Melekatkan Beda Tanpa Saling Meruntuhkan | Your Favorite Devil's Advocate
event

Melekatkan Beda Tanpa Saling Meruntuhkan

Jumat, Maret 24, 2017

Melekatkan Beda Tanpa Saling Meruntuhkan

“Ibu heran, deh, setiap masuk kelas sastra kok auranya suram terus, ya?”

Lagi dan lagi, komparasi antara kedua prodi menjadi buah bibir. Entah mengapa, selalu ada topik yang dapat diangkat untuk mengukuhkan bahwa prodi pendidikan lebih baik. Ya, prodiku berada di tengah jurusan dan kampus yang penuh dengan stereotip basi.

“Kalian itu kalo pake baju yang cerah-cerah gitu, lho. Biar lebih ceria, biar auranya lebih enak. Kayak anak pendidikan itu, lho, bajunya warna-warni. Asal masuk kelas ini pasti gelap semua. Ini juga, nih, yang cewek-cewek. Kerudung itu lipstik, Nduk. Jangan pake yang gelap terus.”

Pun perihal berpakaian. Kami seolah tak diizinkan untuk menjadi diri kami karena tumbuhnya stereotip yang melebar ke mana-mana. Seolah kami tidak tau apa-apa sama sekali, seolah kami perlu digiring untuk mendapatkan jalan yang lebih baik.

Padahal, kami sudah memilih untuk menjadi kami.

***

Mengingat dan melupa merupakan kegiatan yang sedang sangat sering kulakukan. Mengapa melupa pun menjadi pilihan? Ya, mungkin karena bagiku ada hal-hal yang perlu disingkirkan sementara waktu pada momen tertentu untuk menyelesaikan hal yang lainnya. Setelahnya, bisa dapat kembali seperti sedia kala. Menyederhanakan beban yang ada di kepala saja. Untuk menghemat waktu agar tak habis dengan sia-sia.

Sedangkan mengingat, banyak alasan untuk yang satu ini. Seringkali untuk membangkitkan semangat, meletupkan gairah, atau untuk sekadar menyelamatkan diri dari rindu yang membuncah. Ada banyak alasan, sangat banyak alasan, untuk mengaminkan kegiatan ingat-mengingat.

Kali ini, ingatanku melayang pada momen dua tahun lalu. Saat di mana kami sejurusan—baik dari prodi sastra maupun prodi pendidikan—sedang disibukkan dengan berbagai macam seminar dari tiap kelas. Sebagai sebuah syarat ujian akhir mata kuliah Keterampilan Berbicara Interaktif, kami harus membuat seminar dan menghadirkan pembicara yang ahli untuk bidang yang sudah kami tentukan. Menjadi salah satu momen yang tidak terlupa pula karena di kesempatan itu aku dipilih menjadi ketua.

Sebetulnya tidak seberapa menyenangkan menjadi ketua, tapi dari sana aku dapat mengetahui bagaimana berharganya teman-teman sekelas. Kami adalah kelas yang paling sedikit dengan jumlah kurang dari separuh jumlah kelas lainnya, tapi yang kusadari adalah kami punya kelebihan masing-masing yang jika disatukan menjadi sesuatu yang sangat kokoh untuk mengalahkan lainnya. Dan, ya, seminar kami berjalan lancar. Dengan tajuk “SPEKTRUM: Seminar Penerbitan Karya Sastra untuk Pemula”, seminar kami ramai dan memuaskan. Terima kasih, teman-teman.

Masih ada rangkaian seminar lain yang diadakan setelah seminar kelas kami selesai. Dengan bertemakan “Puisi dalam Media Massa Indonesia” jelas cukup menarik minat banyak orang, termasuk aku dan beberapa teman dari kelas sastra. Apalagi, pembicara yang dihadirkan adalah Adimas Imanuel dan Khrisna Pabichara. Penyair muda yang banyak digandrungi anak-anak kekinian dan penyair yang memiliki power luar biasa dari puisi dan performanya. Ramai, tentu saja.

Namun hal yang sungguh disayangkan bagiku dari seminar itu adalah pemaparan dari mahasiswanya. Sebagai syarat ujian akhir, jelas saja kami—para mahasiswa—harus melakukan presentasi hasil kajian kami terkait dengan tema yang diambil oleh kelas masing-masing. Dengan tema yang bagus, peserta yang banyak, dan pembicara tamu yang luar biasa, kurasa seminar itu cukup untuk dibilang gagal karena sebagian besar mahasiswanya tidak dapat memaparkan isi kajiannya dengan baik.

Bukan hanya sekadar tidak dapat memaparkan dengan baik, tapi… ngaco. Sedihnya lagi, bidang kajian yang mereka pilih adalah ranah sastra. Jelas saja kami yang dari kelas sastra meletup-letup dibuatnya.

Seorang mahasiswa mengkaji unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik sebuah puisi dari salah satu majalah anak-anak. Untuk unsur intrinsik, masih berada di jalur yang aman. Namun ketika sampai ke unsur ekstrinsik, aku mulai senyum-senyum gemas dan saling beradu pandang dengan teman-teman dari kelas sastra. Ya, bayangkan saja, masa iya mengkaji unsur ekstrinsik hanya menyebutkan, “Puisi ini dibuat oleh A, bersekolah di SD Blablabla, kelas C, usianya D, tempat tinggalnya di Jalan E.” Lalu, selesai.

Sedangkan kami—mahasiswa di kelas sastra—terbiasa merenung hingga rambut perlahan rontok untuk mengkaji demikian. Harus tau sejarah pengarangnya, psikologis pengarang, kejadian apa yang terjadi di tahun pembuatan karya yang mungkin ada kaitannya dengan karya tersebut, komparasi dengan karya lain di periode yang sama, dan sebagainya. Tidak semudah itu. bahkan seorang dosen sampai sering melontarkan jokes berupa, “Pikirin aja sampai botak bisulan.”

Kami memang seringkali heran saat membaca skripsi-skripsi yang bertengger di perpustakaan jurusan, “Ini anak pendidikan kok kajiannya kebanyakan sastra, ya?” Kami tidak mempermasalahkan itu sebetulnya, selama eksekusinya baik. Tidak seperti kejadian di seminar itu tadi.

Memiliki predikat sebagai mahasiswa jelas bukan sesuatu yang sembarang. Ada bobot yang dipikul hingga tak dapat seenaknya melenggang. Ada tanggung yang tak dapat dibiarkan tertunggang. Ada jurang-jurang yang harus dilewati dengan tetap tenang. Dan, semuanya bisa jadi hanya bayang jika kita—sebagai mahasiswa—hanya memikirkan perihal bersenang-senang.

Maka itu, keilmuan merupakan sesuatu yang wajib tersemat di antara predikat mahasiswa yang digunakan. Jika tidak, tidak perlu repot berkoar. Sebab, kelekatan ilmumu pun masih tampak samar.

Layaknya semen pada sebuah pembangunan, ilmu merupakan kunci dasar sebuah predikat besar yang berawalan maha. Seperti semen yang merekatkan batu bata dan bahan lainnya, segala aspek kemahasiswaan bisa lenyap tanpa ilmu yang melekatkan. Seringkali hanya perihal predikat, kemudian melupakan ilmu yang semestinya menjadi syarat. Kerap bangunan dipuji keindahannya, tapi peran semen antara ada dan tiada.

Di dalam kehidupan masyarakat modern, acapkali timbul persepsi yang menyatakan tak ada perkembangan yang signifikan dari semen. Padahal, ada banyak perkembangan teknologi di balik semen, terutama untuk semen instan.

Semen instan itu apa, sih?

Semen instan, atau yang biasa disebut dengan mortar, adalah adukan semen kering, pasir filler, dan bahan aditif yang sudah siap pakai dengan menambahkan air. Jadi, kita tidak perlu repot lagi membuat adukan semen dengan cara konvensional, sudah ketinggalan zaman. Selain lebih praktis, formula dari semen instan ini pun dibuat sesuai dengan kebutuhan teknis aplikasinya. Misal, untuk pembentukan lantai akan berbeda dengan untuk pembentukan dinding.
Nah, sebagai market leader di industri mortar, PT Cipta Mortar Utama, menjadi lokomotif perubahan dan inovasi untuk perkembangan semen instan. Salah satu unggulannya ialah Dust Lock Technology. Adanya teknologi ini dimaksudkan untuk membuat adukan semen menjadi rendah debu. Sebagai orang yang seringkali bermasalah dengan sistem pernapasan, jelas aku sangat suka teknologi ini karena dapat meminimalisir terjadinya gangguan pernapasan.

Dust Lock Technology ini bekerja dengan white oil yang terkandung di dalam formulanya. Tanpa mengurangi performa dari kekuatan dan adukan semen, white oil ini akan mengikat partikel kecil dan halus dari adukan semen tersebut sehingga mengurangi jumlah partikel yang berterbangan. Itu artinya, lingkungan bisa lebih bersih dan sehat, dong.

Saat ini, produk semen instan MU-Weber yang sudah menerapkan teknologi tersebut adalah MU-480 RenoFix LowDust, yang merupakan perekat keramik di atas keramik. Selain mengecilkan efek debu berterbangan, keunggulan lain dari produk ini adalah dapat mengganti keramik tanpa harus membongkar keramik yang lama. Di era dengan tuntutan yang serba cepat ini, menghemat waktu tentu sangat diperlukan, kan?
 
Tidak berhenti sampai di situ, MU-Weber juga menawarkan inovasi lain di luar pengembangan produknya. Yap, untuk mempermudah pelanggan dalam mengakses informasi, MU-Weber meluncurkan mobile application MU-Weber yang berbasis Android dan iOS. Bukan hanya sekadar menampilkan produk beserta deskripsi dan harganya, aplikasi ini tampil jauh lebih lengkap demi kemudahan pelanggannya. Karena pada dasarnya, MU-Weber bukan hanya berjualan, tetapi pun memberikan edukasi kepada pelanggan. 

Melekatkan Beda Tanpa Saling Meruntuhkan
Lagi-lagi soal edukasi. Lagi dan lagi perihal ilmu yang mesti ditanamkan di dalam diri. Jelas kan kalau pada tiap bidang sesungguhnya harus punya dasar? Yang pasti, tanpa harus menjadi orang lain dan menjatuhkan pihak yang berseberangan. Tetap damai dan jangan lupa belajar.




Tabik!


Pertiwi

You Might Also Like

23 komentar

  1. Beranjak sari seminar kepuisian ke semen. Kupikir ini mau mainan majas. Taunya... Bahas semen betulan.

    Sebagai bakul semen instan saat ini, hambok ya skripsinya itu buruan di lepo ben bakoh. Ra dianggurke wae.. Hahahahahak.

    BalasHapus
  2. Udah serius-serius bacanya dan manggut-manggut, terus... ah, sempak! Wahaha.

    Gue gak berani mikirin puisi lagi sampai segitunya. Cukup nikmatin aja. Terakhir kali coba merenungi itu, kepala langsung blank. :(

    Soft selling-nya makin mantep aja nih. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue juga maunya gak mikirin, tapi gimana dong? Kuliah gue gituan wakakak

      Muehehe soft selling adalah koentji.

      Hapus
  3. Menyebalkan, karena sedang menikmati tulisan. Langsung berubah tema bahasannya. Menyenangkan, karena sepagi ini sudah menemukan dua kesalahan.

    Ehehehehehe.

    BalasHapus
  4. Mbak. Anak teknik sipil ya. Heheh... hidup semen! Anak sastra mikirin unsur ekstrinsik puisi sampe botak bisulan. Bisa gitu? 😂😂😂

    BalasHapus
  5. Tulisannya langsung berubah awalnua bingung. Tapi Dust Lock Technology MU ini keren aku aja sampai takjub hahah

    BalasHapus
  6. Haahahaaa.. Sama nih disini juga bingung. tapi jadinya bisa komen. Kalau soal sastra ga bisa komen. Kalau soal Semen dan Apps nya bisa komen.

    berikut ini komennya : Wah Semen MU itu punya app sendiri ya. Kalau semen instant sebelah kan kerjasama dengan salah satu marketplace ecommerce. Ini deh contohnya https://www.youtube.com/embed/nutcseM9Yus

    BalasHapus
  7. Salam kenal mba Tiwi.. kemarin aku juga lihat info tentang MU Weber.. ku kira Manchester United ternyata semen instan a.k.a Mortar heheh

    BalasHapus
  8. hahahaha mbak tiwi artikelnya

    BalasHapus
  9. Terkadang, menjadi diri sendiri memang butuh waktu, Wi. Akupun demikian.

    Tapi, mau orang berkata apapun, aku akan tetap jadi diriku sendiri, meski salah *ea

    BalasHapus
  10. Peralihann bahasannya alus banget, soft sellingnya makin jago nih wi.. Dimulai dengan pembahasan soal puisi, dibahas terus lewat cerita cerita yg menyeret pembacanya fokus ke tema puisi, ketika sudah nancap dalam, eh tiba-tiba dialihkan bahasan jadi soal semen ..

    Ya secara tidak langsung, soft sellingnya swmwn mortar itu langsung nancap di benak para pembaca..

    Memang benar kata dosenku dulu, tiada masalah ketika dua orang punya satu tema gagasan yang sama, tapi toh pada nantinya tiap kepala punya isi yg berbeda. Dan ini adalah salah stu buktinya... Hari ini aku baca beberapa tulisan soal mortar ini, tpi ya semuanya berbeda gaya. Ada yg langsung to the point ke pembahasan produk, ada yg lewat cerita lain..

    Menurutku sih lebih baik penuturan produk lewat cerita kayak gini, jika sekiranya sudah pernah menggunakan produknya, akan lebih bijak jika menceritakan soal pengalaman memakai itu produk )))

    BalasHapus
  11. wahb inovasi baru nih mengenai semen dan ada aplikasinya lagi yang mana kita mengenai product dan harganya secara lengkap hanya melalui hape saja

    BalasHapus
  12. hahaha... udah baca serius mbak, mau ngasih solusi permasalahannya, lalu tiba-tiba kaget ada urusan persemenan, hahaha

    keren mbak

    BalasHapus
  13. Dulu saya pengen kuliah jurusan sastra. Tapi ndak dibolehin sama ortu karena katanya ntar cari kerjanya susah. Duh, nyesel =(

    Bridgingnya keren, btw =)

    BalasHapus
  14. Ah dosen kamu kok Gitu Wkwkw. Dulu aku sih ga pernah ada komentar macam Gitu dari dosen. Cuma Emang gaya kami beda sekali. Anak pendidikan rapi, sastranya ya Gitu Lah, ekspresif haha

    BalasHapus
  15. Walaupun suka sastra, tp kalau nyukili isi puisi males bgt. Untung bkn anak sastra, bahahah. Untuk MU Webernya, jd pengen liat aplikasinya kaya gimana

    BalasHapus
  16. Anak sastra serius mulu ya, kelihatnnya. Walaupun beda, membuat ikatan itu sah2 aja, spt semen instan

    BalasHapus
  17. Lagi mikir apa hubungannya sastra dengan semen. Hehehe..

    BalasHapus
  18. awalnya saya berpikir tulisan ini tentang kehidupan mahasiswa, dan gak taunya ending dari tulisan ini adalah tentang semen, tulisannya bagus, membuat dugaan saya menjadi salah :D

    BalasHapus
  19. Tiwiii.. Aku baca intro-nya brhrap akan dibawa melayang ke bbrapa thun silam saat masa2 kuliah, tp aku agak rancu kok judul sm isinya beda, apa aku yg slah baca, trnyata endingnya si mortar semen instant.. Hhee
    Gudjob yaaa cantiik

    BalasHapus
  20. Aku suka cara mengaitkan bahasan di awal dengan bahasan berikutnya 😁
    Btw semakin penasaran dengan 'wujud' semen instan yang dapat mengganti keramik tanpa harus membongkar keramik yang lama 😱

    BalasHapus
  21. aku mungkin ga bakal bisa mikirin cara menulis yg sangat halus seperti ini,. dari sastra, bisa dialihin mulus ke semen :D.. kamu ahlinya memang mba ;)

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer