Lebih Cermat Finansial dengan Cermati.com | Your Favorite Devil's Advocate
finance

Lebih Cermat Finansial dengan Cermati.com

Jumat, September 06, 2019

Lebih Cermat Finansial dengan Cermati.com

Libur telah usai, libur telah usai! Hore! Hore! Hore!

Kembali ke kehidupan kampus, satu yang membuat rindu ialah bercengkerama dengan teman-teman untuk saling berbagi cerita. Usut punya usut, beberapa teman di semester ini ingin memulai bisnis di bidang yang berbeda-beda. Jadi ingat bacaan di akhir liburan lalu.

Sekitar tiga bulan Tiwi menjalani kehidupan sebagai seorang mahasiswa sastra coret. Kenapa pakai coret? Ya, karena kebanyakan jalan-jalan daripada baca bukunya. Karena merasa bertanggung jawab dengan status mahasiswa sastra yang identik dengan banyak baca buku, maka mulailah Tiwi membuka lemari koleksi buku dan mengambil satu dari kumpulan buku yang belum sempat dibaca.

Follow Your Passion by Muadzin F. Jihad
Follow Your Passion by Muadzin F. Jihad
Kenapa milih buku itu? Pertama, Tiwi suka psikologi. Kedua, Tiwi butuh motivasi untuk kembali ke kampus. Dan buku pengembangan diri kayak gini selalu berhasil membuat Tiwi berkobar-kobar. *pasang ikat kepala*

Salah satu part di dalam buku ini yang Tiwi suka adalah tentang bagaimana kegagalan penulis dalam menggapai  life dicision-nya demi mewujudkan purpose of life-nya dengan menjadi seorang entrepreneur. Mata seorang Tiwi benar-benar terbuka. Dengan tujuan yang sama, Tiwi banyak belajar dari sana. Kegagalan ialah sukses yang tertunda dan penulis membuktikan bahwa hal tersebut benar-benar nyata. Sepenggal kisah “gagal” tadi mengenalkan Tiwi dengan yang namanya KTA (Kredit TanpaAgunan).

Penulis—yang mungkin saat itu sedang khilaf—meminjam KTA yang berasal dari lima bank asing sekaligus untuk memodali usaha yang dia dan istrinya buat. Alhasil, kredit macet pun terjadi dan kedatangan debt collector adalah suatu hal yang bisa dibilang bagai makanan sehari-hari.

Sebetulnya, KTA itu apa, sih?

Kredit Tanpa Agunan (KTA) adalah salah satu produk perbankan yang memberikan fasilitas pinjaman tanpa membebankan calon nasabah untuk mempersiapkan suatu aset untuk dijadikan jaminan atas pinjaman tersebut. Dengan begitu, tidak adanya jaminan yang harus diberikan untuk menjamin pinjaman tersebut. Dalam hal ini, bank hanya mengambil keputusan pemberian kredit berdasarkan pada riwayat kredit dari pemohon kredit secara pribadi. Dalam penggunaannya, ada beberapa manfaat yang sering dimanfaatkan dari KTA.

Salah satunya adalah untuk kebutuhan konsumsi. Itu pun masih bersifat luas dan bermacam-macam. Dalam hal ini, kemampuan dari nasabah untuk melaksanakan kewajiban pembayaran kembali atau menlunasi pinjaman adalah pengganti jaminan. (Sumber: cermati.com)

Lalu, apa saja yang bisa kita lakukan dari hasil pencairan dana KTA?

Dari hasil yang telah Tiwi baca, pihak bank tidak mengharuskan pengaju KTA untuk menggunakan hasil dana pinjamannya pada bidang tertentu. Atau lebih mudahnya, pengaju bisa melakukan apa saja dengan hasil dana yang diperolehnya dari KTA tersebut. Seperti yang telah disebutkan di atas, salah satu manfaat dari KTA adalah untuk kebutuhan konsumsi seperti:

1.      Biaya renovasi rumah
2.      Biaya pernikahan
3.      Biaya pendidikan
4.      Biaya pengobatan
5.      Biaya pelunasan / penutupan credit card
6.      Modal usaha / bisnis
7.      Dan kebutuhan finansial lainnya.

Apa aja, sih, keuntungan dari KTA?

Nah, mungkin ini dia yang membuat penulis buku tadi menjadi khilaf dengan meminjam KTA dari lima bank asing sekaligus. Cukup banyak keuntungan yang ditampakkan oleh KTA, antara lain:

  • Persyaratan pengajuan kredit yang mudah dan proses yang cepat
  • Pinjaman diajukan tanpa memerlukan agunan atau tanpa jaminan
  • Penggunaan pinjaman disesuaikan dengan kebutuhan
  • Suku bunga tetap (selama masa kontrak kredit)
  • Periode cicilan kredit disesuaikan dari 12 bulan hingga 60 bulan
  • Mendapatkan perlindungan asuransi (untuk beberapa produk KTA dari bank tertentu)
  • Limit pinjaman yang cukup besar, hingga Rp 300 juta.

Apa sajakah persyaratan pengajuan KTA?

Well, seperti yang telah tertulis di dalam buku tadi, persyaratan pengajuan KTA cukuplah mudah dan prosesnya cepat. Untuk yang penasaran, ini dia syarat-syarat untuk pengajuan KTA:

  1. Warga Negara Indonesia
  2. Berumur 21 – 60 tahun
  3. Memiliki pendapatan bersih bulanan minimum sebesar Rp3 juta untuk karyawan, wiraswasta, dan professional (informasi untuk pengajuan wilayah sekitar Jabodetabek)
  4. Melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan, antara lain :
    • Fotokopi KTP/Paspor
    • Fotokopi NPWP
    • Fotokopi Kartu Kredit dari Bank lain
    • Fotokopi tagihan Kartu Kredit Bank lain
    • Fotokopi Sampul Buku Tabungan

Jadi, bank mana sajakah yang menawarkan KTA di Indonesia?

Lebih Cermat Untuk Tidak Mengulang Kegagalan

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bank mana saja yang menawarkan KTA, yuk buka cermati.com dulu! Well, Cermati merupakah sebuah perusahaan startup yang bergerak di bidang teknologi keuangan. Perusahaan ini menyediakan berbagai macam informasi untuk membantu masyarakat Indonesia dalam menemukan produk keuangan terbaik yang dibutuhkan.

Dengan misi untuk membantu masyarakat Indonesia agar lebih bisa memahami produk-produk finansial yang ada, Cermati juga menyediakan akses data ke ribuan produk keuangan secara gratis untuk memudahkan masyarakat Indonesia membuat keputusan finansial yang cermat.

Sekali lagi: yang cermat.

Lebih Cermat Untuk Tidak Mengulang Kegagalan

Kegagalan memanglah kesuksesan yang tertunda, seperti yang telah ditulis dan dibuktikan oleh penulis buku tadi. Tapi alangkah baiknya jika kita bisa mempelajari kegagalan orang lain untuk meminimalisir kemungkinan kegagalan yang akan terjadi pada hidup kita. Mumpung sudah ada yang memfasilitasi kita untuk tidak mengulangi kegagalan yang sama, kenapa tidak dimanfaatkan?

Ayo, jadikan orang Indonesia cermat berfinansial dengan Cermati!


Tulisan ini diikutsertakan dalam "Cerita Merdeka Finansialku bersama Cermati".




Tabik,




Pertiwi

You Might Also Like

0 komentar

Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai. - Pramoedya Ananta Toer