Pulihkan Memori dengan Kunjungan ke KBA Rawajati | Your Favorite Devil's Advocate
event

Pulihkan Memori dengan Kunjungan ke KBA Rawajati

Rabu, April 25, 2018

Pulihkan Memori dengan Kunjungan ke KBA Rawajati

Hari Bumi Sedunia yang jatuh pada tanggal 22 April selalu sukses membawa saya kembali ke masa putih-abu. Saat di mana saya masih aktif menjadi anggota ekstrakurikuler karya ilmiah remaja (KIR) di sekolah. Masa di mana saya begitu dekat dengan apa yang masyarakat dominan sebut dengan sampah.

Yap, kebiasaan ini sudah bagaikan mendarah daging sedari saya kecil. Saya suka sekali mengumpulkan barang-barang seperti bungkus-bungkus plastik, kertas kado bekas, dan banyak lagi yang bagi sebagian orang merupakan benda tidak berguna. Namun, di sanalah seni menampakkan wujudnya, kan? Mengubah yang tampak tidak berharga menjadi sesuatu yang bernilai guna.

Tepat pada peringatan Hari Bumi Sedunia di tahun 2011 silam, ekstrakurikuler KIR sekolah saya mengadakan sebuah pameran. Apa isinya? Banyak! Fokusnya adalah pemanfaatan limbah. Nah, kebetulan saya masuk ke kelompok pengolahan limbah plastik. Dan, saya berhasil menjual beberapa jepit rambut kreasi limbah plastik yang saya buat. Senang rasanya, apalagi pembina KIR yang terkenal galak memuji hasil tangan saya.

Banyak sekali yang telah saya pelajari dari keikutsertaan saya dalam ekstrakurikuler tersebut. Selain mengasah kreativitas yang dipunya, kegiatan-kegiatan di dalamnya juga mengajarkan saya untuk mencintai lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Rindu rasanya untuk kembali berada di tengah mereka.

Namun, kembali ke masa yang sama tentu tidak memungkinkan. Ya iyalah, saya bukan Doraemon yang punya mesin waktu dan pintu ke mana saja.

Untungnya beberapa hari lalu, tepatnya April 2018, memori tentang masa itu kembali terkuak dengan begitu jelas ketika saya dan empat narablog lain mengunjungi Kampung Berseri Astra (KBA) Rawajati. Ada rindu yang menemukan rumahnya. Dengan suguhan ucapan selamat datang yang begitu ramah, kami mulai berkenalan.

Pulihkan Memori dengan Kunjungan ke KBA Rawajati

KBA Rawajati, surga kecil di kawasan DKI

Rawajati, itulah nama kampung yang pada Februari 2015 lalu diresmikan sebagai salah satu Kampung Berseri Astra (KBA). Sejenak saya lupa bahwa saya masih berada di kawasan Jakarta. Sebab panas dan sesak yang biasa saya temui bagai musnah sudah. Udaranya begitu ramah dihidu indera.

Tak hanya itu, pada Februari 2017, bertempat di Gedung Manggala Wanabakti, kampung ini memperoleh penghargaan Kampung Proklim yang dianugerahkan langsung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Bahkan, KBA Rawajati ini ternyata telah menjadi kampung hijau percontohan untuk skala nasional, lho! Hebat kan!

Berbagai pencapaian tersebut tidak diraih secara instan, ada proses dan sinergi sekelompok warga yang menjadikan kampung mereka layak untuk diapresiasi atas semangatnya mendukung penghijauan. Saya begitu kagum dengan warga setempat yang tampak saling bahu-membahu untuk memajukan wilayah tempat tinggal mereka. Jarang-jarang ada yang demikian rasanya.

Sebelum berkeliling, kami sempat duduk dan berbincang dengan Ibu Ninik Nuryanto tentang KBA Rawajati. Ternyata, sebelum digandeng Astra pun mereka telah berdikari dalam upaya penghijauan lingkungan, sejak tahun 2001 tepatnya. Segenap warga Kampung Rawajati memiliki tujuan utama agar kampungnya sehat, mulai dari udara, air, hingga bersama-sama membentuk kampung hijau demikian. Tidak heran jika prestasi dari Kampung Rawajati telah tersohor di mana-mana. Hasil tidak pernah mengkhianati proses, kan?

Dengan adanya potensi yang begitu besar dari Kampung Rawajati di bidang lingkungan, Astra kemudian memberikan sumbangsih di bagian pengembangan, pendampingan program, serta donasi. Hingga saat ini, KBA Rawajati bersama Astra masih terus berupaya untuk mempertahankan gelar yang telah susah payah didapatkannya. 

Kamu ngapain aja di KBA Rawajati, Tiw?

Di dalam kawasan KBA Rawajati, ada empat titik yang menjadi fokus untuk kami kunjungi.

Pulihkan Memori dengan Kunjungan ke KBA Rawajati

Pertama, kami diajak untuk mengunjungi spot pembuatan kompos. Ah, ingat masa SMA! Apa cuma SMA saya saja yang masa orientasinya dilakukan dengan membuat pupuk kompos bersama-sama?

Proses pembuatan kompos di KBA Rawajati ini kurang lebih sama dengan apa yang dulu sering sekali saya lakukan semasa SMA, baik di pelajaran biologi maupun ekstrakurikuler karya ilmiah remaja. Bedanya, kami dulu lebih sering menggunakan bakteri EM4 sebagai pengurai mikroorganisme. Sementara, di KBA Rawajati cukup dengan menggunakan kompos setengah jadi.

Kedua, kami masuk ke spot bank sampah. Usut punya usut, ternyata bank sampah di KBA Rawajati adalah salah satu bank sampah terbaik yang ada di wilayah DKI Jakarta. Di sana, Ibu Silvia Ermita menjelaskan mengenai detail siklus bank sampah tersebut.

Pulihkan Memori dengan Kunjungan ke KBA Rawajati

Oh iya, Ibu Silvi menyatakan bahwa sampah-sampah yang diterima di bank sampah untuk ditabung dari warga hanyalah yang sudah dipilah. Kalau belum, tidak akan diterima. Dengan pernyataan tersebut, artinya warga setempat telah sedikit banyak teredukasi untuk pemilahan sampah itu sendiri. Gemash! Kapan tempat tinggal saya begini? Warganya kebanyakan rumpi! Eh.

Ibu Silvi juga menunjukkan beberapa hasil olahan dari bank sampah. Ada bunga-bunga dari limbah botol dan gelas plastik. Ada tas dan karpet dari bungkus plastik. Dan masih ada banyak lagi. Sungguhlah Semesta berkonspirasi menumbuhkan memoar secara barbar di kepala saya. Semuanya sempat saya jajal dahulu kala. Kalau tidak ingat tempat, mungkin saya sudah anteng duduk di sana dan ikut bebikinan.

Spot selanjutnya, saung 3R. Sudah tidak asing, kan, dengan istilah 3R? Ya: Reduce, Reuse, Recycle. Kami bertemu dengan sekelompok ibu-ibu yang sedang memilin-milin koran dengan rapi dan membuat berbagai macam kreasi seperti tempat tisu, wadah untuk buah, dan lain sebagainya.

Pulihkan Memori dengan Kunjungan ke KBA Rawajati

Beberapa dari kami sempat ikut mencoba bergabung dan membuatnya. Saya pun demikian. Enggak sampai bikin produk jadi, sih. Hanya sedikit memilin-milin kertas koran yang sudah terpotong dengan bantuan bambu panjang. Gitu aja saya sudah senang. Mudah, ya, bahagiain saya?

Lalu, kami juga mencoba memanen biopori. Nah, kalau yang itu baru pertama kali. Di sekolah saya dulu punya banyak biopori, tapi enggak pernah dapat kesempatan untuk melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan di KBA Rawajati.

Nah, spot terakhir yang kami singgahi adalah UKM warga. Saya lupa nama ibunya, tapi beliau cukup hebat menjelaskan tentang rempah-rempah yang diolah menjadi jamu dan khasiatnya. Kami juga disuguhkan minuman berupa jahe merah hangat yang biasanya jadi minuman wajib saya ketika nongkrong di angkringan.

Pulihkan Memori dengan Kunjungan ke KBA Rawajati

Selain jamu, masih ada banyak lagi UKM warga di KBA Rawajati. Kalau kata Ibu Ninik, setiap RT punya produknya sendiri. Dengan membawahi sepuluh rukun tetangga, artinya KBA Rawajati memiliki minimal sepuluh produk yang dapat membantu menghidupi keseharian mereka.

Sampai saya menuangkan pengalaman kunjungan tersebut ke dalam tulisan, saya masih merasakan kagum luar biasa dengan apa yang dilakukan oleh warga KBA Rawajati dan Astra. Semoga, aura positif yang ditimbulkan bisa menular ke seluruh wilayah lain di Jakarta, bahkan di Indonesia.

Terima kasih, Astra dan KBA Rawajati, sudah membantu saya memulangkan rindu yang kelelahan mencari.

Pulihkan Memori dengan Kunjungan ke KBA Rawajati
Udah romantis, belum?







Tabik!




Pertiwi

You Might Also Like

2 komentar

  1. Rawajatinya sebelah mana ya? Harusnya deket rumahku deh ini. Krn kan aku deket pancoran. Penasaran.

    BalasHapus
  2. Perlu dicontoh nih, semoga kampung kampung lain bisa menyusul seperti ini.

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer