Surat Cinta: Untuk Pemilik Kopi Ternikmat | Welcome to My Own World - Pertiwi Yuliana
loveletter

Surat Cinta: Untuk Pemilik Kopi Ternikmat

Rabu, Mei 27, 2015

Surat Cinta: Untuk Pemilik Kopi Ternikmat

Penghujung tahun 2012, saat di mana sebuah predikat “jurnalis relawan” melekat pada nama Pertiwi Yuliana adalah saat yang sama di mana nama tersebut mulai bergerilya mencari wadah yang tepat untuk mempublikasikan hasil laporannya agar bisa tersebar luas di masyarakat. Singkat saja, dia menemukan sebuah kedai, duduk dan memesan secangkir kopi panas di sana, lalu dirasakan lidahnya menemukan sesuatu yang diinginkan.

 Warung Blogger.

***

Kembali pada segmen Surat Cinta di rumah literasi ini. Kali ini, aku akan bercerita mengenai sebuah perjalanan yang membawaku pada perkenalan dan hal-hal lain di dalamnya.

Mengemban amanat sebagai seorang jurnalis relawan adalah kebahagiaan tersendiri pada masa itu. Melewati tiga tahap seleksi yang luar biasa ketat menjadikanku bangga dan bahagia dalam waktu yang bersamaan. Namun kembali lagi, ini bukan ajang main-main karena yang dihadapkan padaku adalah sebuah kasus sengketa yang tak kunjung usai—bahkan sampai aku berkunjung ke sana pada awal bulan lalu. Dan cara paling elegan untuk menggertak pemerintah adalah dengan membuka mata masyarakat tentang keadaan yang sesungguhnya, salah satunya lewat tulisan.

Surat Cinta: Untuk Pemilik Kopi Ternikmat
Tiwi nyelip di antara admin-admin WB
Ialah Warung Blogger yang setia membantuku menyebarluaskan segala yang kutulis. Awalnya sederhana, hanya sebagai wadah sharing. Tapi nyatanya, aku menemukan banyak hal lain.

Awal tahun 2013, keintiman kami dimulai. Aku dan kedai kopiku. Berkat seseorang, aku diperkenalkan dengan Om Atun—admin grup WhatsApp WB saat itu—dan masuklah aku ke dalam bagian “Info #PojokWB”. Di sana, banyak sekali kupelajari hal-hal baru mengenai blogging dan penulisan tentunya. Tapi, dahulu aku bukan orang yang aktif di grup itu. Yaya, karena banyak aturan dilarang out of topic. Mungkin takut berisik, baterai terkuras habis, atau entahlah.

Gemas, ditariklah aku ke sebuah grup bernama [MASIH] Ngoceh. Di sana keintiman yang lebih lagi bisa kudapatkan. Keluarga baru. Keluar masuk orang dalam grup itu. Berganti-ganti nama dari [MASIH] Ngoceh ke Geng Barney—entah apalagi karena sempat left—dan sekarang menjadi Blogger Bahagia dengan anggota tetap. Gak usah nambah, nanti makin rusuh. :p

Surat Cinta: Untuk Pemilik Kopi Ternikmat
Tiwi sama Kak Arief, akhirnya ketemu anak Blogger Bahagia selain Nurri :p
Selain memperkenalkanku dengan banyak informasi baru dan keluarga baru, kedai kecil ini pun memperkenalkanku pada pengalaman baru. Pengalaman menjadi seorang editor dengan deadline yang harus kupenuhi di setiap bulannya. Memperkenalkanku dengan sebuah sistem yang baru untukku, alur yang begitu terstruktur—yang biasanya kubenci—tapi begitu menyenangkan. Notif! Magz.

Konflik. Konflik. Sepertinya bukan Pertiwi Yuliana jika tanpa konflik. Tapi kedai kecil ini selalu menyambut baik dengan secangkir kopi favorit.

Info #PojokWB bertransformasi menjadi #PojokWB dengan aturan yang lebih luwes. Kumulai banyak berkicau di sana, kadang ikut berbagi tentang tata bahasa dan hal-hal lain tentang kepenulisan di sana. Seru, asyik! Lebih banyak ngobrol, lebih banyak dekat, lebih banyak juga ilmu yang didapat.
 
Surat Cinta: Untuk Pemilik Kopi Ternikmat
Gak tau malu, emang. Di stasiun masih sempet foto-fotoan.
Kami bukan hanya kawan maya, nyatanya kami benar-benar ada di dunia nyata. Sesekali kami menyempatkan diri temu muka untuk mengeksiskan diri di dunia nyata. Bersama-sama, menjadi segila-gilanya orang gila yang paling waras di ranah nyata. Membiarkan orang-orang lain memandang jijik, marah, dengki, atau apa pun atas keberisikan kami. Kami masa bodoh, ah… gak kenal ini! :p

Untuk #WargaWB sekalian, terima kasih banyak sudah memberikan aku kesempatan masuk ke dalam bagian dari kalian. Memberikan aku kesempatan mengenal banyak hal, melakukan banyak hal, dan menyemogakan banyak hal. Jalanku, sedikit banyak terbuka karena persinggahan sederhana di kedai kecil ini.

Surat Cinta: Untuk Pemilik Kopi Ternikmat
Di Detos, makan-makan dan karaokean.
Kedai kecil kesayanganku sedang mencoba untuk merangkak. Merangkak menuju sebuah kedewasaan yang semakin matang. Angka empat dipeluknya erat, semoga semakin hangat. Tolong, jangan lagi membebat. Keluwesan tetap membuatmu, kalian, kami, terlihat hebat. Percaya? Percaya, doong. Sini Tiwi cium :*

Untuk orang-orang di dalam kedai: Uni, Nurri, Om Ipan, Teh Dewi, Om Baha, Kak Bulan, dan yang sangat banyak lainnya, aku mengucapkan banyak terima kasih. Berkat kalian, aku lebih kokoh dari sebelumnya. Berkat kalian, aku lebih hidup dari sebelumnya. Berkat kalian, aku lebih tangguh dari sebelumnya.

Surat Cinta: Untuk Pemilik Kopi Ternikmat
Uni kesayangan Tiwi, sesama penggiat fiksi. I love you :*
Untuk Kak Lozz Akbar selaku founder kedai ini, maaf atas perdebatan kita waktu itu, ya. Kopi pahitnya boleh kutambahkan gula, kan? =)

Aku mau lebih banyak kopi lagi, bisa kita menyesap kopi hitam bersama lebih sering lagi? (re: ayoklah kopdarnya seringin lagi ahahaha!)

*seruput kopi*

Surat Cinta: Untuk Pemilik Kopi Ternikmat
Bersatu supaya WB tetap maju!




Salam,




Pertiwi

You Might Also Like

7 komentar

  1. Tata bahasanya bagus banget.. Kalo meriksa artikel galak gak??.. Klo guru B. Indonesia aku dlu galak bgt.. Astagfirullah.. Keceplosan..

    BalasHapus
  2. Keluwesan tetap membuatmu, kalian, kami, terlihat hebat. Percaya? Percaya, doong. Sini Tiwi cium :*

    Nyodorin diri. :D

    BalasHapus
  3. Awesome banget.
    Baca tulisan anak sastra memamng jauh berbeda dengan tulisan lainnya. Hahhah

    Terima kasih sudah menjadikan WB sebagai kopi ternikmat.
    Terima ksih sudah menyelipkan namaku dalam surat yang mengharukan ini.
    Semoga cerita kita tak hanya sampai di sini ☺

    BalasHapus
  4. Gaya bahasanya enak banget dibaca Tiwi (y)

    BalasHapus
  5. mantap mas artikelnya dan sangat menarik

    BalasHapus
  6. terimakasih bos buat infonya dan salam sukses

    BalasHapus
  7. makasih gan infonya dan salam kenal

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer