Terima Kasih, Path! Atas Bahagia dan Luka yang Ditimbulkannya | Your Favorite Devil's Advocate
personal

Terima Kasih, Path! Atas Bahagia dan Luka yang Ditimbulkannya

Minggu, September 16, 2018

Terima Kasih, Path! Atas Bahagia dan Luka yang Ditimbulkannya

Kabarnya, Path mau ditutup. Entah isu ini memang yang sebenarnya akan terjadi, atau hanyalah sebuah gembar-gembor untuk mendongkrak kembali eksistensi yang kian menipis. Namun yang pasti, hal ini membuat banyak orang berbondong-bondong kembali membuka akunnya masing-masing. 

Awalnya, aku cukup enggan. Sebab, aku tau ada banyak kenangan dan serpihan luka yang tersebar di dalamnya. Sayangnya, pertahananku gagal gegara melihat banyak dari mereka yang mengunggah kenangan-kenangannya di Path ke media sosial lain yang masih aktif kugunakan seperti Twitter dan Instagram. 

Ya, kenangan memang selalu punya caranya sendiri untuk kembali. 

Aku, tuh, sudah setahun lebih rasanya enggak buka Path lagi. Sebetulnya, ada dua hal yang membuatku malas saat itu. Pertama, teman-teman Path (yang kebanyakan adalah teman dunia nyata) terlalu banyak unggah foto segambreng. Ya kalau Path bisa dibuat kayak album Facebook, sih, enggak apa-apa ya. Pfth. Kedua, ada orang yang kuhindari. Beliau ini bilang suka aku, tapi sudah punya istri. Dan, nge-add Path-ku berkali-kali. Creepy enough. Bye! 

Oh iya, sempat juga sih pengin buka Path. Karena, waktu itu lagi nulis tentang perjalanan KKL. Nah, rute perjalanan KKL saat itu aku update banget di Path. Ya, sekalian biar kayak orang jalan-jalan mulu yekan. Makanya, tiap berhenti ya check in location dulu wahaha. Namun, karena lupa email yang aku gunakan, yasudah kupasrah saja. 

Terima Kasih, Path! Atas Bahagia dan Luka yang Ditimbulkannya

Forgot password yang berkali-kali gagal telah aku lalui demi mengucapkan selamat tinggal sembari membuka kenangan di Path. Untungnya, akunku terintegrasi dengan nomor handphone, jadinya kubisa ingat email mana yang kupakai untuk registrasi akun. Well, di sanalah aku, bersama kegelapan dan keheningan malam, membuka kembali apa yang pernah terlewat. 

Akun tersebut adalah akunku yang kedua. Yap, sebab akun pertamaku terpaksa harus kuhapus karena aku tertekan dalam hubungan dengan seseorang pada saat itu. Namun, karena bisikan-bisikan setan yang kusayangi semasa KKN, aku membuat akun baru yang masih ada sampai saat ini secara diam-diam. Menarik. Biar ada deg-degannya gitu. 

Dari akun baru ini aku kembali sadar, aku pernah sebegitu mencintai teman-teman dunia nyata. Teman-teman yang tangannya selalu terulur ketika aku menghadapi masalah. Untuk Malika, Dhini, Nadya, Harbie, Cahya, Echa, Dedek, Bang Dadan, Bang Sarip, I love you all. And, I already miss you, Guys. 

Terima Kasih, Path! Atas Bahagia dan Luka yang Ditimbulkannya

Mungkin, aku mengenal dan dekat dengan mereka hanya sebentar. Ya, benar-benar sebentar. Berada di dalam satu rumah dalam waktu satu bulan itulah yang membuatku merasa begitu dekat. Aku enggak nyangka kalau teman-teman kelompok KKN bisa seasyik mereka. Enggak pernah kepikiran, sebab kebanyakan bilang enggak cocok dan banyak keributan. Dengan mereka? Ketawa terus sampai merasa awet muda! 

Aku masih ingat betul bagaimana gatelnya aku dan Malika kalau enggak ketemu mereka selepas KKN usai. Hampir setiap hari penginnya ketemu dan main bareng. Walaupun yang paling dekat dan mudah ditemui hanya anak-anak Fakultas Ilmu Pendidikan, tapi setidaknya itu bisa mengobati kangen yang membanjir di dada. 

Sekarang, semuanya sudah punya kesibukan masing-masing. Mereka semua sudah lulus, Dhini masih nunggu wisuda, tinggal aku yang masih berkutat dengan skripsi. Sembari menulis kalimat demi kalimat ini, aku benar-benar rindu momen selepas makan siang di Take a Rest dan aku memeluk kalian satu persatu. Terima kasih banyak, sudah menjadi teman yang begitu istimewa. Walau kehadirannya sudah tidak lagi mewarnai hidupku yang kembali menggelap. Aku tetap sayang kalian. 

Selain cinta yang menyenangkan untuk orang-orang yang telah kusebutkan di atas, aku juga menemukan kegilaan dari cinta yang lainnya. Cinta yang menyakitkan. Cinta yang pernah membuatku mati rasa. Cinta yang membuat kebodohanku berkuasa. Cinta yang enggak akan mau aku ulang.

Terima Kasih, Path! Atas Bahagia dan Luka yang Ditimbulkannya

Beberapa artikel di blog ini sudah menyebutkan namanya secara gamblang. Maka, kali ini kurasa sudah tidak perlu lagi. Dia adalah seseorang yang pada masanya pernah membuatku mendamba lupa. Sebab, memiliki ingatan yang sebegini kuat sudah menjadi petaka. Bagaimana tidak? Aku begitu memuja kenangan manis tentangnya sampai berharap kami bisa kembali menjelma kita. Mustahil yang masih kusebutkan dalam doa. 

Saat itu, aku benar-benar lupa. Lupa bahwa dia adalah sosok yang tidak pantas untukku di masa depan. Dan bodohnya, aku mau-mau saja dimanfaatkan olehnya. Hidupnya yang kacau membuatnya banyak berutang, bahkan kesulitan makan. Adanya aku, setelah dipikir-pikir, seperti oasis yang menyegarkan (jika tidak mau disebut ATM berjalan). Ketika sudah kembali dan kembali lagi berulang, akhirnya kesadaranku menang di atas kebodohan. 

Aku sudah jauh lebih bahagia sekarang. Semoga, orang-orang yang pernah menyakiti dan kusakiti pun hidupnya bisa lebih bahagia. 

Berkat akun Path yang kembali kubuka, aku jadi lebih tau bahwa keadaanku sudah lebih menyenangkan. Masalah memang tidak akan berhenti membersamai hidup kita, tapi jangan pernah menyerah! Aku bersyukur, aku bisa melihat masa lalu dengan senyum. Pun bisa tertawa sambil berkata, “Aku sudah bukan aku yang dulu, aku bisa lakukan lebih dari itu.” 










Tabik! 





Pertiwi

You Might Also Like

8 komentar

  1. saya malah gak punya akun path. jadi kenangannya ya cuma “padahal belum bikin akunnya”

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuhanya sempat ingin menampakkan eksistensi diri seperti kebanyakan anak muda lainnya hahaha

      Hapus
  2. udah lamaaa kali ga buka path mungkin2 tahunan.

    dulu mau tidur n bangun tidur aja update path. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaa banget! Hahaha cuma lewat Path, orang-orang bisa tau kapan aku bangun dan tidur.

      Hapus
  3. Aku mah udah hapus akun dari 2016. Karena terlanjur uninstall terus nggak lagi mau meninggalkan jejak digital di banyak medsos. Hahaha.

    Tapi Path termasuk banyak kenangannga sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku suka Path tuh dulu karena benar-benar private. Sementara, media sosial lain kupakai memang untuk pencitraan wkwkwk jadi agak sedih walaupun udah lama gak pakai.

      Hapus
  4. Yaah, belum pernah pakai Path, udah tutup aja :(. Dulu bukan anak medsos banget sih, jadi ga nyoba-nyoba main banyak medsos. Moga telegram gak menyusul ya. Aaminnn.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggaklaaa. Masa Telegram juga ikutan, sih? Heu jangan sampai.

      Hapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer