Dunia di Dalam Pikiran | Your Favorite Devil's Advocate
article

Dunia di Dalam Pikiran

Senin, Januari 30, 2017

Dunia di Dalam Pikiran
Original image source from: Pinterest
“Aku boleh tanya sesuatu, gak?”

“Boleh, tanya apa?”

“Maaf kalau nyinggung. Kenapa, sih, kamu sering menyendiri? Padahal rame itu asyik.”

Asyik buat siapa? Pikiranku mulai menerawang. Bingung mau menjawab dengan kalimat yang bagaimana. Bingung akan membalas dengan pernyataan seperti apa. Pun lagi, bingung memberi pengertian perihal perbedaannya bagaimana.

“Karena aku lebih suka begitu. Sesederhana itu jawabannya. Bingung juga mau jelasinnya gimana.”

Ya, hanya itu yang bisa terucap.

***

Namanya Manusia. Sebuah koloni besar yang hidup berdampingan di tengah banyaknya perbedaan. Namanya Manusia. Berjalan beriringan walau tidak satu tujuan. Namanya Manusia. Seringkali luput dari pemahaman kecil tentang yang lainnya. Namanya Manusia. Mereka yang tak dapat membantah lupa.

Ada sosok penyendiri di antara mereka yang asyik berkumpul. Ada si pendiam yang ada di tengah ramainya interaksi hahahihi ngalor-ngidul. Ada pikiran serius di tengah orang-orang yang bercanda. Ada sosok yang tampak tak acuh dengan sekitarnya. Sosok yang seringkali dianggap berbeda di antara kebanyakan orang. Mereka ada.

Dunia di Dalam Pikiran
Original image source from: Pinterest
Carl Gustav Jung memopulerkan keadaan manusia yang demikian dengan sebutan introvert. Beliau menempatkan introvert di dalam kelompok minoritas. Mungkin, ya, karena kepribadian mereka yang tampak begitu kontras dengan kelompok dominan, ekstrovert. Namun, berada di kelompok minoritas bukan berarti menghilangkan peranan mereka di dalam masyarakat. Mereka ada. Mereka berbeda. Dan mereka bermakna.

Aku berbeda
Aku berbeda
Berlari-lari di taman mimpiku
Imajinasi telah menghanyutkanku
Mimpiku sempurna, tak seperti orang biasa
(Fourtwnty – Aku Tenang)

Saya pernah membaca sebuah cerita pendek dari sebuah buku antologi cerpen yang berjudul sama, Dunia di Dalam Mata. Cerita pendek yang ditulis oleh Ria Soraya ini mengisahkan tentang seseorang yang begitu suka duduk berlama-lama di hadapan cermin. Akan tampak aneh bagi sekitarnya, tapi dia bahagia. Sebab, di dalam cermin itu dia melihat kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang tampak dari sebuah kota yang ada di dalam matanya.

Begitulah kira-kira sedikit gambaran kehidupan seorang introvert. Ada dunia lain di dalam dirinya yang tak dapat dimasuki oleh sesiapa. Ada dunia lain yang hidup di kepalanya dan bisa jadi begitu nyata. Ada dunia lain yang tumbuh dari imajinasinya yang membuncah. Dunia di dalam pikirannya.

Bagi kalian yang belum mengenal pribadi introvert ini, mungkin akan menganggap mereka adalah orang-orang yang begitu dingin, begitu tidak memedulikan apa yang terjadi di sekitarnya, dan begitu sibuk dengan dirinya sendiri. Namun ternyata, tidak. Orang yang cenderung berkepribadian introvert memang lebih suka menyendiri, tertutup, dan tidak melibatkan diri pada kelompok sosial yang hingar-bingar. Kita hanya butuh untuk saling percaya dan menghargai kepribadian satu dan lainnya.

“Sementara introvert adalah kelompok minoritas dalam masyarakat, mereka membentuk sebuah mayoritas bagi orang-orang yang berbakat.” – Nicole Kidman.

Saya percaya setiap manusia dilahirkan dengan kehebatannya masing-masing, dengan bidangnya masing-masing, dengan bakatnya masing-masing. Termasuk para introvert. Bukan karena mereka lebih menyukai keheningan sambil meminum segelas kopi panas dan membaca buku, lalu mereka benar-benar hilang dari dunia nyata dan tidak berarti apa-apa. Justru, banyak bidang yang bisa dengan fasih dikuasai oleh para introvert ini.

Salah satunya, seni.

Di dalam dunia seni, orang-orang berkepribadian introvert adalah lakon utamanya. Menurut pernyataan ahli psikologi sekelas Mihaly Csikszentmihalyi dan Gregory Feist, orang-orang introvert adalah orang-orang dengan kreativitas berkelas nomor satu. Wow! What an amazing thought!

Saya rasa, pernyataan tersebut bisa sangat jelas diterima jika kita kembali menilik perihal kebiasaan seorang introvert yang lebih suka menyelam penuh ke dalam pikirannya. Mereka berbaur bersama dengan intuisi dan ketenangan yang bersinergi dengan kesunyian. Dari sanalah, beberapa mereka akan mencipta berbagai karya. Dengan begitulah mereka bisa menunjukkan eksistensi mereka kepada dunia.

Dunia di Dalam Pikiran
Original image source from: Pinterest
Namun, tunggu. Menurutku, orang-orang berkepribadian introvert bisa sangat terganggu jika mereka dihadapkan oleh keadaan-keadaan tertentu. Keadaan-keadaan seperti apakah itu?

Pertanyaan yang lebih dalam tentang keadaannya.
Dengan pribadi yang begitu tertutup, orang-orang introvert akan merasa tidak nyaman jika kita terlalu dalam bertanya tentang keadaannya. Biarpun mereka tampak murung, tapi jika mereka berkata tidak apa-apa maka biarkanlah mereka tetap pada dunianya. Orang-orang introvert akan memilih kepada siapa mereka akan bicara lebih banyak. Tak perlu tersinggung jika mereka lebih memilih diam, mereka hanya butuh ruang yang nyaman.

Terlalu banyak dicari tau tentangnya.
Kalau boleh saya sarankan, sebaiknya kita tidak terlalu banyak mencari tau tentang siapa dan bagaimana orang-orang introvert ini. Walaupun, ya, kepo sudah menjadi semacam trend masa kini yang sulit dihindari, jangan lakukan pada orang-orang berkepribadian introvert. Mereka bisa jadi marah dan membenci karena merasa privasinya dicampuri. Ketika kita mencoba untuk masuk ke dalam dunianya, mereka akan begitu tegas untuk menolak. Karena baginya, dunianya adalah miliknya sendiri. Sekali lagi, jangan tersinggung. Kita hanya butuh untuk saling memahami.

Dicampuri urusannya.
Bagian ini, kurasa bukan hanya untuk introvert, karena banyak orang—saya tidak mau sebut semua orang—yang tidak ingin urusannya dicampuri oleh orang lain. Terlebih, jika urusannya dicampuri oleh orang yang tidak benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Itu hanya akan membuat introvert menarik diri. Lebih dan lebih lagi menarik diri.

Berbicara di depan umum.
Orang-orang berkepribadian introvert cenderung berbicara seadanya, tidak menggunakan banyak basa-basi yang berbelit. Singkat, padat, jelas. Berbeda dengan seorang ekstrovert yang gemar berbicara, bahkan terkadang terlalu hiperbola. Maka itu, jika orang-orang berkepribadian introvert diharuskan untuk berbicara di depan banyak orang, akan menjadi sesuatu yang berat. Bisa, tapi jangan dipaksakan.

Dipaksa mengikuti kehendak orang lain.
Biarkan saya mengulang frasa terakhir di paragraf sebelum poin ini, jangan dipaksa. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, orang-orang berkepribadian introvert ini punya isi kepala yang cukup berbeda dari orang kebanyakan. Sebagai minoritas, jelas mereka seringkali dituntut untuk menyeragamkan pikirannya. Tentu itu merupakan sesuatu yang sulit bagi mereka. Mereka lebih suka merdeka, sejak dalam pikiran.

Waktunya untuk sendiri diganggu orang lain.
Jika seorang introvert meminta waktu untuk dirinya sendiri, maka berikanlah. Sebab itu adalah salah satu cara bagi mereka untuk membahagiakan dirinya. Jangan ganggu waktunya dalam menyelami pikirannya sendiri. Karena bisa jadi, kita akan mengganggunya dalam proses kreatif untuk mencipta sebuah karya. Biarkan mereka sendiri untuk menunjukkan eksistensi. Lewat karya, yang pasti.

Bagaimana? Apakah berteman dengan seorang introvert tampak begitu sulit? Sesungguhnya, tidak. Mereka hanya butuh ruang yang berbeda. Kita sama-sama tidak dapat memaksakan kehendak siapa yang harus mengikuti siapa. Kita hanya butuh untuk saling menghargai dan menerima adanya beda. Beda bukan berarti tidak dapat hidup bersama, kan?

Lalu? Bagaimana dengan saya?

Saya ambivert, yang seringkali condong menjadi pribadi yang introvert. Ditambah lagi dengan golongan darah AB yang selalu ingin berbeda dari apa yang ada. Kecenderungan introvert plus golongan darah AB. Lengkap sudah. Saya begitu khatam dibilang alien, aneh, dan sebagainya. Namun, saya tetap bahagia. Karena, saya berbeda. Hahaha.

Suatu ketika, di sebuah grup WhatsApp sedang ramai membicarakan golongan darah. Lalu….

“Mau absen, Tiwi AB.”

“Ilham AB juga gak, Tiw? Kadang aku sama AB itu gak paham. Wkwkwk. Antar-AB aja yang klop.”

“Iya, Ilham juga AB hahaha!”

“YA UDAH JELASLAH, YA!”





Salam sayang,




Pertiwi Yuliana

You Might Also Like

46 komentar

  1. Haloo intovert + AB + gemblung.

    Tak andani ya, sebenarka kamu itu bukan ambivert atau introvert, dan tentu bukan extrovert. Kamu itu spesies baru. CGJ pasti juga setuju padaku jika mengklasifikasikan dirimu sebagai tipe keempat, Kamvert.

    Btw, kamu dituding sebagai alien? Jangan bayangkan sosok mahkluk kecil, kurus, muka gepeng, dan mata besar. Sebab definisi alien yang berlaku untukmu itu alien versi Asgard.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Typo ini harap dimaklumi. Jempolku terbentuk dari darah, tulang, dan daging. Bukan dari peluit @PolwanEBI

      Hapus
    2. Ah elah ini ngakak sampe ditanyain mama tau, parah! Bgst! Bhahahahak.

      Hapus
    3. Eh btw, gosah bawa-bawa @PolwanEBI ah kesian dia nganu sekali wqwqwq

      Hapus
  2. Aku masih ragu untuk menyebut diriku introvert. Orang sekitarku pun akan membantah keras kalau ga mungkin aku introvert. Aku ini cerewet, cukup senang menceritakan diriku (tertutama lewat tulisan), tapi diam-diam ada bagian dalam diri yang sebenarnya lebih senang menyendiri dan hanya mengamati. Hmmmm aku spesies langka kali ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga suka dibilang bullshit kalo aku bilang aku kalem, heu. Kalo dari tulisan memang aku bawel, sih. Aslinya diem. Kecuali kalo nemu yang klop banget. Hehehe.

      Hapus
  3. Abang intropret loh neng
    Ya kan abang juga kalo bicara didepan umum g banyak2
    Misalnya ada yg nanya
    Kamu udah makan?
    Abang jawabnya udah
    Kamu dah minum?
    Udah
    Kamu bete y sama aku?
    Engga
    .
    Abang baru tw loh kalo neng ini alien
    Soalnya wujudnya sama kayak manusia
    Huh abang selama inu ketipu
    Belajar dimana nih kok bisa bahasa indonesia?
    Asli dari planet mana, neng?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belajar dari film PK, aku pegangan tangan lama-lama sama Ilham supaya ilmunya bisa kuserap. Aku jadi tau banyak hal tentang Bumi. Terima kasih, Ilham.


      Dan...
      .
      .
      .
      .
      .
      Komentar kamu bajingan sekali, Nik! HAHAHAHA

      Hapus
  4. Saya senang dengan kesendirian dan fikiran sendiri. Apakah alien juga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama belum ada yang menuding Mas Adi sebagai alien, Mas Adi aman.

      Hapus
  5. Bagi seorang introvert, ruang ramai adalah tempat sebisa mungkin dihindari. Namun sesekali perlu dikunjungi, namun dalam intensitas yang berbeda dibandingkan dengan ekstrovert tentunya.

    Introvert adalah orang yang berorientasi ke ‘dalam’ diri mereka sendiri (inward thinking). Mereka tertarik pada dunia ide, pemikiran, dan konsep sehingga orang-orang introvert sangat menyukai suasana tenang untuk menyendiri untuk berpikir ataupun beraktivitas. jadi sangat wajar, jika seorang introvert lebih suka membangun dunianya sendiri di dalam pikirannya. Maka jangan heran jika introvert sedang bergaul dengan kawan2nya, biasanay dia hanya menjadi pendengar saja, lebih banyak menyimak dan mendengarkan daripada membuka mulutnya menyuarakan pendapatnya, introvert lebih banyak mengamati. Namun sayangnya, banyak orang yang salah mengartikan itu semuanya...

    Kaum ekstrovert, sebagai kaum yang mayoritas seringkali mempengaruhi pandangan masyarakat secara luas mengenai kaum introvert. Kemampuan berbicara yang dimiliki para ekstrovert seolah mengintimidasi kaum introvert untuk sebaiknya tidak perlu berbicara. Akibatnya, orang-orang yang dianggap oleh masyarakat memiliki keberanian, dan kemampuan berbicara akan dianggap sebagai tokoh yang berpengaruh. Kaum introvert tidak berbicara hanya sekenanya saja. Ketika mereka berbicara, mereka menyampaikan pikiran mereka dan tak jarang ketika mereka sudah berbicara, mereka tak sungkan-sungkan untuk menumpahkan segala apa yang ada di pikiran mereka. Tapi, hal ini jarang sekali terjadi. Introvert terkadang jauh lebih suka menuliskan segala pikiran2nya lewat aksara dibandingkan dengan berkata-kata...

    tulisan soal introvert, sudah pernah saya tuliskan disini -->
    http://www.sastraananta.com/2014/05/berbicara-dengan-mudah-tapi-tidak-bagi.html

    Maaf bukan bermaksud promosi atau apa, cuma sekadar berbagi cerita saja...
    Terima kasih, dan salam introvert :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi sekarang kolaborasi nulis modelnya begini ya? Yang satu nulis di bodypost, yang satunya lanjutin tulisan di komentar. Iya juga ya. Efektif ini.

      Mungkin bisa jadi trend kolabotasi blog 2017. Kreativitas kalian luar biasa.
      Salam introvert!

      Hapus
    2. Mas Fandhy kok ya buka lapak sendiri di postinganku? :(

      Hapus
    3. Oh iya, komentar Ilham bisa jadi sebuah indikasi kecemburuan. Egimana? Wakakak.

      Hapus
  6. Introvert atau ekstrovert, mereka punya dunianya masing-masing. Punya kelebihan dan kelemahannya sendiri. Tapi kalau fokus untuk selalu mengembangkan sisi positif yang dimilikinya, pasti bisa jadi orang yang sukses.

    BalasHapus
  7. Saya bisa jadi keduanya. Apakah saya punya kelebihan atau justru kelainan? Apakah saya alien?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buat aku sih kelebihan. Soalnya bisa menempatkan diri sesuai kebutuhan. Sebenarnya tiap orang, kurasa, punya kedua sisi itu. Cuma yang paling dominan biasanya ya salah satunya aja.

      Hapus
  8. Kalo introvert sudah banyak orang, kan jadi gak kelompok minoritas. Jadi minoritas sebetulnya kudu ikut aturan mayoritas selagi itu baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dihitung jumlah yang "banyak" bukan berarti dia setara dengan "yang lebih banyak". Itu cuma komentar dua kalimat aja kontradiktif. Kalimat pertama menyiratkan bahwa introvert bukan minoritas, tapi di kalimat kedua kembali ngomong soal minoritas dan mayoritas.

      Btw, dapat kesimpulan "minoritas kudu ikut aturan mayoritas" dari mana ya? Tau kudu artinya apa, kan? Harus. Wajib. Dan, apakah Anda tau bahwa hal baik dan buruk itu merupakan sesuatu yang relatif? Tau juga kan artinya relatif itu apa? Gak semua hal yang baik bagi suatu kelompok merupakan hal yang baik juga bagi kelompok yang lainnya. Saling menghargai, dong, bukan seenaknya bilang harus mengikuti kayak gitu.

      Hapus
  9. Aku mah ambivert aja. Rata-rata sih :D

    BalasHapus
  10. Aku baru tahu kalau introvert itu ternyata minoritas. Pun hingga kini aku tak berani ngaku2 sbg pribadi intro/extro. Tapi boleh jadi aku masuk di keduanya, cuma intensitasnya beda. Mungkin 70:30 😉

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejatinya, bagiku, memang gini sih. Selalu ada yang dominan.

      Hapus
  11. jeng jeng jeng, pas baca di awal-awal gue kira lo seorang introvert, tpai pas dibawah-bawah ternyata lo seorang ambivert, sama kek gue dong ya. tos duluuu hehe

    BalasHapus
  12. Pernah ngrasa gak mbak, kaau ketemu org introvert ketauan dr pertama kai ketemu? Aku sering soalnya ketemu org trus mikir"nih org sepertinya tertutup" ternyata pas udah agak lama kenal ya emang gtu, apa kebetulan aja ya nebaknya hehe.
    Btw itu ilustrasinya gambar sendiri?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi keliatan, sih. Cuma ya tergantung orangnya masing-masing juga. Huehehe.
      Enggak, itu dari Pinterest, aku edit-edit doang. Suatu saat nanti aku akan bikin ilustrasinya sendiri.

      Hapus
  13. Kalo aku lebih ke extrovert. Hahaha. Semua keadaanku bisa ditebak. Tapi bener banget dengan tulisan tiwi, apapun diri kita, jadilah diri sendiri. Jangan menjadi diri orang lain hanya karena ingin dianggap tidak berbeda. Kalau kita pendiam, suka menyendiri, dan itu membuat kita bahagia, lalu kenapa kita harus mengikuti cara org lain.

    BalasHapus
  14. Introvert nggak masalah, yang masalah kalau Ansos alias anti sosilai, sudah termasuk gangguan jiwa.
    Aku punya banyak teman introvert tetapi sebenarnya mereka adalah Extrovert yang enggan terbuka pada orang asing hahaha..
    Tulisan yang menarik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu makanya aku bilang aku ambivert yang cenderung introvert wkwkwk sama kayak temen-temennya Kak Ajen juga.

      Hapus
  15. Saya introvert yg suka ngayal jadi extroverted. Tapi susah banget. Wkwkwk.. Kalo ngobrol lebih pas one on one. Kalo bbrp or lebih jadi pendiem. Makanya mikir lama kalo diajak gathering, kopdar pdhal mau juga bakudapa sama yg seringnya lewat WA. Hahaha!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku jugaaaa, enakan ngobrol berdua. Tapi ya gitu hahaha kalo gak cocok ya tetep aja gak cocok walaupun berdua, ujungnya tetep diem.

      Hapus
  16. Mbak Tiwi, artikel ini menarik sekali. saya orang yang cenderung introvert cukup terwakili dengan tulisan ini. orang introvert itu memang cenderung berkata apa adanya tanpa basa-basi, dia lebih suka keheningan.

    Good Mbak, detail sekali pembahasannya.

    BalasHapus
  17. bikin aku jadi ketampar sendiri. sebagai orang yang keliatan ambivert tapi diri sendiri anggapnya introvert, aku ngerasa semuanya bener-bener... ya bener .-.

    apalagi di bagian kalo ditanya tentang hal yang lebih dalam. kadang aku suka makin diem. mau dijawab "malu", nggak dijawab takutnya gimana. serba salah.

    intinya, salam introvert!

    BalasHapus
    Balasan
    1. I KNOW WHAT YOU FEEL, SIST! HAHAHAHA

      Hapus
  18. aku lebih melihat tiwi sebagai introvert hehe. ya apa pun itu aku ttap sayang kamu, halah. btw aku apa ya, aku gatau aku apaan, yang penting idup. udah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ululuuu ini kok manis banget, sih? Love you too, mwah! :*
      Uni lebih menonjol sebagai ekstrovert kayaknya. :/

      Hapus
  19. Waaa baru baca. Tapi emang sebenarnya semua orang punya sisi extrovert dan introvert menurut gue yah. Hanya saja dilihat yang dominan yang mana. Dan nggak semua extrovert itu pinter ngomong dan suka hahahihi, juga nggak semua introvert itu pendiam dan tertutup, tergantung kepribadian masing-masing sesuai pengalaman dan lingkungannya kayak apa. Belajar dari MBTI sih gue huehuehue.

    www.magellanictivity.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gak bisa disamaratakan. Makanya di atas gue tulis menurut gue doang, soalnya... itu berkaca pada diri sendiri wkwkwk.
      Tadinya gue mau masukin hasil tes MBTI gue, tapi nanti jadi keliatan banget gue kayak apa. Lebih dalem dari sekadar introvert atau ektrovert sih. Kemisteriusan gue bisa terancam hahaha

      Hapus
  20. Hai mba salam kenal, dari yg mba tuliskan saya melihat karakter seperti itu ada pasa sosok temen saya hehe dan memang begitu adanya. Ekstrovert dan introvert juga bisa dilihat berdasarkan dominan otak mana yang digunakan ya...

    BalasHapus
  21. Wogh, sama, gue juga introvert, kak! Nggak suka bicara banyak aslinya, tapi suka bawel kalau di chat. Teman-teman di kampus aja masih pada nggak percaya kalau gue ini introvert. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gue belum ketemu lu, gue masih belum tau lul beneran gitu apa enggak wkwkwk

      Hapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer