TABLOIDKU: Pereda Keresahan yang Dinantikan | Welcome to My Own World - Pertiwi Yuliana
event

TABLOIDKU: Pereda Keresahan yang Dinantikan

Minggu, Februari 05, 2017

TABLOIDKU: Pereda Keresahan yang Dinantikan
Original image source from: Pinterest
Mengacu pada data dari Unesco tahun 2012, minat baca orang Indonesia menduduki posisi kedua dalam keliterasian dunia. Hanya setingkat di bawah Botswana, nomor 60 dari 61. Hehe. He. He. Bagaimana? Miris, ya?

Sebagai orang yang sedang mendalami bidang literasi, saya sungguh sedih. Pernah pula muncul percakapan yang begitu sendu di koridor kampus antara saya dan seorang teman.

“Gue jadi males main ke toko buku, isinya kebanyakan sampah.”

“Ya, gimana? Pasar mintanya yang begitu. Orang-orang yang melek kayak kita ini yang sebetulnya punya tanggung jawab buat mengubah pasar, kan?”

“Iya, sih. Udah gitu harga buku bagus makin mahal. Heran. Dapet bacaan yang berisi aja susah.”

“Permainan pasar, Mal. Hahaha.”

***

Di akhir tahun lalu, sempat ramai perihal penyebar berita hoax yang akan diancam pidana penjara selama enam tahun dan denda sebesar satu milyar rupiah. Weh. Ngeri sekali. Kok bisa, ya, sampai ada wacana macam itu?

Jadi, pasal 28 ayat 1 dalam UU ITE tersebut muncul karena didasari oleh banyaknya orang-orang yang mendistribusikan berita yang masih sangat patut dipertanyakan validasinya. Main asal forward tanpa dibaca benar-benar. Maunya dianggap jadi yang paling depan tentang informasi-informasi kekinian. Padahal?

Kembali pada data dari Unesco tahun 2012, disebutkan bahwa 52% warga Indonesia sudah melek internet. Nah, dengan demikian artinya sekitar 132 juta dari keseluruhan jumlah masyarakat Indonesia sudah menjadi pengguna Internet. Dengan lebih dari 60 juta masyarakatnya memiliki smartphone, Indonesia menjadi negara terbanyak kelima di dunia dalam kepemilikan smartphone.

Punya smartphone apa juga berarti bahwa jumlah tersebut sudah menjadi smart people?

Tunggu dulu. Karlina Supelli dalam pidato kebudayaannya menyebutkan bahwa meski minat baca rendah, Indonesia menjadi negara paling cerewet nomor lima di dunia. Jakarta, sebagai ibukota negara, bahkan menyandang predikat paling cerewet di dunia maya dengan sekitar lima belas cuitan per detiknya. SUPER!

Begitu kontras, bukan? Minat baca sangat berbanding terbalik dengan tingkat kecerewetan.

Alhasil, banyak dari mereka yang jadi “gagah di dunia maya, tapi gagal di dunia nyata”.

Beruntungnya, pada tanggal 1 Februari lalu, saya berkesempatan untuk datang dan berkenalan langsung dengan TabloidKu di acara #GatheringTabloidku yang dilaksanakan di XXI Plaza Indonesia dan berujung pada ngobrol-ngobrol lutjuw di QQ Kopitiam.

Acara dimulai dengan… kehujanan.

Ya, ini epic sekali. Terima kasih, Hujan, kamu selalu setia menemani saya.

Serius, ah, Tiw!

Oke. Acara dimulai dengan nonton bareng gala premiere Surga yang Tak Dirindukan 2. Jangan minta saya buat review-nya, ya. Saya hanya fokus pada gondrong dan bewoknya Reza Rahadian. Maafkan saya. saya begitu sulit menafikan bulu-bulu yang bertebaran.

TABLOIDKU: Pereda Keresahan yang Dinantikan

Selesai nonton, saya dan peserta #GatheringTabloidku lainnya langsung menuju ke QQ Kopitiam untuk berkenalan lebih lanjut dengan TabloidKu.

Mengenal TabloidKu.

Ibu Diana Damayanti, atau yang akrab disapa dengan Bu Danthe, selaku pimpinan redaksi TabloidKu menyambut kami dengan senyum khas yang begitu tenang dan keibuan. Nah, Bu Danthe inilah yang mengajak kami untuk “membongkar” TabloidKu lebih dalam lagi.

Saya sendiri sejujurnya masih asing dengan TabloidKu, maka di kesempatan tersebut sebisa mungkin saya gunakan dengan baik untuk tau lebih lanjut. Kalau dilihat dari tampilan fisik maupun webnya, sekilas akan tampak biasa saja. Namun, konsep yang menarik dihadirkan oleh TabloidKu karena cukup meredakan keresahan yang saya bahas sebelumnya.

Pertama, dari varian penyajian: ada bentuk fisik dan digital melalui web. Bulan Desember tahun lalu, saya yang bergabung di salah satu grup redaksi buletin kampus, agak kaget mendapati foto edaran yang menyatakan penghentian penerbitan beberapa majalah/tabloid. Segitu gak lakunya, ya, media cetak sekarang? Pikir saya saat itu. Namun, TabloidKu dengan berani masih memproduksi versi cetak untuk pembacanya yang dibagikan secara gratis. Yak, ini harus diulang. Secara gratis. GRATIS. G-R-A-T-I-S.

Keresahan kedua sudah diredam. Munculnya bacaan bermanfaat yang didistribusikan secara gratis merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat sekarang. Partner dari Alfamart ini mengusung tagline “smart parents, smart kids” yang akan ditambah dengan “smart consumers” sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Sungguh sebuah tujuan yang sangat mulia.

Mendapati kenyataan bahwa hal-hal gratisan seringkali ditolak karena dianggap tidak berkelas, TabloidKu tidak menyerah begitu saja. Survey selalu dilakukan untuk mengetahui apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Dengan begitu, TabloidKu akan selalu terbuka untuk segala perbaikan ke depan.

Lalu, bagaimana cara kita agar bisa mendapatkan TabloidKu ini?

TabloidKu memang tidak diperjualbelikan secara bebas di kios-kios atau toko-toko tempat kita biasa membeli majalah/tabloid. Kita bisa mendapatkannya secara gratis di gerai Alfamart, Alfamidi, dan Dan+Dan Store di tiap awal bulan dengan jumlah minimum belanja Rp50.000 saja. Hanya terbit tiap awal bulan, ya. Jadi, cepet-cepetan yuk buat dapat TabloidKu di gerai-gerai yang sudah disebutkan di atas.

Dengan jumlah 600.000 eksemplar yang diterbitkan setiap bulan, TabloidKu mendistribusikan bacaan bermanfaat ini ke seluruh gerai di Indonesia—kecuali Papua dan Maluku—dengan jumlah 50 eksemplar per gerainya. Usut punya usut, gak sampai seminggu di awal bulan biasanya sudah ludes. Wow!


TABLOIDKU: Pereda Keresahan yang Dinantikan

Kalau kehabisan, gimana?

Nah, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, TabloidKu hadir dalam dua versi: cetak dan digital. Kalau kehabisan yang versi cetak, kita bisa langsung mengunjungi www.tabloidku.id untuk tetap update informasi. Tuh, daripada sibuk pegang smartphone buat sebar berita hoax, mendingan baca yang sudah jelas bermanfaat.

Malas membaca jangan dijadikan budaya yang berkepanjangan. Indonesia sebetulnya punya banyak objek yang bagus untuk dibaca. Sayangnya, tidak sedikit masyarakat yang enggan untuk memanfaatkannya. Terbiasa dengan segala yang praktis-praktis saja. Selagi bisa, yuk ubah sekarang juga!

Untuk TabloidKu, sebelumnya saya akan ucapkan terima kasih karena sudah meredakan dua keresahan saya di atas. Selanjutnya, saya mau usul sedikit. Sebagai mahasiswa sastra yang suka dunia psikologi dan mencintai karya seni, saya sangat berharap bisa membaca lebih banyak tentang ketiga hal tersebut di mana-mana. Kalau TabloidKu menghadirkannya juga, saya bisa girang bukan buatan!

Overall, saya suka. Dan, saya mau nunggu awal bulan lagi dulu, ya.




Salam,




Pertiwi Yuliana

You Might Also Like

60 komentar

  1. Bener bgt nih, TabloidKu selain GRATIS seharusnya ditambahkan lagi rubiknya... Biar makin keren..Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, biar makin banyak yang dibahas makin melimpah informasinya. :3

      Hapus
  2. Jadi gini lho, ndoro ayu. Kamu kan tahu jika gula itu manis dan garam itu asin. Maka demi aneka bumbu dari segala rasa-rasa yang menggeliat di lidah, saya berani bersaksi. Bahwa tidak ada cerita yang meriwayatkan dirimu pergi ke mini market di awal bulan. Apalagi untuk menyongsong majalah gratis. Toh, katanya majalah ini selalu habis pada minggu pertama. Yowes ning omah wae tenguk-tenguk leren.

    #provokator #merusakpostinganorang #killthedj

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini orang sungguh benar-benar....

      Hapus
    2. Aku senyum bacanya loh tiw ahhahaha

      Hapus
    3. Nyebelin dia mah, Mbak Nita. :(

      Hapus
    4. biasanya yang nyebelin itu yang ngangenin loch

      Hapus
    5. Terus aku malah jadi gagal pokus juga baca komen ini, bahahahhahahaa aslian, kocak!!

      Hapus
    6. Anak Teknik Informatika: ya sih emang ngangenin anaknya, heu.

      Kak Rani: Yah kan, terjadi lagi :(

      Hapus
    7. Karena komentar Ilham separagraf, rusak postingan Tiwi 900++ kata.

      #sebuahpribahasa

      Hapus
  3. Tabloid-tabloid zaman sekarang rasanya memang sudah jarang diminati ya. Jadi inget dulu banget langganan Tabloid Gaul. Eh btw.. Ada rubrik fashion kah di Tabloidku?

    BalasHapus
  4. Wah tabloid gratis.. Di flores belum adaaa Ntiw..
    Ya udah nanti cek websitenya..
    Btw makanya aku skrang lebih sering baca ebook drpada beli buku hahaha... lagian skrang minat baca lebih ke nonfksi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nanti coba bisik-bisik ke Bu Danthe biar diadain juga di Flores. >.<
      BAGI DONG EBOOKNYA, KAK AJEN. MAUUU.

      Hapus
  5. Mungkin kah akan menang dengan tenarnya Tabloid Pulsa atau PC Media???


    Lochh beda genre ternyata

    BalasHapus
    Balasan
    1. KZL,,, di Betterin ajaaaaa

      Hapus
    2. Terus malah ngiklan produk laen cobaaaaa. Hwaaaa :(

      Hapus
  6. Weh Tiwi ena sekali ya bisa menikmati bulu-bulu beterbangan #gagalfokus xD
    Btw iya deh sedih banget media cetak banyak yang tutup, pada beralih ke media daring atau bahkan udah jaga-jaga bikin stasiun tipi kalo-kalo media bacaan benar-benar ditinggalkan. Tabloidku keren juga, bisa bertahan dengan menerbitkan versi cetak, gratis pula. Omg omg omg.

    www.magellanictivity.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, keren banget. Padahal baru, lho. Usianya belum genap setahun. Tapi di saat media cetak lain gulung tikar dan beralih ke digital malah TabloidKu nerbitin cetak. Warbiyasak. :')

      Hapus
  7. Ini beredar mulai kapan? Kmrn aku belanja 70rb cuma dapet stiker, tabloidnya enggak😭apa belum merata kesemua alfamidi yah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mulai April tahun lalu. Bisa jadi karena sudah habis, soalnya katanya kurang dari seminggu stock-nya udah habis. Liat webnya aja~

      Hapus
  8. Wah, aku suka majalah dan suka belanja di alfamart. Setiap awal bulan harus ke sana cepat-cepat nih biar gak kehabisan, ya.

    BalasHapus
  9. Wahh bakal nyerbu alfamart awal bulan nih. Sayang, di kotaku helum ada. Adanya di kota tetangga, 1 jam dari rumah. Haha

    BalasHapus
  10. Bisa gratis gitu ya, keren. Di depan komplek ada alfamart nih, nanti dicoba deh kalau awal bulan. Sekarang mah udah minggu kedua, haha.

    BalasHapus
  11. Kalo mau bulu-bulu yang lebih banyak sekalian tonton Chewy di film Star Wars.

    Syukurlah gue gak kehujanan. Bawa payung gitu. Hoho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itu yang suka disebut-sebut sama Yogaesce bhahahak kembaran Ilham.

      Gue gak suka bawa payung sejak ketjil. Heu. Dingin dingin dimandiin hujan untung tidak masuk angin.

      Hapus
  12. Aku jarang baca tabloid. Enak ya kalau bs dapat gratisan. Tp kok blm liat di alfa Jepara. Apa daku yg siwer...,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba nanti awal bulan kalo main ke Alfa ditanyain ke mbak-mbak Alfanya.

      Hapus
  13. Baru tahu Tabloidku. Org sekitar itu byk cerewet didumay tp yg baca buku cetak dikit. Nanti coba cari di Alfa

    BalasHapus
    Balasan
    1. He em, ada baiknya kalau diseimbangkan.

      Hapus
  14. Kok aku baru tau ada gratisan Tabloidku di Alfamart, mungkin karena nggak pernah belanja dis sana kali yah, hehehe

    BalasHapus
  15. Semoga rubriknya ditambah ya biar makin ketje.

    BalasHapus
  16. Diantara banyaknya media yang berguguran, Tabloidku memberikan pencerahan dan gratis pulak. Versi onlinenya juga ada. Keren sekali ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, semoga bisa dicontoh yang lainnya juga.

      Hapus
  17. Kayaknya seru kalo ditambah rubrik sastra.. Aku bisa promosi. Ahahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagi dong bukunya nanti aku review :3

      Hapus
  18. O ini acara yang sama kayak punya yoga #ceritanya abis baca blognya dia
    Hmmm tersedia hampir mrata kecuali wilayah indonesia timur yes, terhitungnya dah banyak tu

    Btw sejak kapan blog kamu pake kata sapa saya eaahh apa uda lama ya?
    Tapi jujur nih ya, klo disuruh pilih antara cetak ama online aku kok masih greget baca cetak ya, yang online kadang beritanya diyulis seiprit uda gitu disuruh klik halaman selanjutnya ampe 5 -10 laman qakakakka, ngalamat malass

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mwahahaha sejak aku bangkit dari kefanaan, jadi suka pake kata ganti "saya", Mbak wkwkwk.
      Iya, aku juga lebih suka cetak, lebih mudah diingat isi tulisannya. Dan, megangnya lebih enak wkwkwk.
      Satu lagi, gak buang kuota >,<

      Hapus
  19. Aku sih salut sebenernya sama TabloidKu ini. Di saat banyak media cetak pada tutup dan beralih ke dan dengan hanya di online, Tabloidku malah cetak2 tabloid gratis :D kereeen yah

    BalasHapus
  20. kalau masalah minat baca, sepertinya juga lingkungan sangat berpengaruh. saya sendiri baru mulai suka baca pas akhir2 kuliah. pas awalnya gak suka, karena belum nemu lingkungan yang pas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi, tapi kan ada baiknya kalau kita jadi yang memengaruhi bukan dipengaruhi.

      Hapus
  21. Asa belum pernah lihat majalah TabloidKu di kota ku.
    Apa dijualnya hanya di toko majalah..?

    Di indom*r*t gitu gak ada yaa..?

    BalasHapus
  22. Walaupun telah ada online, membaca langsung secara fisik masih di minati beberapa orang termasuk saya.jadi penasaran dengan tabloidku

    BalasHapus
  23. Aku baru tahu mbahe ilham kiper. Thanks jung.
    Wah naini. Rubriknya kalo bisa ditambah, rubriknya rjshop gitu kan yak.

    BalasHapus
  24. Ya Allah. Kok aku baru nyadar ya kalo ada TabloidKu. Maklum kali ya, aku kan bukan tipe orang yang senang main ke AlfaMart. Mungkin, setiap bulan, aku harus main dulu kali ya ke Alfamart, biar dapet.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekalian dapetin hati mbak-mbaknya juga boleh~

      Hapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer