Menghindari Kesepian, Bukan dengan Kematian | Welcome to My Own World - Pertiwi Yuliana
random

Menghindari Kesepian, Bukan dengan Kematian

Senin, Desember 28, 2015

Menghindari Kesepian, Bukan dengan Kematian


Banyak orang yang bilang bahwa aku adalah sosok yang ekstrovert, tapi menakutkan di waktu yang bersamaan. Mereka tidak salah. Hanya saja, yang mereka lihat adalah aku yang “kuciptakan” dalam diriku.

Bagaimana bisa manusia mencipta dirinya yang lain untuk tumbuh di kehidupannya?

Mungkin, pertanyaan tersebut yang akan segera muncul ke permukaan.

Baik. Akan kukembalikan pertanyaan tersebut dengan sebuah pertanyaan lain: Masihkah ada hal yang mustahil di dunia ini jika manusia masih mau mencoba dan berusaha?

Mari mengheningkan cipta…

***

Sejatinya, aku selalu percaya bahwa frasa “muka dua” bukanlah sebuah umpatan. Jika ada yang mengatakan padaku bahwa aku bermuka dua, maka aku akan dengan santainya menjawab, “Muka gue banyak!”

Tuhan mencipta manusia dengan perasaan bukan untuk menjadikan mereka—atau kita—menjadi makhluk-makhluk yang terlampau sensitif sehingga menimbulkan perpecahan sesama. Kadang, hanya karena tersinggung saja tali persaudaraan bisa rusak karenanya. Bahkan parahnya, pertumpahan darah seringkali tak terelakkan pula.

Itulah, namanya Manusia. Makhluk paling sempurna yang kadang melepas akal sehatnya.

***

Penghujatan atau kalimat kebencian bukanlah hal yang asing bagiku. Sebab, aku mencipta “aku” yang melulu tampak jahat dan menyebalkan di mata manusia dominan. Mengapa? Bukankah dicintai lebih menyenangkan? Aku punya alasan. Memang, di dunia ini banyak sekali limpahan cinta. Namun seringkali—selain cinta dari Tuhan dan orangtua—cinta itu diiringi oleh kepentingan-kepentingan. Jadi, aku mencipta diriku yang “bukan menjadi favorit masyarakat dominan” agar aku bisa menggenggam cinta dari orang-orang tanpa kepentingan. Dan sekarang, aku bahagia—sangat bahagia—dengan orang-orang yang menerima aku sebagai apa adanya.

Kata “ekstrovert” yang tersemat pada namaku hanyalah untuk aku yang lain. Aku yang aku cipta dengan banyak wajah. Banyak wajah untuk beradaptasi sana-sini. Banyak kepribadian untuk masuk dan memahami banyak kondisi. Jadi, aku bermuka dua? Bukan, mukaku banyak! Iya, sebab aku harus membuat diriku mudah diterima oleh lingkungan baru. Dan lagi, aku harus membuat otakku tetap positif dalam segala situasi. Termasuk saat mereka mengumpat dengan frasa “muka dua”.

Aku sering mengatakan bahwa aku adalah perempuan yang pendiam, tapi mereka selalu menafikan hal ini. Sejauh yang aku ketahui, setiap manusia memiliki sisi ekstrovert dan introvert. Hanya saja, mereka akan tampak pada situasi tertentu dan seringkali satu di antaranya lebih dominan dari lainnya. Pun demikian dengan aku—dan kalian juga. Namun jika ditanya, aku lebih suka sendiri. Menjauh dari suara bising dan menikmati bercinta dengan diri sendiri. Aku lebih suka mengulik kembali aku dan mengungkap apa yang tidak bisa aku ungkap pada manusia lain. Kadang dengan membaca, menulis, berbicara sendiri, menangis, atau mendengarkan musik.

Musik, buatku, merupakan sesuatu yang penting. Sangat penting. Sebab aku bukan manusia yang bisa secara gamblang mengungkap apa yang aku rasa. Sebab aku pernah berkali-kali kecewa pada orang-orang yang kupercaya, dan lukanya masih menganga. Musik adalah sarana untuk menyampaikan pesan tersirat tanpa harus diketahui oleh banyak orang. Musik adalah embus napas yang sempat tertahan dan menyesakkan.

Salah satu musik yang selalu masuk ke dalam aku adalah milik Efek Rumah Kaca. Untuk band indie satu ini, aku suka karena liriknya yang sarat makna. Pun dengan diksi yang tak biasa dan luar biasa indahnya. Siapa yang tak jatuh cinta? Pada metafor cantik yang mengulik sisi pelik dalam hidup yang seringkali membuat mata mendelik.

Menghindari Kesepian, Bukan dengan Kematian


Tubuhmu Membiru… Tragis

Setelah sempat sedikit menyinggung soal lagu ERK yang berjudul Mosi Tidak Percaya dan Sebelah Mata, kali ini giliran Tubuhmu Membiru… Tragis yang menjadi target utama. Entah kenapa akhir-akhir ini sedang sangat suka dengan lagu ini. Lagu pembuka dari album Kamar Gelap milik ERK ini sedang menebar muram yang begitu kencang.

Kamu ingin melompat, ingin sekali melompat
Dari ketinggian di ujung sana menuju entah apa namanya
Coba bukalah mata indah di bawah sana
Tutup rapat kedua telinga dari bisikan entah di mana
Kauterbang, dari ketinggian mencari yang paling sunyi
Dan kaumelayang, mencari mimpi-mimpi tak kunjung nyata

Bunuh diri. Yap, usut punya usut lagu ini mengisahkan tentang pecandu narkoba yang tak dapat lagi membedakan yang maya dan nyata hingga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Depresi yang begitu tampak di lagu ini membawa aku pada sebuah kejadian yang terasa begitu nyata.

Kulihat engkau terkulai
Tubuhmu membiru… tragis…
Tragis…

Aku mungkin tidak begitu dekat dengan pecandu, namun hal yang sama bisa jadi terjadi pada orang-orang yang suka melakukan self-injury. Aku bahkan sangat, sangat dekat dengan orang ini. Dari yang kebiasaannya ringan seperti menggigiti kuku, hingga berat seperti berniat bunuh diri seperti pada gambaran di lagu ini.

Perihmu yang menganga tak hentinya bertanya
Hidup tak selamanya linier, tubuh tak seharusnya tersier
Coba bukalah mata indah di bawah sana
Tutup rapat kedua telinga dari bisikan entah di mana
Kauterbang, dari ketinggian mencari yang paling sunyi
Dan kaumelayang, mencari mimpi-mimpi tak kunjung nyata

Kulihat engkau terkulai
Tubuhmu membiru… tragis…
Tragis…

Di bait-bait ini, seperti biasa, ERK membawa kita pada kenyataan bahwa hidup bukanlah hal yang dapat kita kesampingkan. Untuk melakukan segala hal di dunia, modal utama yang harus kita genggam adalah kehidupan kita. Hidup tak selamanya lurus, lonjakan dan turunan terjal melulu menyambut. Maka, kita sebagai manusia-manusia yang diciptakan Tuhan sebagai pemimpin harusnya dapat memenangkan itu.

Kadang, dalam kasus self-injury sendiri, banyak orang yang menuding bahwa pelaku hanyalah oknum yang mencari sekadar perhatian semata. Namun nyatanya, untuk yang bersangkutan ini bukan hanya sekadar hal sederhana. Self-injury membawa mereka pada ketenangan, kebebasan, atau bisa jadi penghukuman terhadap diri sendriri yang mereka coba lakukan atas kesalahan yang telah dibuat. Banyak alasan, namun sedikit yang paham. Beri mereka waktu untuk berbicara dan melepas beban. Beri sedikit ruang. Dengarkan. Hanya dengarkan.

Jangan menjauh, jangan buat mereka kesepian. Mereka—dengan atau tanpa kita sadari—seringkali ada di antara manusia normal yang dominan. Jadi, mau mulai mengasah kepekaan akan sekitar, kan?


Terima kasih untuk kesediaan kalian.






Salam,



Pandir Kecil

You Might Also Like

26 komentar

  1. Aaaa keren ih Tiw. Suka kalimatnya :*
    Iya self-injury seakan membawa ketenangan tersendiri oleh si pelakunya.

    Sama Tiw. Muka gue juga banyak. HAHAHAA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ada ketenangan sendiri saat ketakutan menyiksa si penderita. Tapi orang-orang normal bilang itu hanya cari perhatian semata. Kan..... Hahaha!

      Memang mesti banyak muka, sih, Wulan. Biar sukses wkwkwk~

      Hapus
  2. kalo gue sih be yourself aja. Whatever people said :D
    lalalalala~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang orang lain terlalu "merasa" banyak tau tentang hidup kita.

      Hapus
  3. ketika harapan tak sesuai dengan kenyataan memang menyisakan luka yang menganga dihati.
    memang tidak mudah mengobati luka yang menganga dihati, namun kita takan bisa hidup nbersama tanpa membuka lembaran baru.
    perlu diketahui Saat kau mengenal kasih sayang , kau juga menanggung resiko kebencian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keduanya akan selalu beriringan, memang, tapi aku hanya ingin menjaga yang pernah terluka.

      Hapus
  4. wah ERK, aku suka cinta melulu & kamar gelap,
    tubuhmu membiru tragis, liriknya dalem banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaak ERK liriknya nancep semuaaa :D

      Hapus
  5. Muka banyak, jadi ke-ngen-ngen kaya pengidap DID hihi

    BalasHapus
  6. Tersayat-sayat hati ini,,baca untaian kalimat-kalimat di atas...

    BalasHapus
  7. Lirik efek rumah kaca emang bagus-bagus dek, dan jujur, saya langsung penasaran dengerin lagu ERK gara-gara postingan blog ini yang sebelumnya yang tentang ERK juga.. Jadi yaa suka aja deh.. Hmn.. Muka dua bukan umpatan ya? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya hehehe
      Bukan, dong. Setidaknya, buatku mah bukan. Tergantung gimana tiap individu mengartikan itu, sih. Aku positif aja.

      Hapus
  8. Memang hidup ini penuh perjunagnan dan tantangan ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kalo lempeng aja bukan hidup namanya muahaha

      Hapus
  9. Binggung mau komen apaan -_-
    Iya sih, semua orang pasti punya banyak sifat untuk menyesuaikan dengan lingkungan dia bergaul. Jadi gak salah dibilang muka dua atau banyak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung orang itu memandang frasa tersebut, sih. Buat gue mah positif aja. Hahahaha.

      Hapus
  10. Kadang saya juga bingung mendefinisikan diri saya masuk dalam extrovert atau introvert?
    Mungkin awalnya orang akan berpikir saya introvert :p
    Tapi saat mengenal lebih jauh merekapun salah, saya bukan introvert, saya hanya sedang mengamati bagaimana harus bersikap sama orang :)


    Satu lagu ERK yang paling kusuka smp skrg "jatuh cinta biasa saja" hhehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap sama muahaha
      Aku pertama kali tau ERK juga dari lagu itu >.<

      Hapus
  11. sumpah saya tidak bisa komentar apa apa- ingat ini bukan komentar :D

    BalasHapus
  12. Kadang orang menilai dari sekali lihat juga ya. Wah, Teteh, aku juga suka menyendiri. Kadang lebih nyaman kalau sudah di dunia sendiri tanpa harus mikir yang bikin ribet. Hehehe. ERK emang keren euy. Judulnya Biru juga asik :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, padahal belum tau apa-apa hehehe
      Wah, udah dengar semua yang di album Sinestesia. Hanyut saya, Nak, Hanyut. ❤

      Hapus
  13. Udah baca tapi baru sempet koment, ERK ya, mulai mencoba dengerin meski masih bajakan.

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer