Dua Tiga – Dua Empat | Your Favorite Devil's Advocate
personal

Dua Tiga – Dua Empat

Selasa, Agustus 07, 2018

Dua Tiga – Dua Empat


Alhamdulillah. 

Yak, sebuah awalan yang tidak biasa untuk tulisan-tulisan di blog ini. Namun, kurasa memang satu kata itulah yang begitu tepat menggambarkan bagaimana aku dan kedua angka yang tertera dalam judul. Sebuah ungkapan untuk rasa syukur.

Banyak hal luar biasa yang telah terjadi. Tangis dan airmata sudah menjelma sahabat yang selalu setia menemani. Beruntungnya, kali ini ada seseorang yang bisa membantuku menopang keputusasaan. Sehingga, beban berat yang sedang dirasa jadi berkurang. 

Juli kali ini berbeda sekali. 

Di tahun-tahun sebelumnya, seingatku, aku belum pernah sebahagia ini. Ya memang enggak ada kado mahal, enggak ada kejutan yang mengagetkan, enggak juga dengan perayaan yang menghambur-hamburkan uang. Bahagiaku sederhana, sesederhana menghabiskan waktu dengan orang-orang yang disayang. 

Banyak sekali yang ingin aku ceritakan kali ini, tapi kurasa pengujung dua tiga di tanggal 16 Juli dan awal dua empat di tanggal 17 Juli adalah dua hari paling menyenangkan dalam sejarah pergantian usia yang pernah kumiliki. Berlebihan? Enggak, ah, mungkin kamu hanya belum kenal aku aja~ 

Ujung dua tiga dengan mereka bertiga. 


“Senin ke tempat gue dong. Sekalian ambil bakpia, nanti kelamaan habis sama gue,” chat dari Aziz yang baru pulang liburan kilat di Jogja ini masuk ke gawaiku setelah kupameri card game yang baru kami beli di acara Bekraf Game Prime 2018. Ya, jelas saja kuiyakan. Main ke tempat Aziz itu sama dengan wifi gratis. Kali itu, ditambah bakpia pula. Masa ditolak? 

Sekitar pukul dua siang kami baru sampai di Maharani Guesthouse Tebet, tempat di mana Aziz tinggal sekaligus bekerja. Enak, ya, kerja kayak gitu. Itu kalau enggak kutelepon juga belum bangun kayaknya. Hhh. 

Kami langsung ke lantai dua, karena di sana memang sedang ada tamu. Ilham langsung buka laptop, pencari wifi sejati memang beginilah adanya. Selepas menggarap beberapa bagian untuk naskah video di tempatnya bekerja, kami makan bakpia dan minum teh pucuk jumbo yang sudah menggoda di atas meja. 

Waktu yang kami punya setelahnya kami gunakan untuk bermain. Card game Bluffing Billionaires ini memang menyenangkan sekali. Selain membantu orang-orang seperti kami untuk lepas sejenak dari gawai yang kami miliki, permainan ini juga membuat kami merasakan sensasi menjadi orang paling kaya! Wahahaha! Lain kali, mungkin aku akan menuliskan tentang game ini, ya.

Dan, ya, tidak diragukan lagi bahwa aku berbakat sekali untuk menjadi horang khaya! 

(bukti foto) 

Ronde pertama kami lakukan hanya bertiga: aku, Ilham, dan Aziz. Selepas jam kantor selesai, Mas Yoga datang juga. Ya, sekalian mengembalikan charger-nya Ilham yang tidak sengaja tertinggal di indekosnya. Sebelum mulai ronde kedua berempat, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Baiknya mereka mau menemaniku yang sedang ingin makan mie ayam padahal abang mie ayamnya di sana jarang. 

Sejak pertama kali main berempat dengan mereka, memang aku merasa sudah klop. Tiap kepala punya porsinya masing-masing di dalam obrolan. Banyak tawa yang meringankan pikiran. Semacam bisa melupakan masalah-masalah sejenak. Enggak serta-merta melenyapkan pedih, tapi perannya begitu berarti. 

Sambil makan, kami ngobrol-ngobrol. Ya, atau lebih tepatnya mendengarkan Aziz yang baru saja melewati perjalanan dengan Lulu dan keluarga. Pun pertemuannya dengan Abek, sang teman lama. Di mana ada Aziz, sudah pasti di situ pula ada telinga-telinga yang siap mendengarkannya berkicau sepanjang jalan kenangan. 

Kalau tidak ingat orangtua yang punya tingkat kekhawatiran berlebihan, rasanya aku tidak ingin pulang walaupun jam sudah menunjukkan lebih dari pukul sepuluh malam. Sempat melempar pandangan ke langit, mensyukuri malam itu karena bisa kuhabiskan dengan banyak sekali tawa yang menggema. Terima kasih, kalian bertiga. 

Membuka dua empat bersamanya 


“Aku mau potong rambut,” kataku di hari sebelumnya. Ingin sesuatu yang baru rasanya untuk membuka usia yang baru. Simbolisasi remeh aja, sih. Bahwa, aku harus menjadi pribadi yang lain dan lebih baik dari sebelumnya. Membuang hal-hal menjijikkan yang masih menempel pada aku dengan angka yang lalu.

Jadilah aku benar-benar memangkas rambutku sampai tertinggal ujung helai-helai yang menyentuh bahu. Tau apa yang kurasa setelahnya? Di balik prosesnya yang singkat, untaian hitam panjang yang jatuh seperti melenyapkan segelintir muram yang aku pelihara sekian lama. Lega. Senyumku lebih terasa berharga.

Karena hari itu adalah hariku, aku tau lelakiku pasti ingin membahagiakanku. Berawal dari niatnya membawaku ke tempat karaoke dengan bermodal SMS promosi dari sebuah provider, kami malah menemukan promo ulang tahun yang mengizinkan kami untuk menikmati dua jam mengeluarkan suara tanpa biaya. Wah! Keberuntungan sedang berpihak, jangan disia-siakan!

Aku tau, Ilham memang tidak pandai bernyanyi. Namun, aku terharu saat kegiatan karaoke dadakan tersebut dia buka dengan lagu Selamat Ulang Tahun dari Jamrud dan ditutup dengan lagu Happy Birthday dari Ten2Five. Aku memandangnya, melantunkan setiap lirik yang ada di layar dengan begitu semangat. Sesemangat segala seruannya yang selama ini ada di sampingku sampai sekarang.

Mungkin, aku memang menggantungkan kedamaianku di masa depan kepadanya. Namun, aku tidak setakut sebelumnya untuk bergantung pada seseorang. Sebab, aku tau kali ini aku tidak melakukan kesalahan. Kalaupun ya, aku akan dengan senang hati memaafkan kesalahan yang aku perbuat. Aku akan ikhlas melakukan kesalahan jika itu adalah jalanku menuju kita; aku dan dia.

Orang yang bergandengan denganku sekarang adalah seorang yang sederhana. Orang yang bersedia jungkir-balik demi aku dan kebahagiaanku seorang. Orang yang bersedia berjalan sejajar denganku tanpa menyeret ataupun mencambuk kasar. Orang yang aku tunggu untuk menambal lubang besar dari timbunan kesalahan di masa silam. Aku memang pernah kecewa, tapi kumasih menyimpan segudang percaya untuknya.

Juli kali ini memang berbeda.

Hadiah besar yang diberikan lelakiku, bagiku, bukanlah saat di mana dia membawaku ke pusat aksesori di kota asalnya. Namun, saat di mana dia menyatakan kesiapannya menjadi pendampingku di hadapan keluarganya.

Juliku kali ini memang berbeda. Karena masa depanku sudah tampak nyata.









Tabik!






Pertiwi

You Might Also Like

0 komentar

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer