Perkembangan Financial Technology, Berkah atau Masalah? | Your Favorite Devil's Advocate
article

Perkembangan Financial Technology, Berkah atau Masalah?

Jumat, Desember 07, 2018



Aku selalu percaya, bahwa menulis bisa membawaku ke mana-mana. Keberadaan kakiku di langkah yang sedang kupijak sekarang adalah bagian kecil daripadanya. Kesukaanku menulis membuatku benar-benar percaya, bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia. Selama kita mau menjalaninya.

Sejujurnya, aku adalah seorang yang begitu malas. Segala bentuk keribetan dunia yang ada di depan mata, sebisa mungkin, aku hindari sejauh-jauhnya. Jadi, ya, enggak heran kan kalau kuliahku sampai saat ini belum selesai juga? Hahaha.

Aku memang tidak pandai untuk menghemat waktu kuliah, tapi kurasa aku cukup mahir menekan agar pengeluaranku tidak membludak. Namun, urusan finansial ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar menghemat uang yang sedang dipegang. Kembali, menulis membuatku lebih sadar dan peduli untuk urusan finansial.

Keberadaanku di sebuah perusahaan finansial sebagai penulis paruh waktu membuatku jauh lebih tau apa yang harus aku lakukan dengan sedikit uang yang aku genggam. Terlebih, dunia financial technology yang mulai merambah luas membuatnya jauh lebih mudah. Namun, perkembangan fintech ini sebenarnya menguntungkan atau malah merugikan, ya?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, rasanya kita perlu tau terlebih dahulu mengenai jenis-jenis bisnis di dalam dunia financial technology. Namun, aku akan menuliskan apa yang pernah aku alami lakukan saja. Jadi mungkin belum sanggup merangkum semua jenisnya.

Investasi

Bagi kamu, seberapa pentingnya masa depan? Menginjak apa yang orang sebut dengan quarter life, aku mulai banyak sekali memikirkan cara-cara yang mungkin bisa aku gunakan untuk lebih menjamin hidupku di masa yang akan datang. Hal pertama yang terlintas adalah investasi.

Berkat sedikit banyak pengetahuan yang aku dapatkan semasa menjadi penulis paruh waktu di perusahaan finansial seperti yang telah aku sebutkan tadi, aku memilih untuk memulai pengalaman investasiku dengan reksadana dan tabungan emas.

Ada banyak kok jenis investasi lainnya, tapi kupilih dua itu karena disebut-sebut paling mudah untuk pemula. Menyenangkannya, kini kita sangat dimungkinkan untuk berinvestasi dengan cara yang lebih gampang. Ya, apalagi kalau bukan dengan bantuan dunia digital?

Pembayaran

Yang ini jadi favoritku untuk kugunakan sehari-hari di ibukota, sih. Kalau kamu adalah seseorang yang seringkali melakukan transaksi dengan menggunakan uang elektronik/digital, berarti kamu pun sudah tidak asing dengan jenis fintech yang satu ini.

Yap, karena sejatinya budaya cashless mulai menjaring masyarakat untuk mengubah kebiasaannya. Apalagi, ada berbagai macam bentuk uang elektronik yang tersedia. Mulai dari kartu debit, kartu kredit, dan produk-produk fintech lainnya yang bisa dengan mudah didapat dan digunakan.

Peminjaman uang (peer to peer lending)

Well, untung poin satu ini, aku belum lama ini baru saja mencobanya. Dan, rasanya sungguh menyenangkan dan menguntungkan, tentu saja. Aku memosisikan diri sebagai pemodal, tapi kita juga dimungkinkan untuk meminjam dana jika membutuhkan dengan adanya jenis financial technology yang satu ini. Kalau kamu penasaran bagaimana kerjanya, kamu bisa mulai cari tau lewat dua start up yang aku rekomendasikan, yaitu: KreditCepat dan CashWagon.

Nah, dari sedikit yang aku tau ini, bisa enggak sih kita simpulkan jawaban dari pertanyaan yang sudah dilempar di awal?

Oke, mari kita mulai untuk bedah manfaat terlebih dahulu ya.

Perencanaan investasi menjadi lebih teratur

Beberapa medium yang memungkinkan kita untuk melakukan investasi online sekarang bukan sekadar menjadi wadah kita untuk itu, lho. Mereka juga menyediakan banyak sekali pengetahuan dan bimbingan untuk kita yang masih pemula.

Enggak usah terlalu khawatir akan salah langkah, sebab sudah ada ahlinya yang akan menuntun agar investasi yang kita tanam bisa berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan.

Kemudahan pembayaran

Jujur, ya, aku tuh orangnya sangat berantakan. Naruh uang aja bisa tercecer di mana-mana. Enggak hilang, memang. Apalagi lenyap dibelanjakan, enggak banget. Hanya seringkali terselip entah di mana. Kalau butuh, enggak ada. Giliran enggak butuh, muncul tiba-tiba. Ajaib, memang.

Sekarang, aku enggak seribet dulu lagi kalau mau bayar ini itu yang kubeli. Sebab, uang-uangku sudah aman di dalam berbagai kartu. Enggak mudah tercecer juga karena bentuknya yang lucu-lucu membuatku senang mengoleksi dan mengumpulkannya dalam satu wadah kartu yang selalu ada di mana pun dan kapan pun keberadaanku.

Penghematan

Bagiku pribadi, terasa betul bagaimana budaya cashless membuatku semakin irit dalam membelanjakan uang yang aku punya. Menjadikanku cukup malas memegang uang dalam bentuk fisik, sehingga mendorongku untuk menekan keinginan beli ini-itu.

Iya, soalnya rumahnya masih di kampung. Jajanan yang dekat adanya warung. Alhamdulillah belum ada mesin EDC di warung dekat rumahku. Ehehe.

Pinjam uang menjadi lebih mudah

Urusan finansial memang menjadi momok yang enggak ada habis-habisnya di dalam masyarakat. Dan, fintech membawa angina segar di tengah kegersangannya. Kalau perlu uang cepat, tapi malu sama saudara atau tetangga kalau pinjam, ini bisa jadi solusi yang sangat apik.

Enggak usah membayangkan banyaknya berkas yang harus kamu kumpulkan sebagai syarat peminjaman, proses yang harus kamu lakukan terbilang mudah dan cepat. Setelahnya, dana bisa segera dicairkan secara kilat. Enggak percaya? Coba aja mampir ke KreditCepat dan CashWagon untuk tau detailnya.

Dunia financial technology memang enggak hanya membawa hal positif. Seperti yang kita tau, ya, keseimbangan alam itu selalu ada. Ada baik , ya pasti buruk pun mengikutinya.

Persaingan dengan perbankan

Enggak heran kalau hadir dan meluasnya fintech ini bisa menjadi ancaman yang cukup membahayakan bagi perbankan. Sebab, bisa kita bandingkan, prosesnya lebih cepat dan mudah. Semisal kita sedang membutuhkan biaya mendesak, fintech bisa menyediakannya tanpa perlu banyak berkas yang harus disiapkan seperti proses peminjaman di bank.

Banyaknya start up fintech illegal

Kepercayaan masyarakat yang mulai tumbuh pada dunia financial technology ini ternyata membawa tangan-tangan nakal untuk mengambil keuntungan secara semena-mena. Pokoknya, kalau kamu ingin menggunakan jasa fintech yang terpercaya, periksa lagi apakah sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau belum, ya.

Simpulannya, kembali ke pertangaan semula ya, perkembangan fintech ini sebenarnya menguntungkan atau malah merugikan, ya?

Well, jelas tergantung penggunanya. Enggak hanya dunia yang boleh bergerak semakin maju. Enggak hanya keadaan yang bisa berkembang sedemikian cepat. Namun, pikiran kita juga harus bisa melesat mendahului apa yang ada di sekelilingnya.










Tabik!





Pertiwi

You Might Also Like

1 komentar

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer