Lukisan yang Tak Terselesaikan | Your Favorite Devil's Advocate
cerpen

Lukisan yang Tak Terselesaikan

Sabtu, Mei 17, 2014

Lukisan yang Tak Terselesaikan
Sumber Gambar
Tak ada manusia yang sempurna, setidaknya begitu yang kutahu dari mereka. Namun, mengapa aku selalu menjadi bahan untuk melampiaskan kemurkaan atas ketidaksempurnaan yang ada? Ini salah siapa? Salahkukah?

Senja, kali ini kembali lagi aku menanti semburatmu dari balik jendela. Awan kelabu yang masih menggantung rendah di bentangan angkasa menyingkirkan seberkas kilau jingga di atas sana. Namun ternyata, keindahan senja memang tiada duanya. Dia masih saja memesonaku yang sedang dirundung oleh masalah yang tiada henti menyapa.
Daun-daun di halaman mulai kuyu, hujan menimpanya tanpa malu-malu. Sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. Ah, mungkinkah mereka juga memikirkan hal yang sama denganku? Tentang mengapa dan bagaimana segala salah selalu tertuju padaku.

Inilah aku, Nada Pramesty, seorang gadis berusia lima belas tahun yang telah digariskan oleh takdir untuk terlahir tanpa kedua kaki. Sepanjang hidupku kuhabiskan di atas sebuah kursi roda yang menopangku sebagai pengganti dari kedua kakiku. Ibuku sangat terpukul saat mendapati kondisiku. Namun, ayah tetap berusaha meyakinkan bahwa bagaimanapun keadaanku, aku tetap sebuah titipan dan karunia dari Tuhan yang harus mereka jaga dan terima.

Tahun demi tahun berlalu bersama waktu yang mengiringiku tumbuh menjadi aku yang lebih sendu. Ibu, yang semula telah dapat menerima apa adanya aku kini kembali berubah seperti dulu. Mengapa? Mungkin, kepergian ayah adalah salah satu penyebabnya. Ayah, orang yang selalu memberi curahan semangat agar ibu selalu tegar kini telah kembali pada Sang Pencipta. Satu sosok kepala rumah tangga yang amat mengagumkan. Walaupun usaha kerasnya untuk membanting tulang selama ini belum dapat membawa keluarganya ke kehidupan yang lebih layak, namun ayah selalu mengajarkan untuk tetap bersyukur atas segala sesuatu yang telah didapat.

Setelah ayah meninggal dunia, ibu bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di kediaman Pak Ilham—pemilik galeri lukisan yang cukup besar di kotanya—untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pak Ilham tergolong majikan yang ramah dan tidak suka membeda-bedakan status. Beliau menganggapku dan ibu sebagai keluarganya sendiri. Namun, hal tersebut tetap saja tidak dapat memungkiri perubahan sikap ibu terhadapku. Ibu bersikap tak acuh seolah tak lagi menginginkan keberadaanku. Dan hal itu sukses membuat hatiku terguncang tak menentu.

“Kamu hanya bisa menyusahkan Ibu saja! Ini-itu, semuanya harus dengan Ibu! Kamu sudah besar, seharusnya kamu bisa membuat dirimu berguna untuk orang lain! Ibu sudah tua, Ibu lelah!” kata-kata ibu masih melekat erat dan terekam amat jelas di benakku.

Perlahan, aku menghela napas panjang. Ada yang bergemuruh di dalam sana, ingin muncul ke permukaan namun masih enggan untuk diperlihatkan. Wujudnya, kini menjelma air mata. Aku bergumam pada malam yang mulai merangkak di atas sana.

“Aku memang tidak seperti anak-anak yang lain, Bu. Aku hanya bisa menyusahkan Ibu. Namun, kurasa kau perlu tahu bahwa aku amat sangat menyayangimu melebihi apa pun di dunia ini.” Aku mulai terisak, sesak. Bendunganku runtuh, butiran air mata itu mulai jatuh. Aku mulai rapuh.

Tak pernah sedikit pun aku memiliki maksud untuk membuat orang yang kucintai bersedih hati. Tak pernah terbesit niat untuk menyulut api amarah. Namun, inilah kondisiku. Mungkin, aku memang tidak memiliki fisik yang sempurna. Namun untuk ibu, aku akan selalu berusaha menjadi manusia sempurna yang akan membuatnya tersenyum bahagia.

Aku rindu dekapan hangat ayah. Kadang ketika aku mencapai titik lemah, ingin rasanya aku menyusul ayah ke surga. Dan kemudian, aku berharap agar hembusan angin malam dapat menyampaikan pesan hatiku pada ayah.

Seandinya waktu dapat diputar kembali dan aku dapat memilih serta menentukan takdir hidupku sendiri, aku pun tidak ingin dilahirkan sebagai seorang penyandang disabilitas. Tapi, apalah daya yang dapat kulakukan? Aku hanya gadis belia biasa yang tak sedikit pun memiliki kuasa atas takdir di dunia. Hanya satu zat yang dapat melakukan dan mewujudkannya, Tuhan Yang Maha Esa.

Namun satu yang kutahu, Tuhan tak akan membiarkan umat-Nya menderita. Selalu ada keindahan di balik ketidaksempurnaan yang ada. Tinggal bagaimana kita menguak hal tersebut agar muncul ke permukaan. Karena setiap manusia pasti terlahir istimewa.

Di tengah isak tangis yang semakin berkuasa atas keheningan, aku dikagetkan oleh satu tangan yang menyentuh bahu kananku. Aku yang sedikit terkejut dengan hal tersebut segera menghapus sisa-sisa air mata di pipiku sebelum aku berpaling menghadap satu sosok di belakangku.

“Sendirian?” tanya Pak Ilham.

"Iy-iya, Pak," jawabku.

"Habis nangis?" Pak Ilham menyejajarkan posisinya di sampingku. Aku terdiam, tiada aksara yang mencuat dari bibirku. Entah, aku tak ingin Pak Ilham tahu kesedihanku.

“Kenapa sedih?” lelaki itu kembali bertanya, matanya menerawang jauh menembus langit malam yang sendu.

Aku masih bergeming, lidahku seakan membeku dan kaku. Tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun yang kumau. Diam, tertunduk seolah menahan malu. Malu? Bukan! Lalu apa? Entahlah, aku pun tak benar-benar mengetahui maksud dari semua gerak-gerikku. Pak Ilham berpaling menatapku, memandang iba seolah tahu apa yang sedang dirasakan olehku. Diusapnya perlahan rambut ikal yang tergerai menyentuh bahu. Hati-hati, sangat hati-hati.

Pak Ilham, beliau adalah seorang duda yang ditinggal pergi oleh istri tercinta menghadap Sang Pencipta. Sayangnya, mereka belum memiliki keturunan yang sesungguhnya amat sangat didamba. Terpukul, namun beliau mampu bangkit kembali dengan segala motivasi yang didapatnya. Kesetiaan yang amat mengesankan, bertahun-tahun berlalu, namun tak ada sedikit pun niat yang tersirat untuk mencari pengganti. Beliau telah menyimpan kata-kata cintanya dan mengukir keabadian pada epitaf yang tak akan lekang termakan usia.

“Bapak, saya boleh bertanya?” ragu-ragu kukeluarkan kalimat tanya itu.

Senyum ramahnya masih saja setia bertengger di bibir pria paruh baya itu, “Tentu.”

“Bapak sendirian di rumah sebesar ini, terlebih harus mengurus galeri yang sedemikian megahnya, kenapa Bapak bisa bertahan untuk tetap sendiri?”

“Itu mudah, Nak. Karena cinta saya hanya satu dan telah termiliki. Saya tahu, raganya memang sudah tidak di sini. Namun, cinta dan jiwanya masih selalu mengiringi.”

Aku takjub sendiri mendengar jawaban dari pertanyaanku tadi. Pria di sampingku ini memang luar biasa sekali. Kini aku benar-benar malu, aku terlalu lemah karena selalu mengeluh. Tugasku, membahagiakan ibu. Bagaimanapun itu. Aku tahu, aku pasti mampu.

Senyumku mulai tersungging, membalas tatapan bulan sabit yang mulai tampak di balik awan hitam selepas hujan tadi.

“Hey, kok tetiba senyum-senyum sendiri?” tanya Pak Ilham, rupanya beliau memerhatikan perubahan mimik pada wajahku.

“Tidak, Pak. Terimakasih, ya!” kuberikan senyum terbaik yang kupunya untuk pria itu.

“Untuk apa?”

“Saya menyadari akan suatu hal berkat perbincangan singkat kita malam ini.”

“Hahaha! Tentang ibumu, ya? Saya tahu, dia hanya masih terpukul. Kamu harus selalu yakin bahwa ibumu akan selalu memiliki cinta untukmu.”


Aku mengangguk setuju. Senyumku semakin mengembang dengan begitu menggebu. Hatiku kembali bergemuruh. Bukan, bukan lagi sendu. Ini adalah rasa di mana aku berjanji pada diriku untuk mengembangkan pula senyum ibuku. Sesederhana inginku, itulah bentuk cintaku pada ibu.

***

Ukuran paling puncak bagi seseorang bukanlah di mana ia berdiri pada saat-saat paling menyenangkan, tetapi di mana ia berdiri ketika tantangan dan kontroversi hidup mulai datang.

Sore yang tampak indah di luar sana membawa suasana riang yang tak terelakkan. Aku dan ibuku sedang sibuk membereskan sisa-sisa cat minyak dan kanvas di ruangan pribadi milik Pak Ilham. Seakan lupa akan tugasku, aku malah asyik menarikan kuas dengan warna-warni yang memesona mata  di atas kanvas. Seiring dengan nada-nada riang yang tercipta secara spontan dalam benak, aku terus menuangkan segala rasa yang tersimpan ke dalam sebuah lukisan.

Diam-diam, dari balik pintu itu ternyata Pak Ilham melihat apa yang sedang kulakukan. Mungkin, Pak Ilham merasa telah menemukan bakat baru di atas kursi rodaku. Perlahan, beliau menghampiri dengan senyum khasnya.

“Mengagumkan! Semua goresan yang kamu ciptakan menggambarkan emosi yang tumpah ruah. Kamu berbakat, Nak!” Pak Ilham menepuk-nepuk pundakku perlahan dengan mimik sumringah yang tak henti ditunjukkannya.

“Benarkah?”

“Iya, kamu mau belajar lebih banyak tentang lukisan dengan saya? Saya yakin, suatu saat kamu akan memiliki sebuah pameran yang indah.”

Aku sedikit bimbang, kutengok keberadaan ibuku yang rupanya tengah memerhatikan kami dari tempatnya berdiri. Anggukannya adalah sesuatu yang kutunggu. Lebih dari yang kumau, lebih dari anggukan ibuku, beliau tersenyum padaku. Tipis, namun tetap terlihat manis. Ah, sudah berapa lama aku tak melihat wajahnya merona indah seperti itu? Awal yang baik, menurutku. Kutahu, jalanku akan manis untuk ibu.

***

Lukisan yang Tak Terselesaikan
Sumber Gambar
Beberapa tahun berlalu, masih bertempat di galeri lukisan Pak Ilham.

Gadis berseragam putih abu-abu itu memasuki pintu galeri dengan sebuah katalog lukisan yang tergenggam di tangannya yang lembut. Hari itu, sekolahnya memulangkan seluruh murid lebih dulu terkait akan diadakannya rapat guru. Masih terlalu pagi baginya untuk sampai di rumah. Kebanyakan teman lainnya memilih menghabiskan waktu di mall atau bioskop, tetapi gadis itu—Dyan Kinanti—lebih memilih untuk mengunjungi galeri lukisan yang didengarnya sedang mengadakan sebuah  pameran besar.

Langkahnya terhenti di hadapan sebuah lukisan yang tampak janggal.

“Lukisan ini sepertinya belum selesai,” gumamnya pada dirinya sendiri.

“Lukisan itu telah selesai,” tetiba ada suara lain yang menghampirinya.

“Eh, hm... tapi bagian putih ini bukan cat, ini memang belum tersentuh cat sama sekali,” jelasnya sembari menunjuk pada bagian kosong pada kanvas di hadapannya.

“Kamu jeli sekali, ya?” gadis bergaun putih yang sangat cantik itu pun tersenyum dengan begitu memesona.

“Maaf, Kak. Saya hanya penasaran akan maksud dari pelukisnya.”

“Baiklah kalau begitu, kamu bertemu dengan orang yang tepat. Sayalah pelukisnya,” ucap gadis bergaun putih itu sembari menjulurkan tangan hendak menjabat tangan Dyan.

“Wah, kehormatan bagi saya bisa bertemu dan berbincang dengan pelukis hebat seperti Kakak. Kau begitu cantik, Kak, seperti lukisanmu. Sempurnanya hidupmu.”

“Hahaha! Apa kamu benar-benar tertarik dengan lukisan ini?” tanyanya sembari memalingkan wajah menatap kembali lukisannya.

Dyan hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan sebuah anggukan semangat.

“Lukisan ini saya tujukan untuk orang tua saya. Orang tua yang telah mengasuh saya sejak kecil. Ini adalah gambaran tentang mereka. Semburat merah menunjukkan kemarahannya, goresan hitam adalah gambaran kesedihannya, bercak kuning adalah kebahagiaannya, merah muda dan ungu adalah kasih sayangnya pada saya, abu-abu adalah kekecewaannya pada saya yang selalu merepotkannya, dan bidang yang belum tersentuh cat ini...” kalimatnya terhenti dan wajahnya berubah sendu.

Dyan terdiam, memerhatikan perubahan mimik pada wajah gadis di sebelahnya. Dia hanya dapat mematung menunggu kelanjutan dari penjelasan gadis itu. Beberapa detik kemudian, gadis itu menarik napas dalam-dalam dan.....

“Bidang kosong ini adalah ruang lebar di mana saya merasa belum memberikan apa-apa untuk orang tua saya, saya belum berhasil membahagiakan dan membanggakan mereka,” dia menundukkan wajahnya dan sedetik kemudian dia kembali menyunggingkan senyuman. “Sekian. Terima kasih,” lanjutnya menutup penjelasannya.

Perlahan, sebutir air mata menetes dari sudut mata kanan Dyan. Tangannya mulai bertemu hingga menimbulkan suara prok-prok-prok yang lembut. Kali ini, kekuasaan atas diam dipegang oleh haru.

“Kak, kau begitu hebat,” pujinya.

Gadis itu hanya membalas pujian tersebut dengan sebuah senyuman. “Maaf, saya harus pergi.”

Dyan mengangguk. Mungkin, ada pengunjung lain yang ingin bertanya tentang lukisannya, pikirnya. Dyan kembali menikmati keabstrakan yang begitu jelas dan indah pada lukisan itu, hingga...

“Saya perhatikan, sepertinya kamu begitu mengagumi lukisan ini, Nak?” tanya seorang bapak tua dengan setelan khas seniman yang dikenakannya, Pak Ilham.

“Ah, iya. Baru saja saya berbincang dengan pelukisnya sebelum Bapak datang. Dia begitu mengagumkan. Pesan dari lukisan ini begitu sempurna, Pak. Beruntungnya saya bisa berjumpa dengannya.”

“Berjumpa dengan pelukisnya?” tanya Pak Ilham, heran.

“Iya, baru saja,” Dyan memutar kepalanya, menyapu ke setiap sudut yang dapat dilihatnya. “Mungkin dia sedang berbincang dengan pengunjung lain, kakak cantik bergaun putih itu tadi berjalan ke arah sana,” Dyan kembali menjelaskan sembari menunjuk ke satu arah.

“Kamu pasti salah orang, Nak.”

“Tidak, Pak! Saya benar-benar berjumpa dengannya tadi.”

“Hm... coba kamu buka katalog itu. Lihat keterangan dari lukisan ini. Di dalamnya tertulis kata Almh, kan? Pelukis lukisan ini telah meninggal tiga bulan lalu, Nak.”

Dyan tersentak kaget, matanya membulat dan mencoba untuk memerhatikan lebih seksama lagi setiap detil keterangan yang ada di katalog perihal lukisan tersebut. Benar. Pak Ilham memang benar. Jadi, tadi....

Gadis berseragam itu kembali mengedarkan pandangannya. Kali ini ditemukannya sesosok gadis bergaun putih yang tadi ditemuinya, Nada Pramesty. Dia berdiri di salah satu sudut galeri, dengan senyuman indah dan lambaian tangannya pada Dyan. Sekejap kemudian, dia menghilang entah ke mana. Dyan, lututnya melemas seketika.

“Lihat ibu tua yang duduk di sudut sana?” Pak Ilham bertanya sembari menunjukkan keberadaan seorang ibu dengan senyumnya yang cantik memandang pengunjung yang lalu lalang di hadapannya. “Beliau adalah orangtua yang sangat beruntung karena memiliki putri yang sangat berbakat seperti Nada, pelukis dari lukisan yang tak terselesaikan ini. Sebentar lagi beliau akan berangkat haji, semuanya dari hasil pameran lukisan ini. Cita-cita Nada terpenuhi, walau raganya sudah tidak lagi di sini.”

Dyan, pandangannya kembali terpaku pada katalog itu, “Bagaikan angin, cinta mengembuskan sejuknya keindahan. Memiliki cita rasa seperti coklat, manis dan pahit. Membentang luas seperti pelangi yang berwarna-warni. Perjuangan akan cinta memang tak akan pernah berujung derita. Tinggal bagaimana kita memaknai tiap sakit yang menyapa pada perjalanan yang ada. Untuk Ibu dan Ayah, inilah bentuk cintaku untuk kalian yang terindah. Salam, Nada.

Itu adalah pesan yang disematkan Nada di balik lukisan yang tak terselaikan itu. Bahwa cinta akan selalu berujung bahagia.

Telepon genggam Dyan berbunyi, pada layarnya tertera nama “Mama”.

“Ma, love you as always!” Dyan segera berlari keluar galeri. Rindu akan pelukan mama, langkah kaki menuntunnya untuk pulang.




TAMAT


NB: Sudah memeluk orangtuamu hari ini? :')

You Might Also Like

30 komentar

  1. abis baca cerpen ini aku mau peluk ibu :')
    sepertinya banyak ruang kanvas yg blm tertutup cat di lukisan yang aku buat :(

    BalasHapus
  2. Suka bgt! Makasih udah nulis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga sudah menyempatkan diri untuk mampir :)

      Hapus
  3. Banyak banget makna yang bisa diambil, perjuangan itu gak pernah bohong, kasih sayang orang tua gak pernah ragu - ragu, hubungan cinta yang kuat gak akan pernah putus. Untuk orang - orang yang tidak seberuntung saya, bahagiakan orang tua kalian selagi masih ada :)

    BalasHapus
  4. ihik ihik nyentuh banget. baca ini sambil nangis :")

    BalasHapus
  5. terus tuangkan senimu dalam bentuk sastra, aku mendukung :)

    BalasHapus
  6. Ngena tulisannya, tapi kurang berefek mungkin karena saya bacanya nggak konsen, tapi sungguh keren.

    BalasHapus
  7. Satu kata, keren. Terus berkarya ya! :)

    BalasHapus
  8. Ah gitu ya ternyata arwahnya muncul hahaha. Awalnya heran kok Ibunya jahat padahal biasanya kan Ibu lebih pengertian ke anaknya, ngga marah-marahin :))
    Ngga usah bilang keren kayanya ya Mbak udah sering pada bilang gitu kan hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak semua ibu itu baik, Kak. Realitanya kan begitu hahaha
      Sisi baik pasti ada, tapi yang menonjol yang mana kan belum tentu selalu yang baik. Ceritaku akan mengambil unsur-unsur realita :)
      Terima kasih, ya :*

      Hapus
  9. Perlahan, sebutir air mata
    menetes dari sudut mata kanan Dyan.

    ini gak cuma sudut mata Dyan, tapi juga gua.. u,u pakek acara barengan lagi. *nyobektisutoilet*

    BalasHapus
  10. ngga bisa peluk ibu. Ibu di seberang pulau :(

    BalasHapus
  11. pesannya Nada inspiratif banget, mbak. memang suatu saat rasa sakit pasti akan tergantikan rasa suka cita dan cinta pasti berujung bahagia :))

    BalasHapus
  12. Keknya aku pernah baca ini deh, tapi dimana yak, mahahaha

    BalasHapus
  13. Padahal awalnya udh ketebak pasti jadi pelukis hebat dan udah agak kecewa aja, ternyata akhirnya malah gak terduga :D apalagi waktu sudut pandangnya berubah jd orang ketiga, agak bingung tapi jadi menjelaskan semuanya
    Keren ceritanya, bikin terharu hahaha, nada bener2 sosok yg inspiratif

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe wah, ketebak, ya? Duh, aku setengah gagal :p
      Terima kasih, Kak :)

      Hapus
  14. aduh jadi inget emak,,

    EMAAAAAAKKKKKK... mana sini mak kakinya aku cuciin,, pake aer beras biar lembut kayak hatimu,, baydewei duit jajan bulan depan naikin yak mak, dikit aja,,

    BalasHapus
  15. sangat menyentuh sekali. blog yang sangat luar biasa.
    kamu juga bisa mampir di blog ku marcelliusrangga.blogspot.com

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer