keindahan yang kau puja selama udara masih seiring dengan langkahmu."
    Sederhana, tapi mengandung makna yang luar biasa. Suka sekaliiiii :)

    BalasHapus
  2. Bisa ya men-Tuhan-kan rokok (atau cerutu).
    Aku dong, ga ngerokok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di cerpen mah apa, sih, yang gak bisa? Ngidup-matiin orang seenak jidat aja bisa :p

      Gak ngerokok? Baguuuus~~~

      Hapus
  3. Bener juga ya, kita dikasi paru paru yg cantik bersih masak iya kita ngembaliinnya dalam keadaan yg bener bener busuk? Oke nanti aku ngomong gitu sama Bapak ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk, jangan biarkan orang terdekat kita celaka nantinya :)

      Hapus
  4. Seperti biasa, apa yang di tulis langsung tergambar jelas di kepala..Keren ahh :)
    Pergaulan anak muda jaman sekarang emang gitu, kalo nggak ngeroko nggak keren :D haha untung gue nggak, udah jadi prinsip!
    Tapi gue keren :p pffttt

    "Straight Edge"

    BalasHapus
  5. Iihh.... kereen banget...
    Kata2 & sudut pandangnya bikin hanyut... hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kamu mau ikut hanyut juga kayak Wanita Bunga? :p

      Hapus
  6. harus belajar bikin cerpen dari mbak Tiwi nih. keren, gue terhanyut membacanya, jadi siapakah Aku itu wahai mbak Tiwi? malaikat atau sisi baik dari dirinya yang berbicara di kepala atau hatinya gitu?
    pemilihan diksinya juga bagus :)
    alhamdulillah ya, gue nggak ngerokok haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayuk belajar pas kopdar :D
      Tebak doong~~~

      Hapus
    2. okeh.. gratis kan? :)
      males main tebak-tebakan.. haha

      Hapus
    3. Gue, sih, gak memungut biaya. Tapi kalo mau bayar ya alhamdulillah :p

      Hapus
  7. Lebih sayang sama rokok daripada sama si gadis. :(
    Endingnya bagus.. Tapi sedih. Huhuhu.. :'

    BalasHapus
  8. harusnya ini dibaca oleh semua perokok.. boleh saya share?

    imajinasi yang bagus sekali, lelaki perokok, wanita bunga, mentari.. ceritanya mengalir tanpa dibuat-buat.. mbak Tiwi keren banget nih ceritanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh, sumbernya jangan lupa ya :)
      Hihihi terima kasih :D

      Hapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer