Belajar Menulis dengan EYD | Welcome to My Own World - Pertiwi Yuliana
article

Belajar Menulis dengan EYD

Rabu, Februari 18, 2015

Belajar Menulis dengan EYD


Menulis adalah salah satu cara terbaik untuk mengabadikan kehidupan. Gue sendiri punya ambisi untuk mengabadikan nama dalam karya. Dalam sastra. Walaupun selama ini suka ikut nulis di beberapa antologi, tetap gak puas. Pengin punya satu buku dengan satu nama penulis: Pertiwi Yuliana. Udah.


Buat mencapai tujuan gue itu, jelas gue harus banyak belajar. Banyak sekali belajar. Apalagi, gue termasuk salah satu tipe orang dengan idealisme yang tinggi. Jujur aja, untuk nembus pasar, tulisan gue ini sangat kurang. Ya, kurang peminat. Coba aja liat ke toko buku, isinya—buat gue—memprihatinkan. Selera baca di Indonesia masih sangat disetir oleh penerbit. Gue dan beberapa teman kampus, khususnya, benar-benar jengah dengan keadaan seperti ini. Maka itu, kami mulai berencana untuk membangun bahasa Indonesia yang baik dan benar (lagi).

Kami punya cara yang berbeda-beda, memang. Tapi, tujuan kami tetap sama: mengembalikan keindahan bahasa persatuan kita. Dan cara yang gue ambil adalah lewat social media.

Gak sedikit orang yang bilang gue adalah orang yang menyebalkan dalam menyampaikan sebuah kritikan. Tapi, ada juga yang bilang suka sama cara gue. Alasannya, sih, karena mereka jadi tau salah-salahnya di mana aja dan bisa memperbaiki itu. Salut, sih, sama orang yang begini. Mau nerima kritikan dan mau memperbaiki kesalahan.

Kritik, itulah salah satu cara gue untuk bisa menyebarkan virus bahasa Indonesia. Ya, namanya juga virus: ada yang bisa nerima, ada yang enggak. Gak apa. Gue emang bukan siapa-siapa. Calon guru juga bukan, tapi gue punya murid. Haseek! Hahaha! Bukan, kok, bukan. Bukan murid, mereka teman sharing. Mereka yang pengin belajar menulis dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Mereka adalah…..


Sebetulnya bukan cuma mereka berdua yang suka sharing soal penulisan sama gue, tapi dari sekian banyak ya mereka yang paling menonjol “mau belajar”.

Agung menanyakan hal yang banyak orang tanyakan soal EYD, tentang penggunaan “di, ke, dan dari”. Gue mengembalikan pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan, “Apa bedanya di balik dengan dibalik?” Dan hasilnya gak buruk, kok. Basic-nya, dia udah paham. Cuma belum terbiasa. Nah, menulis sesuai EYD juga soal kebiasaan.
Posisi “di, ke, dari” sebagai kata depan atau imbuhan
Nah, ngebedain ini sebetulnya mudah, kok. Tinggal lihat kata yang mengiringinya. Kalau berupa keterangan tempat atau waktu, pasti penulisannya dipisah. Yap, ketika penulisannya dipisah itulah posisi “di, ke, dari” sebagai kata depan. Kalau kata yang mengikutinya bukan merupakan kata yang menerangkan tempat atau waktu, penulisannya disambung. Posisi “di, ke, dari” sebagai imbuhan.

Masih bingung?

Oke.
Apa bedanya di balik dan dibalik?
 Aku bersembunyi di balik pohon. (1)

Buku itu dibalik. (2)

Nah, pada kalimat pertama, jelas terlihat bahwa “di balik” merujuk pada sebuah tempat. Sedangkan pada kalimat kedua, “dibalik” bermakna sebagai kata kerja pasif dari membalik. Oke? Jelas? Sip. Itu berlaku juga untuk teman-temannya: ke dan dari.

Masalah yang lain, waktu itu ada yang mention gue via Twitter dan nanya, “Tiw, yang benar itu orang tua atau orangtua?” Mari kita bahas:
Apa bedanya orang tua dan orangtua?
 Pakai ilustrasi lagi biar gampang.

Senja ini, aku berbincang bersama kedua orangtuaku. (1)

Agaknya iba juga melihat orang tua yang begitu ringkih berjualan banting tulang di jalan. (2)

Nah, penjelasannya sebetulnya sederhana. Untuk orangtua tanpa spasi, bermakna sebagai orangtua kandung kita. Sedangkan orang tua dengan spasi bermakna lebih luas, sebagai orang yang lebih tua dari kita. Gampang, kan? Iya, semuanya cuma soal kebiasaan.

Kalau Yoga, awalnya gue kritik di blog-nya. Kritik sederhana, sih, gak sampai dalem banget. Cuma soal huruf kapital. Gue beberapa kali main ke blog-nya dan tetap sama. Gak ada huruf kapitalnya. Ini efek kalau nulis langsung di Blogger. Makanya, gue lebih suka pakai Ms. Word dulu biar gak capek hahaha! Cerita lengkapnya soal Yoga udah dia ceritain di sini.

Well, di tulisan itu gue cuma muncul sedikit banget, tapi komentarnya kebanyakan ngomongin gue. Berkat Yoga, gue eksis mendadak. Thanks, Yog! Gratis pelatihan nulis sampe tembus penerbit. *eaaak wahaha! 

Di antara Agung dan Yoga, yang kentara benar kemajuannya memang harus gue akui adalah Yoga. Semangatnya itu, lho. Agung kan rajinnya ngirim e-mail atau nge-Line tengah malem, kalau Yoga nanya via WhatsApp. Jelas bisa lebih intens buat sharing ini-itu. Kalau semua blogger semangatnya kayak gitu, gue yakin: ISI TOKO BUKU AKAN BERUBAH!

Belajar Menulis dengan EYD


Tapi ada yang bikin sedih, ada yang bilang gue lebay gegara chat aja pake EYD. Serius, nih, gue sedih. Bukan apa-apa, sih, ya. Tapi, seperti yang gue bilang, EYD itu soal kebiasaan. Kalau lo belajar EYD hari ini, sekadar teori tanpa penerapan yang pasti, lo bakal terus ngulang kesalahan yang sama. Makanya, sebisa mungkin kalau chat pun gue memang berusaha pakai EYD, awalnya. Tapi kalau sekarang memang jempol gue otomatis begitu. Maaf, ya, kalo yang chat sama gue berasa chat sama dosen. Pernah dibilang gitu soalnya sama temen kampus hahaha! Eh tapi, Agung sama Yoga kalo chat juga udah ber-EYD ria, lho! :p *Tiwi nyari temen*

Kalau ngomongin EYD, gak bakal kelar tulisan ini. Tapi, gue akan tetap menebar virus-virus bahasa Indonesia! Di tulisannya Yoga banyak yang mau kenalan, sinilah. Gue open kok buat diskusi perihal tulisan. Tapi yaaaaaa, mesti sabar. Katanya, gue kalo ngritik suka pedes. Pedes banget. Karetnya udah bukan dua lagi. Padahal biasa aja, ah. Dududu~~~

Belajar Menulis dengan EYD
Komentarnya Hawadis di post blog Yoga

Banyak orang yang bilang ke gue, “Ngapain, sih, masuk sastra Indonesia? Mau jadi apa? Sehari-hari juga udah pake bahasa Indonesia.”

Untuk orang-orang yang suka atau pernah bilang begitu, percayalah bahwa sastra Indonesia gak sesempit itu. Lagian, apa pantas bilang begitu kalau masih belum bisa bedain nama yang benar antara “di mana” dan “dimana”? Gue pribadi, di sini banyak sekali belajar. Bukan hanya soal bahasa, tapi seluk-beluk kehidupan.

Soal tips nulis sebetulnya udah pernah beberapa kali juga gue tulis di blog ini, tapi gak gue kasih label. Nanti gue bikin tab khusus, deh. Semoga blog ini bisa makin bermanfaat buat gue dan yang baca. Ayuk, yuk, yuk, sama-sama belajar!



Salam sastra,





Editor gadungan

You Might Also Like

45 komentar

  1. Yap. Setujuuu.. :D

    Semasa jadi editor dulu, aku jugak ngalamin ejekan-ejekan dan semacamnya. Hahah.. Dan sayangnya, ngga semua orang ngerti cara menyampaikan atau apa yang kita sampaikan..

    Selama niat kamu bagus, jalani aja. Kalok aku sekarang ini mengkritik dengan cara yang berbeda. Entah karena uda terlalu tua. ._.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesama anak sastra pasti paham :')
      Lopyu, Kak Beb :*

      Hapus
  2. Pintar kali ibu yang satu ini....

    mudah-mudahan bs jd sastrawati yang handal di segala cuaca.... kidding

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kak, masih lucu dan menggemaskan gini jangan dipanggil "ibu" dong, Kak :/

      Aamiin :)

      Hapus
    2. Masa...? aku becanda kali liana....namanya kunjungan pertama biar gak kaku...

      Hapus
    3. Panggil Liana bagus juga >…<

      Hapus
  3. Tiw, ini kali pertama baca blogmu, dan aku udah hati-hati banget mencoba komen dengan EYD hahahaha :D

    Ga pernah sebelumnya aku peduli dengan ejaan, ato kata-kata saat nulis komen. Disingkat seenaknya, hurup besar hurup kecil suka ngaco, yang sepele-sepele gitulah. Baru kali ini, sumpah :D

    Tapi, aku mau, mau banget malah, dikritik ama kamu. Tentang ejaan, cara penulisan ato apapun yang mungkin masih sering salah. Kamu bener kok, ini semua masalah kebiasaan aja. Makin terbiasa nulis yang benar, makin enak tulisan kita dibaca. Contohnya ga usah dibilang lagi. Ya punyamu ini ;)

    *Langsung bookmark di Favourite

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, Kak Fanny!
      Makasih udah ke rumah literasiku. Duh, komentarnya bikin senyum-senyum sendiri gini. Hihihi.
      Ayuk, nanti aku kritik, ya! :D
      Sekali lagi terima kasih apresisiasinya buat tulisan ini :)

      Hapus
  4. wah, hebat ya bu guru. pingin sekali-kali ibu jadi guru di kelas b.indo saya. nanti ibu ngajarin eyd dan tips-tips ngeblog lainnya. keren juga ya si yoga sama agung, di kritik terus sampe blognya bagus gitu tulisannya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jef, gue gak mau jadi guru. Gue mau jadi editor aja biar bisa leluasa ngomelnya. *ehh

      Ayuk belajaaar! :D

      Hapus
  5. EYD itu emang harus dibiasain biar bisa di terapin dimana aja. But, EYD gue juga masih banyak yang ngaco -_-

    BalasHapus
  6. Wah, kayaknya gue paling ngeyel, ya? Udah dikasih tau aja masih salah. Hih! :D
    Eh, ngomong-ngomong, makasih banyak loh, Tiw. Jangan bosen ngajarin gue. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Catetan dari gue dibaca bener-bener makanyaaah.
      Gak bosen, sih, demi bahasa Indonesia <3

      Hapus
  7. Gue salah satu penggemar sastra, termauk Sastra Indonesia. Dan dari situ saya mampu mengambil banyak hal :)

    BalasHapus
  8. Mbak Tiwi! Aku boleh join kelasnya? *eh
    Kepingin belajar juga :)

    BalasHapus
  9. Sepertinya saya memang harus banyak belajar EYD. Butuh banyak referensi penulisan, terlebih sekarang sedang menghadapi skripsi -__- #curhat

    Perbedaan arti orang tua dengan orangtua saja saya baru tahu. Waduh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya buka jasa penyuntingan naskah kok, Kak. Boleh sini skripsinya :p

      Hapus
  10. Asik! Gue jadi terkenalllllll~
    Wuoooohahaha. Nggak mau komen apa-apa. Cuma mau liat komentarnya Fikri. :))

    BalasHapus
  11. Niat gue awalnya juga sama kayak Yoga, ngeliat ada nggak komentarnya Fikri. :-d


    Eh iya, dulu gue beberapa kali mampir ke sini gegara lupa penggunaan partikel pun. xD
    Terutama yang pengecualian 12 kata yang 'pun'-nya disambung. Sering lupa. Sekalian nanya, kenapa yang 12 itu disambung? Jadi gue nggak repot-repot ngehapal bego kayak gini lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalian sekongkol! Hih!

      Kalo soal kenapanya, sih, gue masih belum tau. Tapi yang jelas memang duabelas kata itu mesti dihapal, gak ada cara lain, Nak. Maafkan, Bunda :/

      Hapus
  12. Kak Tiwiii, aku juga pengin banget belajar menulis yang baik dan benar. Tulisan aku masih kacau banget. :')
    Jangan bosen-bosen ngasih kritik dan saran ya, Kak. Jangan bosen-bosen sama pertanyaan aku.
    Aku sayang Kak Tiwi. Mwah~ :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti doong, ayuk sama-sama belajar :*

      Hapus
    2. Ini cewek pada emot cium-cium. Bikin pengin!

      Hapus
  13. Awal nulis, EYD gue berantakan banget. Yang seharusnya "di rumah" malah "dirumah". Perlahan seiring berjalan waktu karna sering baca sana-sini, jadi ngerti. Btw, gue baru tau perbedaan "orangtua" dan "orang tua". Thanks! :)

    BalasHapus
  14. Angkat aku jadi muridmu, Tiwi!

    BalasHapus
  15. Kritik aku! Kritik aku! Aku suka caramu~ du..du..du...

    BalasHapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  17. Heuheu angkat daku jadi muridmu, Kak! Gue juga sering salah dalam menulis. Kadang sering keliru soal penggunaan "Di, Ke, Dari". Mangkanya gue biasa-in diri untuk menerapkan penggunaan EYD serta tanda baca ketika mengirimkan SMS atau sekedar chatting. Boleh minta kontak yang bisa gue hubungin nggak, Kak? Mau nanya-nanya tentang EYD. Hehehe. Soalnya kalau nanya sama bokap yang emang wartawan, susah. Waktunya sering nggak klop. Hubungi gue lewat email ini ya kak: contact@rezaandrian.com. Boleh Line, BBM atau apa aja asal jangan whatsapp. Gue nggak main hehehe.
    Makasih sebelumnya kak udah mau sharing!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Line kita udah temenan, btw. Lo gue Line gak balas. Fayn.

      Hapus
  18. Apa tidak berpengaruh pada blog jika menulis di ms word lalu di copas ke blog..

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer