Cerita Lebaran Bersama Kue-kue yang Bertebaran | Your Favorite Devil's Advocate
sponsored

Cerita Lebaran Bersama Kue-kue yang Bertebaran

Minggu, Juni 18, 2017


Tak terasa, ternyata lebaran sudah ada di depan mata. Meski bagi saya pribadi, tidak ada yang gebyar ketika lebaran tiba. Namun, tanggal 1 Syawal tetap menjadi hari yang berbeda dari hari-hari lainnya.

Keluarga saya sejauh ini lebih santai menjalani momentum Hari Raya dengan kumpul keluarga di rumah kami yang kecil. Kalau mengambil penggalan lirik Fourtwnty yang berjudul Diam-diam Kubawa Satu, sih, bilangnya gini; “Terkuras ideku setahun penuh. Liburanku. Tolong jangan ganggu.”

Ya siapa sih yang mau liburannya diganggu? Misal lagi melahap lontong opor, tiba-tiba saja dapat surel dari si bos yang bilang kalau buku catatan Kegiatan di Bulan Ramadhan harus dikumpulkan besok dalam bentuk portofolio. Duh, rasa-rasanya kok ingin ngepruk beliau pakai toples nastar.

Di samping itu, kalau bicara soal lebaran memang tidak jauh-jauh dari jamuan makanan. Saya sendiri sebetulnya tidak suka dengan jamuan yang berlebihan. Untung saja orangtua saya punya toko kelontong. Sehingga kalau jajanan yang disajikan buat suguhan itu kurang laku, maka kami bisa menjualnya kembali. Konyol kalau sampai merayakan lebaran dengan camilan yang banyak tapi dua atau tiga bulan kemudian terpaksa dibuang karena tidak kunjung habis.

Sejauh saya melanglang buana sebagai tamu saat Idulfitri berlangsung, hidangan yang paling saya suka ya jelas saja kue-kue buatan empunya rumah. Bukan jajanan kemasan seperti yang orangtua saya sajikan. Alasannya sederhana, kue-kue itu biasanya memiliki cita rasa yang menggambarkan kehidupan keluarga tersebut.

Kalau renyah dan manis berarti keluarga itu harmonis dan penuh senda gurau. Lalu, jika kue yang dibuat ternyata keras dan susah digigit berarti keluarga tersebut memiliki tata aturan yang ketat dan komunikasi antar anggota keluarganya kaku.

Sementara jika kuenya hambar itu menandakan suasana rumah tangga mereka begitu sepi, seperti orangtua yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan anaknya yang merantau ke kota lain misalnya.

Dari berbagai macam pengalaman lidah saya mengecap rasa kue, suatu ketika saya mendapati kue yang sangat lembek dan asin. Untuk memakannya saja, saya harus menggunakan garpu. Usut punya usut, ternyata kepala keluarga di dalam rumah tangga itu bekerja sebagai master chef di warung tenda. Alhasil, jadilah saya memakan kue yang ia sebut sebagai kue tiaw.

Krik!

Cerita Lebaran Bersama Kue-kue yang Bertebaran
Via perutgendut.com

Terlepas dari filosofi kue yang asal-asalan tadi, ada beberapa jenis kue yang jadi favorit bagi lidah saya. Yaitu, kue bolu cookies, muffin cookies, nastar cookies, hingga kue putri salju pandan dan kue tiaw. Jika boleh berandai-andai, pengurus RT setempat harusnya peka terhadap pentingnya mengetahui menu hidangan lebaran sebelum bertamu. Pengurus RT perlu membuat grup WhatsApp yang beranggotakan setiap perwakilan keluarga di sana.

Nantinya, setiap keluarga bisa submit daftar menunya di grup WhatsApp tersebut. Ada dua manfaat yang bisa didapat. Pertama, menu bisa lebih variatif. Dan kedua, calon tamu bisa memilih bakal berkunjung ke rumah siapa berdasarkan menu maknannya. Dengan begitu ajang silaturahmi di desa tersebut bisa lebih kondusif dan tepat sasaran.

Jika benar demikian, mungkin tetangga kita yang paling congkak bakal ngechat begini: OPEN HOUSE KELUARGA Bpk MAKMUR. TANGGAL 25 JUNI 2017 PUKUL 08.00-14.00 WIB. Acara: sungkem, makan-makan, tebar pesona, foto-foto, dan bagi-bagi rejeki. Menu kue: Bolu Cookies dan Nastar Cookies. Minuman: Orson Sarsapila dan Kopi Joss. Makan besar: Opor Mozarella, Sambel Goreng Tenderloin, dan Kue Tiaw. FREE ENTRY. #KeluargaMakmur #AkuDanKekayaanku *nb: dapat gudibek dan uang transport 300rb/tamu.”

Waduh, itu tetanggaan sama Raja Minyak kayaknya, ya. Bisa jadi. Eh, minyak apa?

Minyakiti hatimu.

Mbuoh!

Hehehe, sepertinya lebih baik saya sudahi saja ya cerita sederhana ini. Daripada makin ngelantur ke mana-mana nanti malah saya tidak diwajibkan berpuasa lagi. Lho kok bisa? Lha iya bisa dong. Kan ngelatur ke mana-mana. Ya berarti sudah masuk kategori musafir itu.

Krik!

Wes ah, tandanya memang benar harus disudahi. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membaca tulisan saya. Meski banyak sekali ketidakpentingan yang saya torehkan dalam tulisan ini, semoga saja ada manfaatnya. Misal, teman-teman jadi ingin membuat berbagai macam kue yang nantinya bakal jadi menu spesial saat lebaran.

Saran saya, masaklah kue terbaikmu dengan cinta yang tertuang disetiap lelehan Blueband. Ingat-ingatlah momentum terbaikmu saat bersama keluarga. Letakkan ingatan itu ke dalam adonan kue dengan kekhusyukan. Lantas, meleburlah bersama setiap kegembiraan yang hadir bersama datangnya Idulfitri.

Mohon maaf lisan dan tulisan.




Salam,

Musafir Rindu


You Might Also Like

3 komentar

  1. Wkwkw mbak mbaaak bisa aja. . Ketawa ketawa ini bacanyaa. . Aku paling suka nastar bikinan ibuk kalaau lg lebaran giniii. . Hahaha enaak renyah gurih yummy pokoknyaa. Kan jd mendadak lapar gini wkwwkw

    BalasHapus
  2. Wkwkw mbak mbaaak bisa aja. . Ketawa ketawa ini bacanyaa. . Aku paling suka nastar bikinan ibuk kalaau lg lebaran giniii. . Hahaha enaak renyah gurih yummy pokoknyaa. Kan jd mendadak lapar gini wkwwkw

    BalasHapus
  3. Kalau aku sukanya putri salju. Kue faforit dari SD. sampai sekarang aku suka banget sama kue putri salju. hehehehhe..
    Tapi jgn kebanyakan, ntr diabetes loh :D

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer