Segenggam Memoar dan Nota Kekeliruan | Your Favorite Devil's Advocate
personal

Segenggam Memoar dan Nota Kekeliruan

Senin, Juni 05, 2017

Segenggam Memoar dan Nota Kekeliruan

Kokoh kakiku menopang kekuatanku
Gelap kulitku dicumbu matahari
Ini milikku untuk kubuka atau tutupi
Bukan parameter moralitas dan harga diri

Kembali pada Tubuhku Otoritasku. Seperti yang pernah kutuliskan sebelumnya, potongan lirik di atas menunjukkan keberagaman perempuan dan hak yang nyata atas tubuhnya. Segala perbedaan yang ada, mulai dari warna kulit, bentuk tubuh, maupun gaya berpakaian bukan hal yang pantas untuk diperdebatkan. Katanya, bhinneka tunggal ika, kan?

Tentu bukan suatu hal yang dibenarkan jika kita berpikiran buruk kepada orang lain hanya karena penampilannya yang berbeda. Sungguh picik. Kalau bagiku pribadi, gaya berpakaian seseorang adalah caranya untuk menunjukkan kecintaannya kepada kesenian. Jadi, tidak dapat langsung menjadi rangkuman orang A begini atau begitu karena pakaiannya begini-begitu.

Katanya, orang-orang yang mencintai kesenian akan menunjukkan kecintaan teradap seni pertama kali melalui penampilannya. Bagaimana caranya berpakaian merupakan hal paling sederana untuk menunjukkan selera seni yang dimiliki oleh seseorang. Yang namanya selera, jelas tidak bisa diseragamkan, dong. Bairlah berbeda, sebab perbedaan menambah warna.

Di samping itu, perbedaan style berpakaian dari orang yang satu dengan orang yang lainnya bisa jadi karena perhatiannya terhadap sandang ada di titik yang berbeda. Misal, ada orang yang lebih memerhatikan kenyamanan, maka dia akan memilih bahan yang cocok di tubuhnya, ukuran yang sesuai, dan potongan yang pas. Lain halnya dengan orang yang menitikberatkan apa yang dipakainya dari estetika, sepertinya yang ini bisa lebih beragam tergantung selera. Ya, kembali ke selera.

Apa ada yang salah? Ya jelas tidak, dong.

Segenggam Memoar dan Nota Kekeliruan
Kamu semester berapa? Dua!
Well, sekarang aku ingin bercerita. Aku adalah perempuan yang sangat-sangat-sangat cuek, tadinya. Kalo dilihat antara outfit yang seringkali kugunakan saat masih bekerja di kantor beberapa tahun silam dengan saat telah menjadi mahasiswa itu jelas berbeda. Hm, ulang, sangat berbeda. Alasannya ya sederhana aja, sih. Kantor mengharuskanku untuk berpenampilan lebih rapi dari yang biasa kulakukan, sementara saat kuliah aku bisa benar-benar bebas memakai yang kusuka.

Lalu, apakah kepribadianku berubah dengan perubahan tampak luar? Ya, enggak. Aku mah gini-gini aja.

Mungkin, dengan pakai kemeja, celana bahan, blazer, kuakan tampak lebih sopan dan berpendidikan. Padahal, kalau ngomong ya tetap aja nyablak. Sama sekali bukan sesuatu yang pantas untuk dijadikan ukuran. Nah, lucunya, kalau sekarang kukembali berpakaian seperti itu, pasti ada saja celoteh menggemaskan macam:

“Mau ke mana lo?” 
                                                                                         
“Kesurupan setan apaan lo?”

“Gak pantes, woy!”

Mungkin, karena tampilanku yang sekarang terasa lebih pas dengan kepribadianku. Ya, aku pun merasa demikian, sih. Di kantor dulu pun kalau gak diwajibkan berpakaian seperti itu… ya tetap kupilih pakai kaos dan jeans. Ehehehe.

Namun, perubahan tampilanku tidak selesai hanya sampai di situ. Kukembali mengubah tampilanku hingga menjadi apa yang ada sekarang sekitar semester lima lalu. Perubahan yang awalnya didasari atas perkenalan dengan make up. Aku yang tadinya ke kampus pakai bedak pun jarang, tetiba mengalami perubahan dengan tempelan bedak, polesan gincu, gambar alis, pun dengan torehan eye liner.

Hal yang sungguh menakjubkan. Terutama bagi orang-orang yang mengenalku secuek apa di dunia nyata. Komentar-komentar menggemaskan pun kembali berdatangan. Lucu teman-temanku, tuh. Ingin kugigit mereka sekali-sekali supaya jadi zombie.

Segenggam Memoar dan Nota Kekeliruan
Udah kayak foto candid, belum?
Setelah berkenalan dengan make up, kumerasa tampilanku harus disesuaikan juga. Soalnya, sangat tidak pas rasanya. Aku yang biasanya ke kampus selalu, sekali lagi “se-la-lu”, pakai setelan berupa kaos pendek, celana jeans, jaket, dan sepatu kets kembali berubah. Gak banyak, sih, memang. Hanya disesuaikan sedikit. Namun yang pasti, perubahan itu membuatku bisa berdiam diri selama setengah hingga satu jam di depan lemari untuk memilih pakaian.

Setelah mengetik paragraf tersebut, kumerasa hidupku penuh kesia-siaan. Hhh.

Ribetnya luar biasa. Kalo pake ini nanti gak pas sama ini. Pake itu kok kayaknya anu. Mirip-miriplah kayak momen mendekati lebaran seperti ini, tapi kuselalu bisa temukan koleksi baju lebaran yang pas di Zalora. In Zalora we trust. Nah, dari keribetan itu, seringkali kuhijrah ke lemari yang lain. Lemari mama. Dan ternyata, wow, banyak harta karun yang tersimpan di sana! Rasanya menyenangkan sekali mengombinasikan baju-baju model lama milik mama dengan baju-baju yang ada di lemariku sendiri.

Pada masanya, sempat terbentuk sebuah geng yang bernama “Geng OOTD”. Ini adalah geng yang terbentuk tanpa sengaja, tanpa rencana, yaudah pokoknya pengin bikin aja intinya mah. Di dalamnya berisi empat orang perempuan yang—pada saat itu—menyukai make up serta mix and match pakaian. Keempatnya pun sesungguhnya adalah blogger, dengan keaktifan ngeblog masing-masing. Ada lifestyle blogger, ada beauty blogger, ada fashion blogger, dan ada sastra blogger (halah, apa ini?).

OOTD. Outfit of the day. Sederhana, sih. Bermula dari kejenuhan seusai mata kuliah, lalu kami jalan-jalan keliling kampus. Alhasil, kami menemukan spot-spot yang rupanya cukup aduhai untuk foto-foto. Dan kebetulan pula pakaian yang dikenakan saat itu cukup oke, jadilah kami berfoto OOTD. Sudah, sesederhana itu saja sejarahnya.

Dan sekarang, keempat-empatnya sama-sama sedang berjuang. Dengan teori-teori naratologi, psikologi, dan feminis. Bertatap muka sudah jadi sesuatu yang langka. Apalagi untuk kembali foto-foto seperti sedia kala. Tapi semoga, apa yang diperjuangkan segera berbuah nyata. Lulus bersama. Aamiin.

Segenggam Memoar dan Nota Kekeliruan
Habis dipaksa pake gincu :(
Oh iya, kuingin minta maaf pada mereka bertiga jika seringkali khilaf dan berbuat salah. Kutau aku memang sangat menyebalkan. Dan terima kasih, sudah menegur kurangku agar kulebih baik di depan. Pun kepada siapa saja yang membaca ini, kuminta maaf jika sempat sengaja maupun tidak sengaja menyakiti. Aku akan sangat berterima kasih, jika kalian masih bersedia menegur tiap kurang yang kupunya untuk kemudian kubenahi.




Tabik,

Pertiwi

You Might Also Like

21 komentar

  1. Hii kanibal hii~ Mau gigit teman sendiri. Hii~ Batal puasanyaa.

    Kamu kok rendah hati sekali, sih. Padahal kamu bisa saja menjadikan postingan ini sebagai konfirmasi kemenangan (wkwkwk) dari ajang OOTD Instagram waktu itu.

    Kalau soal make up udah nggak ngerti lagi aku. Gimana nggak mau pakai make up, wong dapat dari sponsor mulu. Eits. Gabole kesel. Lagi puasa. Gabole gigit juga. Lagi puasa. Kalau gak lagi puasa juga gabole kesel dan gabole gigit. Sebab lagi sayang-sayangnya. (Ciee, Broo!)

    BalasHapus
  2. Setuju Mbak Tiwi, lemari mama memang merupakan salah satu sumber paling asyik buat OOTD. Make up sebaiknya hanya pelengkap, bukan hal utama yg membuat kita jadi cantik (luar dalam).

    BalasHapus
  3. Kantorku dulu juga bebas mbak, eh tapi aku gak pernah pakai kaos sih, gak enak soalnya, paling jeans sama sepatu kets hehe
    Wah seru ya punya geng OOTD, suka pinjem2an baju dan alat mae up gak? hehe

    BalasHapus
  4. Hehehe. Yang namanya cewek agak ribet ya soal penampilan. Apalagi ditambah penunjang2nya kayak make up. Tapi untungnya blogger slalu dpt sponsor make up. Yehaaa

    BalasHapus
  5. Yang namanya perempuan biasanya sama aja hehehe...
    Paling lama kalo mau pergi, lama pilih-pilih baju yang mau dipakai. ��

    BalasHapus
  6. OOTD nya pertiwi kayaknya jaket Bryan Adams itu ya pasti nya hehe.. eh itu aku sering bilang Jaket Bryan Adams soalnya duluuu itu bryan adams yang mempopulerkan jaket jeans begitu loooh

    #Jadul
    #KetauanUmur

    BalasHapus
  7. Biasanya memang kalau kita tampil berbeda dari kebiasaan selalu ada yang celetuk spt itu mba..

    Jangan² ntr mba Tiwi jadi beauty blogger juga nih

    BalasHapus
  8. wihh OOTD yang sering kali para wanita melakukannya setiap hari. Tetapi, sering kali pigin foto ootd aja sering sekali ribet mengenai penampilan yang dikenakan. Apakah sudah pas apa belum dengan gaya kita

    BalasHapus
  9. Komentar yang pertama sukses bikin aku baper.
    Kaliaaann~~
    Yang sedang dimabuk cintaa...oowhh, so sweet, deaarr.


    Masalah gaya berpakaian ini, menurut aku..selain kita diikat oleh adab dan norma, maka sepanjang tidak melanggar itu semua, aku siih maklum.
    Biasanya orang visual memang selalu memperhatikan penampilan terlebih dahulu dibanding yang lain.

    BalasHapus
  10. Kadang ada banyak model fashion yang tetap abadi dan bisa digunakan sepanjang jaman. yang penting bisa mix and match dan memainkan warna maka jadi mantep deh tampilannya

    BalasHapus
  11. Aku dikenal sebagai dosen nyentrik krn beda dr yg lain. Wkwkwkwkwkw... Lebih cenderung santai dan tanpa heels apalsgi tas kremes. Bolehlah nanti aku juga belajar make up. Thanks inspirasinya

    BalasHapus
  12. Dulu kalau dandan cakep dikit ditanyai mau ke mana. Padahal biasa aja emang gak boleh dandan ya, ahahaha

    Aku skrg lbh seneng pakai gamis atau nyoba2 agak sporty. Tp msh blm pede krn dilihatin org

    BalasHapus
  13. Saya blm pintar dandan, msh susah pakai eyeliner. Ya nikmati apa yg ada sih

    BalasHapus
  14. pengelaman, dan jauhnya negeri yang kita jelajah juga berpengaruh pada cara pandang kita terhadap kenyamanan diri ya mba, Tentu juga dengan berpakaian. Kalau lihat Mba Pertiwi makin asyik aja OOTD nya ke sini-sini... suka.... Apalagi punya teman yang mendukung ya,

    BalasHapus
  15. Dulu juga aku keluar rumah kalau ingat aja baru pakai bedak, pas kenalan dengan makeup, wuihhhh hampa rasanya kalau gak pake alis, eyeliner, gincu, dll hahaha

    BalasHapus
  16. Rasanya yang lebih sering OOTD perempuan ya, tak banyak laki-laki yang posting OOTD. Kalau belanja di Zalora ada diskon dan promo menarik gak? Promo buat OOTD pas nanti lebaran gitu.

    BalasHapus
  17. aku seperti sedang menyaksikan diriku sendiri saat baca tulisan ini. jadi keinget-inget aku dulunya secuek apa. dan sekarang masih cuek aja hahahaa... eh tapi sekarang udah mulai-mulai mikir ding kalau mau beli baju. sesuai nggak sama sepatu yang kupunya. atau warna lipstiknya cocok nggak sama baju yang kukenakan :D

    BalasHapus
  18. Ooowh jadi awalnya terbentuk gank ootd itu dari kalian berempat ixxixix itu uni dzalika? Manda satu lagi siapa tuh?

    BalasHapus
  19. Semester dua apaan? Penipuan! XD

    Atuhlah, gue malah nggak pernah bisa OOTD. Kagak pede. :(

    Temen lu yang paling depan, kayaknya nggak asing gitu dah. Kayak pernah lihat, atau mirip temen gue. Hahaha. Anjir, salah fokus.

    BalasHapus
  20. Hahahaha... Setuju sama Yoga.. Pencitraan keknya kalo semester 2. XD

    Eh, OOTD gitu rupanya di mata cewek emang ribet banget, ya. Padahal ya, OOTD. Tapi kok jadi serumit itu.

    Mungkin, di sini cowok, ngerasa "Oh.... gini kalo cewek milih costum :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Btw, link sponsornya gak dimasukkan, ya? Atau hanya nyebut nama?

      Hapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer