Bingkai dari Majalah Bekas | Your Favorite Devil's Advocate
article

Bingkai dari Majalah Bekas

Rabu, Mei 01, 2013

Gue inget banget waktu kali pertama ketemu sama seseorang yang dari jauh bawa seperangkat alat paper quilling yang bikin gue jatuh hati. Saking jatuh hatinya maka gue berinisiatif untuk membeli peralatan tersebut untuk koleksi pribadi.

Di suatu malam--gue inget itu hari Senin, sepulang gue dari kantor dan besoknya libur--gue lagi pengen begadang. Setelah merapikan diri seusai melepas lelah dari kantor, gue bingung. Masa mau begadang cuma nonton TV doang sih? Sedih banget, hahaha!

Celingak-celinguk ke sekitaran ruangan tempat gue berdiam diri, akhirnya gue menemukan ini:

(seperangkat alat paper quilling yang gue beli)

Setelah gue pegang-pegang dan mencoba mengerahkan seluruh kemampuan gue buat berpikir, gue masih ga nemu juga mau bikin apaan. Hahaha! Ujungnya WhatsApp-an bahas materi untuk kelas prakarya Sekolah Rumpin di minggu itu. Karena gue bilang gue lagi mau begadang tapi gatau mau ngapain, akhirnya gue dikirimin ini via WhatApp:

Dan kemudian hening... Tersipu oleh paras tampannya, halah! Tapi serius, abis itu tangan gue langsung aktif menjamah peralatan paper quilling itu.

Gue jadi kepikiran untuk ngebuat logo Sekolah Kita gitu, mungkin karena abis bahas materi untuk Sekolah Kita kali ya. Ini kronologisnya:

  1. Gue gambar dulu tuh logo Sekolah Kita di atas kertas gambar
  2. Lem sedikit demi sedikit mengikuti pola gambar diikuti dengan pemasangan kertas strip
  3. Harus hati-hati, gunakan pinset jika perlu untuk merapikan letak kertas strip agar sesuai pola
Mau liat hasilnya? Nih:
( logo Sekolah Kita dari paper quilling buatan gue )

Ga bagus bagus amat sih, tapi lumayan lah buat mengisi keisengan gue di malam hari. Selesai, fotonya gue jadiin display picture di BBM gue. Dan sang Kakak Pengelola Sekolah Kita:

( display picture-nya samaan hihihi )

Belum puas karena cuma begitu aja, akhirnya gue berniat bikin bingkai untuk logo tersebut. Itung-itung sekalian nyobain materi prakarya untuk kelas kreativitas di hari Minggu. Gue melirik kardus bekas dan majalah bekas. Untuk kardus bekasnya sendiri, gue pilih kardus bekas handphone. Alasannya:
  1. Di rumah gue ga ada kardus bekas mie instan atau pun aqua yang biasa dipake buat bikin kerajinan tangan
  2. Gue emang ga suka pake kardus mie instan atau pun aqua karena teksturnya yang gue rasa kurang kuat, istilahnya sih letoy hahaha! Makanya gue lebih sering pake kardus susu formula, biarpun tipis tapi kokoh. Tapi berhubung lagi ga ada kardus susu formula juga di rumah, maka manfaatkanlah yang ada.
( hasil bingkai 1/3 jadi )
Cara buatnya sih gampang-gampang susah. Ga susah juga sih sebenernya, cuma harus teliti biar gulungan-gulungan kertas majalahnya sama. Langkah-langkahnya nih:
  1. Gunting kardus sesuai ukuran yang lo mau sebanyak dua buah (satu untuk sisi depan dan satu lagi untuk sisi belakang)
  2. Ambil satu pola yang telah dinobatkan untuk sisi depan dan lubangi seukuran foto 3R (boleh kurang atau pun lebih, sesuka hati kalian aja)
  3. Lapisi kedua pola itu dengan kertas majalah
  4. Ambil satu persatu kertas majalah bekas yang telah disiapkan, potong menjadi empat bagian lalu gulung memangjang. Lakukan sebanyak mungkin.
  5. Jika telah merasa cukup dengan jumlah gulungan kertas majalah bekasnya, tempelkan satu persatu gulungan itu pada pola bingkai sisi depan yang telah dilubangi
  6. Setelah semua bagian dari sisi depan bingkai telah terlapisi oleh gulungan kertas, lo bisa bentuk sesuai keinginan lo. Dari bentuk yang paling wajar sampai yang paling absurd.
  7. Tempelkan foto/gambar yang telah lo siapkan dengan kedua sisi bingkai tersebut.
  8. Jangan lupa tambahin tali atau apapun yang bisa dipakai untuk menggantung.
  9. Dan TADAAA!! Bingkai cantik buatan lo udah selesai deh!
(ini bingkainya dibuat berbentuk ikan karena tema dwibulan Sekolah Kita saat itu adalah Taman Laut Rumpin)

Bingkai itu gue selesaikan tepat pukul 1 malam dengan hati yang riang gembira, hahaha! Selamat mencoba!

You Might Also Like

0 komentar

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer