Memaknai Jeda | Your Favorite Devil's Advocate
article

Memaknai Jeda

Rabu, Maret 09, 2016

Memaknai Jeda


“And I must ask you to imagine a room, like many thousands, with the window looking across people’s hats and vans and motor-cars to other windows, and the table inside the room a blank sheet of paper on which was written in karfe letter WOMAN AND FICTION.” – Virginia Woolf, A Room of One’s Own.

Memang, perempuan tampak telah mendapatkan sesuatu yang disebut dengan emansipasi. Namun, kesalahan-kesalahan atas paham ini masih saja terus terjadi. Seringkali, perempuan tampak seperti monster yang sangat menyeramkan bagi para lelaki. Setelah sekian lama dipeluk oleh adanya wacana patriarki, perempuan mulai dapat merasakan memiliki dirinya sendiri.

Memiliki diri sendir?

PATRIARKI

“Patriarki ini merupakan suatu sistem sosial yang memberikan prioritas dan kekuasaan terhadap laki-laki dengan secara langsung maupun tak langsung, dengan kasar mata maupun tersamar, melakukan penindasan atau subordinasi terhadap perempuan.” – Budianta, halaman 3, dalam Teori Sastra Feminis oleh Irsyad Ridho.

Lagi dan lagi, dominasi pihak laki-laki melulu menjadi guncangan tersendiri untuk hati perempuan masa kini. Sebab, perempuan tidak boleh membiarkan dirinya diintimidasi oleh masa lalu. Karena, masa lalu tak akan pernah dapat berdusta kepada masa depan. Maka, jika perempuan hanya diam, tak akan sampailah dia pada tujuannya. Tak akan berubahlah masa depannya.

Namun, perempuan tetaplah perempuan. Setangguh apa pun dia berada dalam dunia karir, dia akan kembali menjadi pribadi yang harus dibagi.

“Secara tradisional, perempuan adalah sosok yang tidak independen; ia menjadi milik suami dan anak-anaknya. Setiap saat, suami atau anaknya bisa datang dan menuntut penjelasan, dukungan atau bantuan, dan perempuan berkewajiban untuk memenuhinya. Kaum perempuan adalah milik keluarga atau kelompok, bukan milik dirinya sendiri.” – Simone de Beauvoir, dalam esai berjudul Perempuan dan Kreativitas, halaman 92,  dalam buku kumpulan esai Hidup Matinya Sang Pengarang oleh Penerbit Obor.

Maka itu, perempuan dikatakan membutuhkan ruang pribadi untuk memberi kenyamanan terhadap diri sendiri. Aku pribadi, sebagai seorang perempuan, seringkali menikmati kesendirian. Aku dapat bercinta dengan aku dan lebih memahami siapa dan bagaimana aku. Cap penyendiri melekat padaku, siapa pula yang takut? Aku selalu dapat menemukan tempat paling nyaman saat aku sendiri.

Aku butuh jeda.

Dan, ya, kurasa semua orang butuh jeda. Dari dunia, bahkan dari orang-orang terdekatnya. Bukan, bukan untuk melepas diri dari itu semua. Hanya untuk mengetahui lebih dalam tentangnya, lebih paham hakikat hidupnya, dan lebih bertanggungjawab atas apa yang diembankan Tuhan kepadanya.


Karena untuk mencintai selain Tuhan—yang ada di luar raga kita—sepatutnyalah kita mencintai diri kita terlebih dahulu untuk menyempurnakan rasa yang kita punya.

Memaknai Jeda

Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak aja jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?

Bagaimana? Manusia bagaikan serangkaian huruf yang membentuk kata. Kata yang ditulis dengan begitu indah pada tiap hurufnya. Memiliki ciri dan keunikan tersendiri pada setiap adanya. Namun, bagaimana? Bagaimana bila dua kata yang sejatinya ingin bersama dan membentuk frasa tapi tak menghadirkan spasi di dalamnya? Bagaimana kita dapat memaknai dua kata itu dengan benar?

Bukankah kita baru bisa bergerak bila ada jarak? Dan saling menyayang jika ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

Aku pernah mengenal tentang teori menggenggam pasir. Saat di mana tangan itu menggenggammu terlalu kuat, sehingga yang terjadi adalah semakin banyaknya pasir yang jatuh. Cinta itu kelembutan, bukan bermain genggam mana yang lebih kuat. Memberi kesempatan untuk pasangan untuk mencintai dengan caranya sendiri. Dengan setiap ukiran yang unik di dalam dirinya yang telah dipersembahkan Tuhan untuk kita.

Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. Jadi, jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.

Mungkin, ada di antara kamu yang membaca ini dan telah memiliki tambatan hati. Namun, kita tetaplah pribadi yang berdiri sendiri. Kita tetaplah individu yang berbeda sama sekali. Bukan, bukan berarti perbedaan harus menimbulkan perdebatan. Justru, kita dapat lebih memaknai warna-warni dunia. Kita bukan memaksa pasangan kita untuk menjadi seperti kita, untuk lebih dekat dari nadi kita. Bukan. Biarkan dia menjadi apa adanya, karena Tuhan mempertemukan untuk berjalan satu arah.

Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat. Janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung. Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring bukan digiring.                                        (Dewi Lestari, “Spasi”, 1998, halaman 98, dalam Filosofi Kopi)

Perempuan. Jangan dekap terlalu erat. Karena tempat paling nyaman untuk mereka ialah berada di sampingmu, sejajar denganmu, beriringan denganmu. Hanyalah jeda yang dibutuhkannya. Jeda yang dimaknai dengan begitu indah. Agar dia dapat menemukan ruang pribadinya. Dan belajar. Untuk. Mencintaimu. Lebih. Dari. Yang. Kamu. Tau. Sebelumnya.

“Give her a room of her own and five hundred a year, let her speak her mind and leave out half that she now puts in, and she will write a better book one of these days.” – Virginia Woolf, A Room of One’s Own.

Dan aku masih begitu menikmati antara. Dengan segenap imaji dan dekap aksara. Aku masih sangat membutuhkan jeda. Untuk memenuhi seluruh aku dengan peluk cinta.




Perempuan,




Pertiwi Yuliana

You Might Also Like

46 komentar

  1. Buseng, gue butuh tembok tiw, baca tulisan kamu. Bacaaan tingkat tinggi banget iniiih *aseeek*

    Katanya sih, perempuan jika sudah milik laki-laki aka suaminya, maka ia tak akan lagi menjadi dirinya sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mapres FMIPA mah baca ginian doang apaan atuh :(

      Iya itu yang ditulis sama Simone dan Woolf juga, Kak.

      Hapus
  2. Ini memperingati hari perempuan, kan? Huuuuhuhuuu otak gue gak nyampe ini. Berat..:(

    Tapi gue suka kutipan dewi lestari tuh. Keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Apalah, hahaha.

      Iya, paling gue suka tuh.

      Hapus
  3. Dear jodoh, masih lama gak otw nya? :'( aku tanpamu, bagai sms-an pake esia, lelah gak ada jeda(spasi)nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ng.... Mau dipromosiin, Kak Tres? Hahaha

      Hapus
  4. Balasan
    1. Iya, sedang ingin menggunakan banyak sumber, Pak. Hehehe nanti ditambah lagi. Terima kasih koreksinya, ya.

      Hapus
  5. Gue lagi menyelarasan pemikiran elu sama pemikiran gue men...

    Yang gue suka si cuman satu
    Kita akan berkembang ketika kita memiliki jarak. Bukan membuat jarak.
    Ah tau ah. Otak gue ga nyambung

    BalasHapus
  6. Aku juga seperti itu menyukai waktu untuk sendirian malah lebih banyak waktu untuk sendirian ketimbang banyak berinteraksi dengan teman. Karena ya sendiri itu tenang apabila kita tahu bagaimana cara menyikapinya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya karena setiap manusia butuh jeda, butuh waktu untuk dirinya sendiri :)

      Hapus
  7. Yaa, pada dsarnya semua memang butuh jeda.
    suka bnget yang ini,
    Bukankah kita baru bisa bergerak bila ada jarak? Dan saling menyayang jika ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.

    BalasHapus
  8. Yap, selalu ada jeda dalam hari-hari gue karena waktu gue bukan dikorbani untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti yang teman-teman gue lakukan. Gue lebih milih sendiri. Dalam diam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, tapi tetap harus seimbang, Za.

      Hapus
  9. Yuhuu.. Bagus ukhti Jeda untuk mempersiapkan diri, jeda untuk memantaskan diri, jeda untuk memperbaiki diri, jeda untuk ridha Allah Azza Wa Jalla. Itu sih yang ana pikirkan. hehe

    BalasHapus
  10. Duh, jeda. Jadi pengin jeda punya pacar biar ngurangin mesum. Eh.

    Pantes kayak nggak asing sama kalimatnya. Taunya emang kutipan dari tulisan "Spasi". :))
    Btw, itu gambar milik pribadi apa gimana deh? Bukannya skrinsut gugel? Kok dikasih watermark? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ini lagi belajar bikin gambar sendiri. Jangan diikutin, ya. :(

      Hapus
  11. Bagus tulisannya. Kontemplatif.

    BalasHapus
  12. Kaya baca kti, banyak kutipan. Tapi sukaa dibacanya enak, ngaliiir. Aku butuh jeda tuk kenali diriku sejatinya.

    BalasHapus
  13. Setuju. jeda itu membuat kita sebagai perempuan punya identitas sendiri. bukan bayang-bayang suami atau orang lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak, karena perempuan juga punya kakinya sendiri.

      Hapus
  14. Butuh banyak jeda Wi buat bacanya haha. Baca - mikir - baca - mikir

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setidaknya bisa bikin mikir ya, Yud.

      Hapus
  15. Selamat Hari Perempuan wahai calon dari anak-anak kelak.

    Oke, sebelumnya aku pengen kenalan, dulu. Maklum, ini pertama mampir blog ini. Jujur, selama ngebaca tentang Jeda ini, mengajak aku kembali ke belasan tahun yang lalu. Tentang bagaimana memberi jarak antara kepantasan dan hati. Aduh.. pokoknya, materi di atas bikin aku terngiang akan masa lalu. Apalagi, perihal hati. Beri jeda untuk siap menjadi pendampingmu... :)

    Btw, aku suka nih, sama kutipan Buku "Spasi. by mbk Dewi." Keren..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tjieeee yang terngiang masa lalu hahahaha salam kenal juga, ya.

      Hapus
  16. Gilaak tulisanmu dewa Wi :D sukaaaaaaaak :D sedikit berat, tapi masih bisa dimaknai :D

    Bener sih, kebanyakan sekarang -_- banyak cowok yang terlalu terkesan menganggap cewek agak gimana gitu -_- harusnya sih, cewek diajak jalan beriringan. bukan digiring.

    wuuwwuw sukaaaak :D

    BalasHapus
  17. Berasa kaya baca buku teks filsafat ilmu. Mana dulu gua filsafat cabut mulu #lahcurhat

    BalasHapus
  18. Klo patriarkinya bener2 diterapin total, tentu perempuan ga punya ruang napas untuk mengapresiasi dirinya sendiri ya tiw...

    BalasHapus
  19. Kita butuh jeda untuk mengenal siapa kita sebenarnya, kadang lelah juga untuk mengikuti nalar, disaat sendiri banyak hal-hal yang bisa kita intropeksi entah itu emosi atau pencarian jati diri #ahseek

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maka itu, jeda menjadi sangat penting ya :)

      Hapus
  20. Kalo buat emak, mkg istilahnya "me time" ya. Jeda memang penting, agar wanita tetap bisa menjaga pikirannya sendiri.

    BalasHapus
  21. artikelnya keren, dalem banget maknanya mbak

    BalasHapus
  22. pemilihan kata-katanya bagus banget kak...

    perihal jeda, yang ada di antara dua. dua sosok antara dia dan dia, menjadikannya jejak pembatas yang membuatnya sadar bahwa ada jeda di antara mereka. Jeda, jeda, jeda, semua kata-kata di dunia akan tidak berguna tanpa kehadirannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibu Suri memang keren, Om. Hehehe betul, tuh.

      Hapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer