LANGIT MUSIK: Menangkap Urgensi Harmonisasi | Your Favorite Devil's Advocate
review

LANGIT MUSIK: Menangkap Urgensi Harmonisasi

Jumat, Februari 24, 2017

LANGIT MUSIK: Menangkap Urgensi Harmonisasi

Beranjak dari masa kini menuju empat tahun silam di sebuah mushola kecil di Desa Sukamulya, Bogor. Mengenang memang salah satu kegiatan yang seringkali aku lakukan. Apalagi, untuk hal-hal yang begitu bermakna dalam perjalanan hidupku hingga sekarang. Untuk kembali mendapatkan semangat ketika lelah. Untuk kembali menemukan diri saat hilang arah.

“Jadi, sekarang kalian mau belajar apa?” tanyaku pada sekumpulan anak kelas tiga sekolah dasar yang duduk berjajar di salah satu sudut mushola.

“Gak mau belajar, Kak,” jawab mereka hampir serempak.

“Terus maunya ngapain, dong?”

“Mau gambar, Kak!” seru seorang anak laki-laki berpipi gembul di barisan depan.

“Gak mau, Kak, mau nyanyi aja,” jawab anak perempuan berjilbab merah muda di barisan pojok belakang.

Melihat rekannya—yang sebetulnya jurnalis tapi diminta bantu ngajar karena pengajarnya kurang—kebingungan menghadapi anak-anak di depannya, Kak Nuryadi datang membantu.

“Yaudah, sini. Yang mau nyanyi sama Kak Nuryadi, yang mau gambar sama Kak Tiwi.”

Dan anak-anak mulai berhamburan, memilih yang mana yang lebih mereka suka untuk dilakukan.

***

Kejenuhan sempat menghantamku dalam urusan belajar. Aku yang sejak kecil menggilai kegiatan belajar tetiba berhenti melakukan itu saat aku masuk sekolah menengah pertama. Alasannya sederhana, karena kaget. Yap, kaget karena materi pelajaran yang cukup berbeda dari sebelumnya. Aku sempat dilanda ketakutan berada di kelas unggulan dengan 39 kepala lain yang berada di sana. Takut tidak terlihat, karena aku masih punya utang janji untuk berprestasi kepada orangtua.

Namun, kelasku saat itu rupanya cukup sukses membuatku melupakan kekagetanku dan menepikan ketakutanku. Kelas 7-1 SMPN 255 Jakarta tahun ajaran 2006/2007 memperkenalkanku secara langsung maupun tidak langsung dengan cara belajar yang baru. Menggandengku menjauh dari kejenuhan dan mengantarkanku pada keriuhan.

Lha kok keriuhan?

Hahaha. Selama ada di sekolah dasar, aku selalu suka belajar dalam keheningan. Benar-benar hening. Saat kusedang belajar di rumah dan ada yang berisik… aku usir keluar rumah. Iya, aku sampai segitunya. Dan perkenalan baru itu agaknya membuka pikirku untuk lebih menerima kebisingan. Dengan kelas yang begitu ribut dengan segala kicauan dan atributnya. Iya, atribut musik selalu ada di dalamnya. Mulai dari gitar sampai tamtam selalu menghiasi pojok belakang kelas dan selalu menjadi primadona saat guru mata pelajaran tak kunjung datang.

LANGIT MUSIK: Menangkap Urgensi Harmonisasi
Yeah, I was born to be brave~
Katanya kelas unggulan satu angkatan, tapi berisiknya tak karuan. Banyak guru yang mengeluh dengan tingkah yang kami lakukan. Namun jangan salah, prestasi tetap kami dapatkan di genggaman tangan. Beberapa guru mengaku heran dengan kami yang nakal tapi pintar. Sama dengan mamaku yang mulai banyak berkomentar.

“Kamu itu belajar apa ngapain? Mata liat buku, kuping disumpel, mulut nyanyi-nyanyi. Belajar yang bener!”

Kemudian aku… menambahkan volume musik yang kudengarkan hingga penuh. Ehehe. Jangan ditiru, kecuali kamu bisa kasih nilai minimal 90 ke mamamu saat ulangan. Sombong kamu, Tiw! Bodo amat. Silakan kalau mau impersonate.

Awalnya, aku hanya sekadar menerapkan metode belajar baru yang lebih menyenangkan untuk meminimalisir kebosanan. Namun ternyata, di kelas dua sekolah menengah pertama aku tau bahwa cara belajar yang kuterapkan selama kurang lebih satu tahun saat itu adalah tepat. Sebab, pemanfaatan musik dalam proses belajar ternyata dapat menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional. Sehingga, bisa memberikan hasil yang lebih baik bagi pembelajar.

Percaya atau tidak?

Aku, sih, yes. Sebab musik mengubah perasaan negatif yang melekat dengan kata “belajar” menjadi sugesti positif. Jika asumsi-asumni negatif yang timbul tak tergantikan dengan asumsi positif bahwa belajar itu menyenangkan, maka proses belajar mengajar tidak akan berjalan dengan lancar. Dengan demikian, musik punya andil yang sangat besar.

LANGIT MUSIK: Menangkap Urgensi Harmonisasi
Masih bisa disebut seimbang, gak?
Kecintaan terhadap musik terus berlangsung hingga sekarang. Bukan hal yang mengherankan jika setiap gawai yang kugunakan akan dipenuhi dengan lagu-lagu kesukaan. Terutama, telepon genggam. Sebab, gawai itulah yang harus selalu ada di mana pun aku berada. Tidak boleh ketinggalan. Aku bisa mati kutu tanpa telepon genggam di tangan.

Tadinya, aku suka sekali mengunduh banyak lagu untuk kumasukkan dalam gawaiku. Aku tipe pendengar berbagai jenis musik, dari yang instrumental sampai yang jedag-jedug, sesuai keadaan hati dan kegunaan musik itu sendiri. Aku suka mendengar suara saxophone untuk belajar. Aku suka instrumental piano sebagai pengantar lelap. Aku suka musik akustik dalam banyak keadaan. Kalau untuk aliran, musik indie yang selalu kumenangkan.

Namun, mengunduh banyak lagu memakan memori yang besar pada gawaiku. Sangat besar, bahkan. Sedangkan, aku pun membutuhkan gawai untuk keperluan lain. Alhasil, jika sedang butuh sekali menyangkut keperluan lain, aku harus merelakan lagu-lagu dalam gawaiku untuk kuhapus. Hhh. Menyedihkan sekali. Tapi hal itu tidak lagi kulakukan setelah aku mengunduh aplikasi Langit Musik di telepon genggamku.

LANGIT MUSIK: Menangkap Urgensi Harmonisasi

Apa itu Langit Musik?

Sebetulnya, dulu aku sudah sempat membahas soal Langit Musik di blog ini. Namun, itu yang versi lama. Nah, layanan musik dari Telkomsel yang bekerja sama dengan PT MelOn Indonesia untuk menawarkan cara baru untuk streaming dan mengunduh lagu secara legal ini sekarang mengalami banyak pembaruan. Jika membandingkan versi lama Langit Musik dengan yang sekarang, aku akan lebih memilih yang sekarang. Jelas. Mulai dari tampilan sampai fitur yang disuguhkan jauh lebih mengesankan.

Tengok dari tampilan, ya. Karena kusedang keranjingan dengan dunia desain, aku lihat logonya terlebih dahulu. Bentuk dari logo baru Langit Musik terlihat lebih sederhana, tapi tampak lebih elegan dan bermakna. Pemilihan warna untuk logo dan aplikasinya pun lebih apik. Dominasi warna ungu dan navy dengan sedikit warna magenta membuat baju baru Langit Musik begitu cantik. Sebagai pencinta warna gelap, mataku sangat berbinar-binar mendapati wajah baru ini. Tampak lebih berkarakter. Dan deep. Mengesankan bahwa musik dapat menyentuh titik terdalam dari masing-masing orang.

Masuk ke soal pilihan layanan di dalamnya, ya. Pembaruan dari Langit Musik kini mengizinkan kita untuk menikmati banyak lagu hingga selesai tanpa berlangganan. Beda dengan versi sebelumnya. Nah, awalnya aku mikir, “Terus bedanya apa, dong, berlangganan sama enggak?” Setelah sekian lama pakai layanan freemium, alias gratisan, aku jadi tau bedanya.

LANGIT MUSIK: Menangkap Urgensi Harmonisasi

Nah, setelah lihat perbedaan di atas, kamu pilih yang mana?

Untuk lebih bebas menikmati enam juta lagu lokal dan internasional yang disediakan oleh aplikasi Langit Musik, jelas enakan pakai yang premium. Untuk berlangganan premium pun gak mahal kok, hanya Rp6.600/minggu atau Rp22.000/bulan. Angka yang worth jika dibandingkan dengan layanan yang bisa didapatkan. Cara langganannya pun sangat mudah. Kalau sudah unduh aplikasi Langit Musik di smartphone—untuk Android dan Blackberry—dan daftar menggunakan nomor Telkomsel, bisa langsung SMS dengan format:

REG NEWLM kirim ke 96161

Dan voila! Aplikasi Langit Musik siap menemani hari-harimu dengan jutaan lagu yang variatif. Nikmat Tuhan mana lagi yang mau kamu dustakan?

Baiknya lagi, provider kesayanganku sejak zaman kumasih pakai seragam putih-merah ini mempersilakan pelanggannya untuk menikmati layanan ini tanpa memotong data kuota internet. Mau freemium ataupun premium sama saja, asalkan paket data yang digunakan masih dalam jaringan Telkomsel. Selain itu, tetap dikenakan biaya untuk streaming dan download.

LANGIT MUSIK: Menangkap Urgensi Harmonisasi

Jika (lagi-lagi) dibandingkan dengan versi lamanya, pilihan menu untuk penyajian fitur-fitur Langit Musik sekarang lebih sedikit. Kurasa, penyederhanaan macam ini sangat tepat dilakukan. Bukan berarti fiturnya berkurang, ya, hanya pilihan menunya yang disederhanakan. Karena kuantitas tak melulu berbanding lurus dengan kualitas. Yha, Tiw, yha.

Baiklah, kumau coba bahas satu-satu, ya.

Explore
Pada menu ini, Langit Musik memberikan kita rekomendasi musik yang mungkin bisa masuk ke dalam playlist. Ada dua submenu di dalamnya, yaitu For You dan Browse. Di submenu For You, kita akan menemukan lagu-lagu yang setipe dengan lagu yang seringkali kita dengarkan. Bisa jadi dari genre yang sama atau penyanyi yang sama. Nah, kalau di submenu Browse, kita bisa mendapatkan lagu-lagu lainnya. Ada list lagu New Release, lagu-lagu yang menjadi Top Hits, lagu dari Trending Artist, ataupun lagu sesuai dengan Moods dan Genres. Entah kenapa aku suka mendengarkan lagu di list Gloomy dalam Moods hahahak.

Tag Station
Ini masih turunan dari menu Explore juga, sih, sepertinya. Di menu Tag Station ini kita akan disuguhkan berbagai macam lagu berdasarkan aliran atau suasana hati tertentu. Tag-nya cukup banyak, jadi pilihan musiknya pun juga banyak. Ada #bahagia, #surprise, #classics, #sadness, #peaceandjoy, #cintaindonesia, dan lain sebagainya. Gak akan bosan dengar lagu yang itu-itu aja pokoknya.

Trending
Nah, menu yang satu ini merupakan gebrakan besar dari Langit Musik bagiku. Pada versi lamanya, belum ada menu Trending. Di aplikasi Langit Musik yang sekarang, kita bisa mengetahui lagu apa yang sedang banyak didengarkan di tempat lain. Dengan demikian, kita bisa ngintip orang-orang di kota lain dominannya memiliki selera musik seperti apa. Seru, deh!

LANGIT MUSIK: Menangkap Urgensi Harmonisasi

My Music
Di menu yang satu ini, kita bisa mengetahui lagu apa saja yang kita simpan, lagu apa yang baru saja kita dengarkan, dan lagu apa yang paling sering kita dengarkan. Jadi, menu ini semacam data statistik kegiatan kita di dalam aplikasi Langit Musik. Menyenangkan sekali, seperti punya asisten pribadi yang siap mencatat apa yang kita lakukan sehari-hari. Eh gimana, Tiw?

Notification
Kalau yang ini, kita bisa melihat update dari teman-teman maupun artis-artis yang kita ikuti. Untuk lebih mudah mengetahui siapa saja teman kita yang menggunakan Langit Musik, tersedia fitur Linked Account. Jadi, kita bisa mengoneksikan akun Langit Musik dengan akun media sosial yang kita punya, seperti Facebook dan Twitter. Dari situ akan terlihat siapa saja yang menggunakan Langit Musik, bisa saling follow deh. Selain itu, kita juga bisa mendapatkan informasi promo yang diberikan oleh Langit Musik dalam menu ini.

Tuh, kan. Banyak banget fitur menariknya! Aplikasi Langit Musik dengan pembaruannya yang sekarang membuat kegiatan mendengarkan musik bukan lagi sekadar kebutuhan, tapi jauh lebih asyik dan menyenangkan. Kita bisa langsung mencari lagu yang ingin kita dengarkan juga di kotak Search, tinggal masukkan judul lagu atau penyanyinya saja.

Tak ada gading yang tak retak. Langit Musik pun demikian. Walaupun sudah banyak diperbarui dengan fitur-fitur yang jauh lebih oke dari versi sebelumnya, bagiku aplikasi ini masih perlu tambahan perbaikan. Yang pertama, soal lirik. Kumenemukan beberapa lagu yang liriknya agak ngaco. Tidak terlalu fatal, memang, tapi kurasa bisa mengganggu kegiatan karaoke yang menyenangkan. Kedua, ini yang sangat aku sayangkan dari aplikasi Langit Musik, kurangnya musik indie. Sudah kusebutkan sebelumnya bahwa aku sangat menyukai musik indie, tapi hanya sedikit yang bisa kutemukan di Langit Musik. Bahkan lagu-lagu Efek Rumah Kaca sebagai band kesukaanku pun tidak terdaftar. Untungnya masih ada Barasuara, sih. Semoga ke depannya bisa ditambah perbendaharaan lagunya.

LANGIT MUSIK: Menangkap Urgensi Harmonisasi
Gak mau follow aku?
Aku membayangkan seandainya zaman masih sekolah dulu sudah ada aplikasi Langit Musik, pasti lebih menyenangkan lagi. Kegiatan belajar bisa jauh lebih mengasyikkan dengan stock lagu yang tidak kekurangan. Waktu yang biasa kugunakan untuk mencari dan mengunduh lagu sebagai teman belajar bisa diminimalisir dengan mudah. Soalnya, kalau pakai Langit Musik kan tinggal streaming aja. Enak ya jadi anak zaman sekarang….

Eh, kok berasa tua gini, ya? =(

Musik membuat hidupku lebih seimbang dan berkembang, ayuk ikut unduh Langit Musik sekarang!




Salam sayang,




Pertiwi Yuliana

You Might Also Like

58 komentar

  1. Tetep ya ada tjurhatnya. Tapi gak apa-apa ding. Asal minum Catylax biar ga bochor-bochor..

    Btw, aku belum pakai langit musik. Tau kenapa? Karna kaulah langit dan musikku. HAPPASIH!! Cukup basa-basinya. Kucuma mau bilang:


    "Baru mampir sudah suka sama tulisannya. Bagi template dong."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hampir selalu komen pertama tapi isinya kok kampret-kampret terus sik akh :(

      Hapus
  2. Haha padahal nyanyi sama Ka Tiwi juga bisa yah bukan hanya gambar aja.. Pernah karokean kan kita?
    Iya yang premium seru jugaa yah.. Bisa dengar lagu sepuasnya tanpa iklan..
    Sip semoga menang yah, Ntiw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bisa, bisa, ayuk nyanyi hahahak.

      Karaokean di Depok kita, lagi dong udah lama gak karaokean nih huehehe.

      SERUUU LANGIT MUSIK IDOLAKUUUU <3

      Aamiin. Terima kasih, Kak Ajen. :)

      Hapus
  3. Bener sih belajar sambil dengerin musik itu berpengaruh positif. Tapi kalo buat gw pengaruh itu hanya diawal. Kalo kelamaan malah lebih fokus sama musiknya hihi ��

    Btw, langit musik emang keren. Tarifnya worth it dengan fitur-fiturnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mwahaha beda emang kan cara belajar tiap orang.

      TOP LANGITMUSIK MAH!

      Hapus
  4. Langit Musik lebih recomended dari yang lain,,,, alasannya cuma 1 (Produk Indonesia)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yosh! Udah pake belum? Ehehe

      Hapus
    2. Udahhh donk.... Sayangnya dikomentar gak bisa ngelampirin gambar sih hahah

      Hapus
  5. Aku dah instal langit musik langsung yang premium. Ternyata asyik ya dengerin musik disini ada teksnya lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul! Bisa karaokean! Suka banget! Gampang ngapalin lagu.

      Hapus
  6. Aku terfokus dengan ilsustrasi fotonya yang cakep! :D

    BalasHapus
  7. Wah masa sekolahnya Kak Tiw menyenangkan sekali. Persis masa SMAku dulu.Belajar sambil nyanyi2, mencerna ilmu di tengah keriuhan. Coba langit musik sudah lahir ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kalo udah ada gak usah susah ke warnet donlot lagu wahahaha

      Hapus
  8. Belum pernah pake kak. Semoga nantinada masanya aku beralih ke yang merah. Tapi kupercaya bahwa musik dapat menambah keindahan dunia. Menemani dalam suka dan suka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk coba hayuk, enak lho :3

      Iya, musik memang sahabat terbaik!

      Hapus
  9. saya baru dua mingguan ini pake app langit musik
    ternyattaah enak bener. bisa tau liriknya, terutama yang bahasa inggris >.<

    baca di sini... saya justru baru tau bedanya freemium dan premium. Pantesan waktu itu pernah nggak mau next-next lagunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak ya jadi gak perlu search dan catat dulu hahaha

      He em enak premium lebih bebas sesuka hati.

      Hapus
    2. hihihi, tapi sek eman-eman duit kak, apalagi saya juga jarang dengerin lagu

      belajar, nggak bisa konsen kalo pake lagu. Beda ya kita >.<

      Hapus
    3. Pake musik klasik enak, Mbak. Adem huehehe

      Hapus
  10. Gue baru beberapa minggu ini sih nyobain aplikasi ini. Untuk saat ini, aplikasi langit musik ini cukuplah ya sebagai aplikasi streaming. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren bangetlah suka banget gue >,<

      Hapus
  11. applikasi langit musik bagus nih buat dengerin lagu secara online atau streaming. bisa munculin lirik lagi di applikasinya. Jadi pingin coba nih applikasinya

    BalasHapus
  12. Harus dengan TSel ya? mungkin kita berbeda soal belajar.. karena kalo sambil dengerin musik, saya malah nggak bisa konsen :p saya pecinta keheningan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya regisnya pakai nomor Telkomsel, Maseko.
      Kalo musiknya berlirik juga aku gak konsen hahaha makanya suka instrumental saxophone.

      Hapus
  13. "Pemanfaatan musik dalam proses belajar ternyata dapat menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional" aku setuju untuk ini. Pas belajar, aku juga suka sambil denger musik.

    Tapi, kalau nulis ada musik. Ampun, aku susah konsentrasi.

    Btw, aku juga selama sekolah selalu juga ada di kelas unggulan. Hanya di beberapa tahapan, aku nakal sendirian.

    Saik juga nih konsep ripiunya, cuma di gambar pembagian porsi otak, SENI kok kebacanya kaya SLNI ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itu hasil skrinsut pas digedein begitu :(

      Aku sukanya yang klasik sih kalo buat belajar sama nulis. Bikin tenang. Gak pake lirik tapinya ya hahaha. Kalo ada juga susah konsen.

      Hapus
    2. setuju sih sama bang dika, kalo nulis diiringi dengan musik yg ada malah tulisan ikut terpengaruh suasana musik yg lagi dengar. Misalnya gini, niatnya mau nulis tulisan yg agak galau tapi nyetel musik riang gembira rock and roll dsb, yg ada tulisan bukannya galau malah jadi kacau balau hahaha

      Hapus
    3. Ya disesuaikan dong sama suasana hati hahaha

      Hapus
  14. Musik ini emang luar biasa besar pengaruh ya. Bisa ngerubah mood orang 180 derajat seketika.

    Kalo band indie nya lengkap nggak ya di langit musik?

    BalasHapus
  15. Wihhh, pakai langit musik juga? Aku juga pake dong. Dngerin musik jadi makin asyik. Cuma sayang, koleksi lagu indianya masih kurang ah. Wkwkw

    Btw, aku jadi inget masa SMP kelas 9. Kita kebalikan, aku dapat kelas paling parah. kami giat belajar kalau diiringi dengan musik. :3

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahahaha indiaaaa, jadi inget mantan

      Hapus
  16. Aku dulu jg blajar sambik denger musik, pake tip gedhe lagi. Coba dulu udah ada langit musik ya, bs ajep2 pake headset

    BalasHapus
  17. Saya suka Langit Musik. Tapi bagian lirik memang perlu pembaruan dan penambahan

    BalasHapus
  18. Jadi anak kelas unggulan tuh nggak enaknya sering dituduh dianakemaskan sama guru. Apaan, padahal kan nggak milih jadi anak unggulan.

    Btw, fitur liriknya Langit Musik nolong banget nih buat prepare nonton konser BCL.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anggapan itu gak berlaku buat kelasku hahaha

      Asek dah yang habis nonton konser BCL. Heu.

      Hapus
  19. I like langit musik.
    Ngapain juga liat konser klo ada yg bisa lebih untuk d nikmati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini komen kayak bales-balesan sama Om Yos hahaha

      Hapus
  20. Wah, aku belum pernah coba aplikasinya tetapi jadi tau sebelum membeli ehh men-download ����
    Btw lagu Jepang termasuk dalam playlist yang suka didengar ngga, kak? ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku gak suka, sih. Cuma suka Depapepe huehehe

      Hapus
  21. Kemarin aku donlot Langit Musik...tapi karena satu dan lain hal, terpaksa saya copot.

    Hiikss...

    Semoga fitur Langit Musik makin memanjakan penggunanya...^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kenapa tuh? :(

      Aamiin, semoga makin asyik!

      Hapus
  22. Aku juga suka dengerin musik sambil belajar dan bekerja. Tapi kalau pelajarannya hafalan, lebih suka yang hening. Saat nulis blog juga lebih suka keheningan. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahaha kalo buat hafalan iya sih enakan hening.

      Hapus
  23. saya kalau pakai musik,
    jadi g bisa konsen
    hehe

    BalasHapus
  24. Pilih yang Premium, btw gak tau kenapa dari duku selalu kagum sama cewek yg bisa main gitar. *kode*

    BalasHapus
  25. Lagi dan sekali lagi, ketika baca tulisan tentang ulasan langit musik di blog lain entah kenapa saya merasa, ulasan langit musik tulisan saya itu tidak ada apa-apanya. Rasa-rasanya, seperti yang sudah2 kali ini pun saya bakal jadi tim penggembira lomba saja haha untuk menjadi pemenang entah kenapa minder sendiri..

    Ulasanmu lengkap wi, bahkan dijelaskan dengan pengalaman dan dibaluri dengan curhat akan sebuah musik dan pengalamannya dalam menggunakan aplikasi langit musik. Memang ya, kekuatan niat itu menjadi kekuatan utama dalam sebuah menulis. Jika niatnya hanya separuh cenderung ala kadarnya seperti niat saya dalam menulis ulasan LM, akan terlihat jelas lewat ulasan yg terlihat begitu ala kadarnya :')

    Berbeda 360 derajat lebih sedikit dengan tulisan ini..
    Sejauh mata memandang, saya melihat tiga tulisan bagus ttg ulasan LM ini, tulisannya Bang dika, Bung Ilham, sama tulisan ini... ya semoga, tulisannya masuk jadi salah satu pemenang wi... bismillah!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, yaa Rabb. Semoga dan semoga bisa menang. Aamiin.

      Btw, Ilham gak ikutan lomba LM tau, dia ikutannya yang HOOQ wqwq.

      Hapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer