Ketika Korporasi Kretek Membayangi Anak-anak | Your Favorite Devil's Advocate
article

Ketika Korporasi Kretek Membayangi Anak-anak

Sabtu, April 06, 2019


Ada sepasang kaki yang melangkah menyusuri sebuah jalan kecil di pinggiran ibukota. Melewati rumah-rumah yang berjajaran rapi dengan pintu tertutup rapat. Di ujung blok itulah tujuannya. Satu hunian sederhana bertembok hijau dengan pintu coklat yang bisa dibuka dengan kunci yang ada di saku kanan celananya. 

Ceklek. 

Tiga anak kecil menyambut di balik pintu dengan senyum riang. Peluk cium dilayangkan sebagai tanda kasih sayang. Senda gurau yang dilanjutkan makan bersama telah dilakukan. Kemudian, anak-anak mengambil posisi ternyamannya masing-masing untuk tidur siang. 

Kaki-kaki itu kembali melangkah. Meja kayu di samping rak buku yang sekarang jadi arah langkah. Sebuah buku bersampul putih di sana cukup menarik perhatian rupanya. Studi Media dan Kajian Budaya, tertulis di muka. 

*** 

Dosenku pernah bilang, mempelajari sastra adalah sama halnya dengan mempelajari kehidupan. Sampai sekarang, aku masih mengamininya sebagai sebuah kepercayaan. 

Banyak sekali materi yang aku dapat di kelas yang bisa langsung aku aplikasikan di kehidupan. Menyenangkan. Menjadi pemerhati, membaca manusia, dan meneliti fenomena. Aku merasa semakin hidup dengan berada di jalan yang tepat. 

Salah satu mata kuliah yang menurutku sangat terpakai sekarang adalah semiotika. Semiotika sendiri merupakan metode yang dipakai untuk mengenali tanda-tanda. Cocok sekali dipelajari oleh kamu yang suka memberi atau menerima kode-kodean! 

Namun sungguh, ini begitu berguna untuk membuat kita lebih peka terhadap sekitar. Seperti misalnya ketika mendapati dugaan eksploitasi anak yang terjadi di ajang pelatihan bulutangkis dari Djarum Fondation. Aku jadi tergerak untuk sedikit mengulasnya dengan teori semiotika dari Roland Barthes. 

Dalam esainya yang berjudul “Myth Today” (1967), Barthes menawarkan konsep “mythologies”. Di dalam tulisannya tersebut, Barthes membuat formula model semiologi untuk membaca budaya populer dengan mengambil skema Saussure “signifier / signified = sign” dan menambahkan dalam tingkatan signifikasi kedua (second signification level). 

Barthes membagi signifikasi makna dalam dua level. Pertama, yang disebutnya sebagai “primary signification” yang di dalamnya terdiri dari signifier dan signified, serta sign (denotasi). Kedua, disebut sebagai “secondary signification” yang terdiri dari signifier, signified, dan sign (konotasi). Text book banget bahasanya, yaaaa? Maaf, maaf hahaha. 

Okey, yang jadi permasalan utama di dalam dugaan ekploitasi anak ini kan perihal kaos yang digunakan oleh para peserta beasiswa bulutangkis Djarum, ya. Kenapa? Karena logo perusaan rokok tersebut terpampang nyata dengan sangat besar di bagian depannya. 

Logo “Djarum” yang digunakan di dalam kaos para peserta beasiswa pelatihan bulutangkis tersebut berlaku sebagai signifier yang di dalam tingkatan primary signification memproduksi arti perusahaan rokok. Lho, kenapa kok perusahaan rokok? Padahal, kan, acara ini enggak ada kaitannya dengan rokok. 

Iya, sih, memang enggak ada elemen rokok sebagai lintingan tembakau yang ditunjukkan di dalamnya. Namun, sebagai salah satu perusahaan rokok besar di Indonesia, kita sudah begitu hapal dengan kekhasan logo perusahaan tersebut. Mulai dari bentuk hurufnya, sampai dengan tulisan kata “Djarum” yang masih menggunakan ejaan lama. Sulit rasanya untuk mengelak bahwa “Djarum” di dalam logo kaos tersebut secara denotatif merujuk pada perusahaan rokok. 

Nah, di tingkatan kedua atau secondary signification, ternyata diarahkan dengan menggiringnya pada arti beasiswa pelatihan bulutangkis. Myth atau mitos yang dimaksud oleh Barthes adalah bagian dari sistem aturan kedua atau secondary signification dari signifikansi atau makna, yakni makna konotasi dari gambar atau sign yang kita amati. 

Sedangkan, Barthes mengartikan mitos-mitos adalah ideologi yang dipahami sebagai bodi ide-ide dan praktik-praktik yang secara aktif mempromosikan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok dominan di dalam masyarakat yang mempunyai struktur kekuasaan. 

Well, sudah terasa ada yang janggal?

You Might Also Like

3 komentar

  1. Sudah merasa janggal mba. Wah aku baru tahu ada teori semiotik ini mba yang terbagi atas primary dan secondary signification.

    BalasHapus
  2. Kalo cwo gak peka ma kode2an mba heheehe

    BalasHapus
  3. Tiw, kamu itu anak komunikasi yaa?

    Seru nih pakai metode semiotika dalam mengungkap kejanggalan korporasi kretek di atas*

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer