CERITA CINTA DISAAT MENDUNG BERKUASA | Your Favorite Devil's Advocate
poem

CERITA CINTA DISAAT MENDUNG BERKUASA

Jumat, Desember 14, 2012

Aku menyempatkan diri melihat ke luar jendela di tengah kesibukanku. Gelap. Entah mengapa suasana sendu menguasai hatiku. Di tengah kegelapan di atas sana seolah muncul kata-kata yang ingin ku ucapkan pada seseorang yang jauh di sana. Aku tak sanggup mengungkapnya karena memang mungkin aku tak berhak atas dirinya. Hanya dua kata yang selalu membuatku menangis, aku rindu.

Membuka lembaran demi lembaran masa lalu yang kian lama kian sirna dari dirimu. Lagi-lagi, aku rindu. Masa-masa indah yang selalu kita lewati bersama. Kamu yang selalu menghapus air mataku dan mengembalikan ulasan senyumku. Menghilang, semakin menghilang ditelan waktu. Sebuah rasa yang sungguh sulit dijabarkan dengan barisan kata-kata. Rasa yang membuatku merasa sendiri di tengah keramaian. Membuatku jatuh saat aku memiliki penopang. Dan kembali lagi, membuatku menangis. Rasa itu, aku sakit.

Ku buka jendela dan ku dapati tamparan angin kencang menyentuh wajahku. Nuansa muram yang semakin terasa memilukan. Haruskan ada duka dibalik keindahan? Bumbukan itu? Bumbu yang berlebihan itu tidak baik bukan? Entah harus apa, aku hanya ingin menangis. Jika dapat aku berdiri di tengah hamparan rumput hijau yang senantiasa mengiringi kesedihanku, aku ingin mengadu pada rumput yang bergoyang. Aku lelah.

Aku ingin dia yang dulu, mendampinginku entah apapun keadaanku. Mengiringi tiap langkahku dan menjadi penopang disaat semangatku berlalu bersama hembusan angin itu. Kini aku merasa benar-benar sendiri. Tiada lagi kamu. Kamu tau? Bagaimana aku saat kamu membisu sementara aku menunggumu di tempat itu? Aku hanya menangis... dan kesakitan. Entah mengapa kepedulianmu sungguh hilang akan diriku. Saat itu, ku kenakan gaun putihku untuk menyambutmu, pangeranku yang lama tak ku jumpai. Aku ingin melihat senyummu yang telah sekian lama tak ku lihat. Apakah masih semanis dulu? Aku hanya ingin jujur, aku sakit.

Entah harus berapa lama lagi aku menuliskan kisah sedihku, hingga kamu sadar dengan sendirinya. Aku hanya menghindari kemarahanmu, maka... aku diam.

Bukan hal yang wajar jika satu sisi terus menangis di saat sisi lainnya tak peduli. Namun aku selalu menghapus ketidakwajaran itu dengan kata, aku kuat.

Kekuatan yang datang bukan karna kemauanku, tapi kamauanmu. Ya, kemauanmu untuk kembali menjadi penopangku yang dulu. Mungkin memang belum terlihat kamu akan melakukannya, tapi... aku percaya.

Dalam diam aku berbisik pada hatiku, "jangan biarkan dia menjauh". Aku tak sekuat yang terlihat. Air mata adalah pertahanan terakhirku, dan sudah berapa banyak pertahanan yang kukeluarkan? Entah, aku hanya inginkan kamu. Maka... aku bertahan.

Megerti atau tidak itu tidaklah penting. Yang harus kamu ketahui hanyalah... aku sayang.

You Might Also Like

0 komentar

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer