Tamparan Budi Pekerti dari Malaikat Pemimpi | Welcome to My Own World - Pertiwi Yuliana
article

Tamparan Budi Pekerti dari Malaikat Pemimpi

Rabu, Desember 05, 2012


“Sebab setiap tempat adalah sekolah kita.”
              Tak banyak orang beruntung yang dapat mengetahui keberadaan sebuah tempat yang begitu indah. Salah satu tempat yang indah itu terletak di Desa Sukamulya, Kelurahan Cibitung, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Rumpin? Ya, tak banyak yang mengetahuinya. Mungkin hanya mereka yang selalu up to date tentang berita pesengketaan di tanah air yang tak asing mendengarnya. Mengapa sengketa? Karena di sana rumah warga kampung berbatasan langsung dengan tanah tentara Angkatan Udara. Sejak lama warga dan tentara berbeda pendapat soal siapa pemilik tanah.
 Hidup di tengah konflik bukanlah hal yang mudah, terutama bagi anak-anak. Maka dari itu, berdirilah “Sekolah Kita”, sekolah non-formal yang difungsikan sebagai tempat belajar dan bermain untuk adik-adik kita. Bangga dan bahagia rasanya saat dapat bergabung bersama “Sekolah Kita” ketika mayoritas dari pemuda saat ini lebih memilih untuk berleha-leha di akhir minggunya. Walaupun perjalanan menuju Rumpin tidaklah mudah untuk ditempuh, namun kerinduan saya akan sebuah keindahan berbagi terus memacu semangat saya untuk bertemu dengan adik-adik kita.
Kami, kakak-kakak kita yang bertugas hari itu (Minggu, 25 November 2012) berkumpul di stasiun untuk kembali melanjutkan perjalanan. Ada saya sendiri, Kak Rara, Kak Tiara, Kak Nuryadi dan Puspa yang telah siap menghasbiskan waktu besama adik-adik kita hari itu. Sesampainya di Serpong, awan mendung sudah mulai terlihat menguasai langit. Kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki sebuah angkot. Baru saya temui di sana, angkot tanpa nomor. Mungkin warga membedakan tujuan angkot tersebut dengan cara melihat warna dari angkutan itu. Cukup lama kami duduk di dalam angkot yang penuh sesak. Jalan yang dilalui sangat padat, mungkin karena sedang ada perbaikan jalan. Beberapa rekan saya tertidur di dalam angkot itu, mungkin mereka lelah. Saya pun demikian, namun mata ini enggan untuk terpejam.
Kami turun di sebuah daerah yang belum pernah saya jumpai sebelumnya. Perjalanan yang panjang namun begitu indah. Sempat saya perhatikan beberapa pasang mata memperhatikan kami, entah karena apa. Langit mulai menitikan air matanya, perlahan tapi pasti butiran demi butiran air hujan membasahi tubuh kami, membuat jalan yang belum beraspal itu semakin becek. Seketika saya rindu masa kecil saya, di Jakarta yang dulu belum seluruhnya beraspal. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah hal yang menjijikkan, namun tidak untuk saya. Jalan yang becek dipadu pemandangan hijau yang membentang benar-benar membuat saya nyaman. Lepas dari segala beban. Hujan semakin deras namun kami masih harus menempuhnya karena adik-adik kita pasti telah menanti. Beberapa kali kami hampir tergelincir membuat saya geli dan tertawa bersama kakak-kakak kita lainnya.
Setibanya di sebuah musholla kecil di sana, kami menghentikan perjalanan. Ya, di dalam musholla sederhana inilah adik-adik kita biasa berkumpul untuk belajar dan bermain bersama. Anak-anak dengan kisaran umur 3-12 tahun bermunculan dari dalam musholla, menyambut kami yang basah kuyup dengan senyuman khas anak-anak tanpa dosa. Suatu hal yang sangat baru untuk saya. Ada sekitar 23 anak di sana yang siap belajar dan bermain bersama kami. Ini belum keseluruhan dari jumlah adik-adik kita karena sebagian dari mereka sedang mengikuti lomba untuk memperingati Hari Anak Universal di Jakarta.
Setelah beristirahat beberapa menit melepas sejumlah lelah yang terhimpun selama perjalanan, kelas pun dimulai. Namun tiba-tiba listrik mati dan ruangan menjadi sedikit gelap. Setidaknya saya masih dapat melihat wajah-wajah lucu yang sangat bersemangat di hadapan saya. Tak kenal maka tak sayang, perkenalan dimulai dari kakak-kakak pengajar dan dilanjutkan oleh adik-adik kita. Lucu rasanya melihat banyak ekspresi malu-malu saat menyebutkan nama, usia dan hobinya. Banyak dari adik-adik kita yang menyatakan hobinya adalah bermain. Maka dari itu, Kak Rara mengajak adik-adik kita untuk bermain permainan “kwek-kwek”. Hampir tak ada yang terkena hukuman, adik-adik kita memang hebat! “Udah biasa ngangon bebek!” ucap seorang ibu yang menemani anaknya. Kontan saja gelak tawa membuncah pecah di dalam musholla yang sementara dialih fungsikan untuk kegiatan rutin tiap Minggu ini.
Karena sebagian dari adik-adik kita sedang berlomba di Jakarta, maka kelas hari itu disulap menjadi sebuah perlombaan agar mereka semua merasakan hal yang sama. Hal ini juga dapat melatih kepercayaan diri adik-adik kita untuk tampil di muka publik dan bisa mewakili “Sekolah Kita” di perlombaan lainnya nanti. Perlombaan dimulai dengan membagi adik-adik kita ke dalam kelompok perlombaan yang mereka minati: ada menggambar, menyanyi, membaca puisi dan menceritakan pengalaman pribadi yang paling menyenangkan. Kak Rara dan Kak Tiara membagikan kertas untuk adik-adik kita yang memilih untuk menggambar, membaca puisi dan bercerita sedangkan Kak Nuryadi membimbing adik-adik kita yang memilih bernyanyi untuk berlatih di teras mushola. Adik-adik kita diberikan jeda waktu selama tiga puluh menit untuk mempersiapkan karya terbaiknya.
Keadaan musholla beratap anyaman bambu yang bocor karena hujan dan gelap karena mati listrik itu sama sekali tidak menyurutkan kobaran semangat mereka. Pemandangan yang sungguh mengagumkan. Di saat anak-anak kota mengeluh karena AC di kelasnya kurang dingin atau lampu yang tiba-tiba mati lalu mengeluarkan sumpah serapah yang patutnya tidak diucapkan oleh orang-orang berpendidikan, di “Sekolah Kita” saya dapat melihat ketulusan dan semangat anak-anak yang membuat mata saya terbuka. Perilaku anak-anak itu adalah tamparan keras untuk kita. Syukurilah apa yang kita miliki dan manfaatkan itu semua dengan semaksimal mungkin. Maka kita akan menjadi lebih dari apa yang mereka bayangkan.
Ada beberapa kejadian lucu yang saya temukan di sana. Pertama, adik kita yang bernama Topik tiba-tiba berlari masuk dari arah teras membawa secarik kertas yang sebelumnya dibagikan oleh kakak pengajar dan mengembalikan ke Kak Rara lalu kembali berlari ke arah teras. Ekspresinya tak dapat saya gambarkan dengan kata-kata, yang pasti lucu! Kakak-kakak cukup bingung hingga belakangan diketahui bahwa dia tidak mau menggambar melainkan bernyanyi. Kedua, ketika adik-adik sedang mempersiapkan mahakaryanya, tiba-tiba saja ada ayam yang masuk kelas. Kontan saja adik-adik kita berlarian berusaha menangkap ayam tersebut. Menyenangkan sekali melihat canda tawa mereka yang menggemaskan.
Tiga puluh menit berlalu dan saatnya adik-adik kita menampilkan karyanya di depan kelas. Dimulai dari adik-adik kita yang bernyanyi, ada enam orang yang dipasang-pasangkan hingga menjadi tiga pasang. Tiap pasangan wajib memnyanyikan satu lagu wajib nasional dan satu lagu bebas. Dilanjutkan dengan adik-adik kita yang membacakan puisi. Dari tiga orang yang membacakan puisinya, ada satu anak yang menarik perhatian saya. Terlihat jiwa sastra sangat hidup di dirinya, namanya Asri. Saya mengagumi ekspresi adik kita yang satu itu, begitu menghayati. Terakhir, lomba membacakancerita pengalaman pribadi. Dua orang yang mengikuti lomba ini hampir sama dari segi kata-kata, intonasi dan ekspresi. Masih begitu “anak-anak”. Adik-adik yang lomba menggambar hanya mengumpulkan karyanya kepada kakak pengajar. Indah bukan buatan melihat satu demi satu adik-adik kita menampilkan yang terbaik darinya. Kami—saya, Kak Rara, Kak Tiara, Kak Nuryadi, dan Puspa—melakukan voting untuk memilih yang terbaik dari tiap perlombaan yang diadakan hari ini.
Namun sebelum pengumuman pemenang, anak-anak diajak untuk menggali pengetahuan lebih luas lagi tentang binatang-binatang, yaitu unta dan beruang kutub dengan membaca buku bergambar secara bergiliran. Kelihatannya ada yang belum begitu lancar membaca dan teman di sebelahnya dengan senang hati membantu tanpa diminta. Budi pekerti yang sangat baik terlihat dari tiap tindakan mereka. Saya hanya tersenyum melihat itu semua, bangga bahwa masih ada calon generasi penerus bangsa yang memiliki kepribadian seperti adik-adik kita. Ini yang harus dikembangkan, jangan sampai mereka ternodai oleh hal-hal kotor yang dapat menghancurkan negeri sendiri. Saya melihat akan ada calon pemimpin-pemimpin besar di sana.
Hadiah yang diberikan bukanlah uang, bukan piala, ataupun piagam. Hanya makanan ringan untuk tiap pemenang dari tiap perlombaan. Begitu sederhana, tapi begitu indah. Saya hanya berharap jangan ada perubahan dari apa yang mereka miliki. Saya akan kembali ke “Sekolah Kita” dan kembali mempelajari keindahan yang sesungguhnya. Di tengah kesederhanaan yang begitu banyak cinta, dari alam dan isinya. Kembali untuk mendapatkan tamparan-tamparan budi pekerti yang menakjubkan dari malaikat-malaikat kecil calon penerus bangsa.
Bahagia itu sederhana, sesederhana “Sekolah Kita” dan adik-adik kita.

You Might Also Like

2 komentar

  1. Mantab Saudari......
    kunjungi juga ya,,,,
    ikamaruesjakes.blogspot.com

    BalasHapus
  2. terima kasih :)
    bukankah anak muda harus mulai bergerak membangun bangsa? salam hangat :)

    BalasHapus

"Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang lain pandai." - Pramoedya Ananta Toer